Hai, November 2021 sudah memasuki tanggal 7. Cepat sekali tahun ini berlalu, bulan kesebelas yang sebentar lagi akan menuju akhir tahun 2021. Aku masih menjadi diriku yang sama seperti tahun-tahun sebelum nya.
Lika liku perjalanan hidupku begitu banyak menjadi pembelajaran yang setiap kali aku ingat selalu buatku memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam. Sampai terkadang aku berpikir jika boleh mengulang kembali waktu, aku tidak akan memilih kembali kedalam masa-masa itu dan tetap memilih dimasa kini, ditempat aku berdiri sekarang. Hal yang tidak pernah terbayangkan sekalipun akan terjadi dalam hidupku, benar-benar terjadi dan membuatku kadang merasa tidak percaya bahwa hal tersebut benar-benar aku alami. Namun, aku bersyukur mampu melewati semua nya dengan "kewarasan" yang masih ada didalam diriku.
Jika aku tidak melewati proses itu, aku takkan pernah bertemu dia dimasa kini. Iya, dia yang masih kusimpan dalam diam dan selalu kusemogakan dalam setiap doaku dalam-dalam. Padahal aku sudah berkata menyerah beberapa waktu lalu, aku sudah pasrah pada apapun yang kan terjadi dalam hidupku termasuk tentang dia. Tapi, aku malah dipertemukan dengan dia. Bukan lagi dalam mimpi dan lamunanku lagi, tapi secara nyata pada lima november dua hari yang lalu.
Ada rasa yang tak biasa. Aku berusaha menahan nya dengan bersikap biasa saja, namun debaran dalam jantungku tidak bisa diajak bekerja sama. Menceritakan segala tentang sakitku, dan melihat keadaan tangan nya yang memiliki sakit yang sama denganku. Selama aku sakit, percobaan meminum obat setiap hari selama satu bulan lama nya dia selalu mendampingiku tuk bisa melewati nya. Padahal aku sangat membenci yang namanya "obat". Dan rasanya amat sangat memuakkan setiap hari harus meminum obat yang jumlahnya tidak sedikit. Lelah, tapi dia selalu mengingatkan agar aku bisa sembuh.
Aku tahu, dia bukan tipe orang yang bisa selalu bisa membalas pesan dengan cepat jika dia sedang tidak senggang. Aku tahu, dia itu tipe orang cuek dengan mood yang tidak bisa diprediksi. Tapi saat dia tahu aku sakit dan harus meminum obat itu tepat waktu, dia selalu mengingatkan aku lebih dari alarm yang sudah kuatur dalam handphone ku. Dia bahkan tidak lagi aktif dalam facebook nya sejak aku sakit dan benar hingga kini dia masih belum terlihat online sekalipun. Aku tahu, saat dia sakit Agustus lalu dia pernah berucap, saat dia sakit untuk memegang handphone pun tangan nya terasa malas dan hanya ingin tidur saja. Dan aku merasa sangat bersyukur akan semua itu. Hanya dia yang selalu mengingatkan aku bahkan disaat kadang aku lupa, membaca pesan dia jadi buatku kembali menatap jam dilayar komputer kerjaku setiap pagi.
Tak henti-hentinya aku mengucap rasa syukurku setiap kali aku mengingat setiap hal yang telah Allah berikan untukku. Kehadiran dia, jika bukan Allah yang menggerakkan hatinya takkan mungkin dia akan selalu menjadi pengingat disetiap kali aku membutuhkan nya. Pun dengan pertemuanku dengan dia, jika bukan Allah yang menggerakkan hatinya, takkan pernah ada pertemuan itu sekalipun aku memaksakan diri untuk bisa bertemu. Disaat aku berkata "aku menyerah" tapi Allah malah mempertemukan aku dengan dia. Aku tidak tahu isi yang ada dalam hatinya, aku hanya mampu berdoa segala hal yang baik yang ada didalam hatinya. Dan semoga Allah memberikan yang terbaik untukku dan untuknya.
Hingga kini, aku masih merasa seperti mimpi kalau aku benar-benar telah bertemu dengan nya, in person. Pada saat pertemuan itu akan berakhir, ada rasa tak ingin berpisah. Rasanya aku ingin memfreeze waktu agar ia berhenti saat itu. Entah, mengapa rasanya aku selalu ingin ada didekatnya. Rasanya aku ingin tak ada hari esok. Rasanya tidak bisa aku bicarakan, hanya bisa aku rasakan dan dengan jelas debaran dalam jantungku masih berdetak tidak seirama.
Semalam, saat aku berbicara padanya ada sedikit pembahasan tentang pernikahan. Bukan tentang kami, tetapi pendapatnya dan pendapatku perihal jika suatu hari nanti menikah. Aku berkata, jika aku menikah ingin tinggal hanya berdua dengan suamiku meski kami belum memiliki rumah sendiri, yang terpenting tidak tinggal dirumah orang tuaku atau orang tuanya meski hanya tinggal dalam kontrakan. Diapun memiliki pemikiran yang sama, agar rumah tangganya tidak ada yang ikut campur juga. Sebenarnya aku ingin melanjutkan pendapatku tentang pernikahan tapi kapan-kapan saja dibahasnya ya. haha.
Tuhan, terima kasih untuk semua yang telah engkau beri.
Tuhan, terima kasih untuk semua yang telah terjadi.
Semoga, aku bisa lekas sembuh dan sehat kembali. Bahagia dunia akhirat dengan orang yang aku sayangi hingga berada dikehidupan yang abadi.
Bekasi, 7 November 2021.
-N.P






















