Manusia hanya sebagian titik kecil yang bergantung hidup pada semesta-Nya, pada-Nya pula semestinya aku menggantungkan harapan dan mengembalikan rasa yang Ia cipta dalam hatiku. Cinta.
Mendesir pasir meninggalkan jejak keberadaanmu, membekas semua cerita yang kamu beri dalam pantai yang kunamai asmara. Kejujuranmu merasuk palung hatiku jauh tak berdasar. Karena-Nya, kehadiranmu disambut oleh hatiku yang terik dan gersang. Kusebut itu, Anugerah.
Cinta. Anugerah.
Ketika kedua gelombang rasa itu bergejolak memenuhi palung hati, ada masa dimana aku tak mampu menahan hantamannya.
Tak mampu mengendalikannya.
Maka sebagai bagian titik kecil semesta-Nya, pada-Nya lah aku meminta Ia mengolah gemuruh rasa ini, dengan doa-doa yang selalu aku semogakan.
Perihal rasamu, aku tak tahu.
Pemilikmu saja yang tahu lebih dari sekedar aku yang tak tahu isi dalam beranda teristimewamu.
Hatimu.
Terlanjur sudah kutenggelam dalam gelombang rasa; terjerembab jauh merasuk dalam palung hati, aku bisa apa?
Dialah perkara yang tak dapat kamu lihat, yang hanya mampu ku ucap ; Aku Jatuh Cinta.
Semesta, Hati, dan Malaikat-Nya, adalah saksinya.
Bait-bait cinta selalu kusebut kala dawai angin rindu menggemuruh.
Hatiku mengucap perlahan, dalam hening yang mengudara.
Bulirbulir rindu menyembul dikedua sudut mataku, untuk kesekian kalinya hati kecilku menggelayutkan harapan pada-Nya tentangmu yang kini kusebut, Cinta.
Bekasi, 23-12-18
-N.P