Minggu, 07 November 2021

November, 2021.

Hai, November 2021 sudah memasuki tanggal 7. Cepat sekali tahun ini berlalu, bulan kesebelas yang sebentar lagi akan menuju akhir tahun 2021. Aku masih menjadi diriku yang sama seperti tahun-tahun sebelum nya.

Lika liku perjalanan hidupku begitu banyak menjadi pembelajaran yang setiap kali aku ingat selalu buatku memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam. Sampai terkadang aku berpikir jika boleh mengulang kembali waktu, aku tidak akan memilih kembali kedalam masa-masa itu dan tetap memilih dimasa kini, ditempat aku berdiri sekarang. Hal yang tidak pernah terbayangkan sekalipun akan terjadi dalam hidupku, benar-benar terjadi dan membuatku kadang merasa tidak percaya bahwa hal tersebut benar-benar aku alami. Namun, aku bersyukur mampu melewati semua nya dengan "kewarasan" yang masih ada didalam diriku.

Jika aku tidak melewati proses itu, aku takkan pernah bertemu dia dimasa kini. Iya, dia yang masih kusimpan dalam diam dan selalu kusemogakan dalam setiap doaku dalam-dalam. Padahal aku sudah berkata menyerah beberapa waktu lalu, aku sudah pasrah pada apapun yang kan terjadi dalam hidupku termasuk tentang dia. Tapi, aku malah dipertemukan dengan dia. Bukan lagi dalam mimpi dan lamunanku lagi, tapi secara nyata pada lima november dua hari yang lalu.

Ada rasa yang tak biasa. Aku berusaha menahan nya dengan bersikap biasa saja, namun debaran dalam jantungku tidak bisa diajak bekerja sama. Menceritakan segala tentang sakitku, dan melihat keadaan tangan nya yang memiliki sakit yang sama denganku. Selama aku sakit, percobaan meminum obat setiap hari selama satu bulan lama nya dia selalu mendampingiku tuk bisa melewati nya. Padahal aku sangat membenci yang namanya "obat". Dan rasanya amat sangat memuakkan setiap hari harus meminum obat yang jumlahnya tidak sedikit. Lelah, tapi dia selalu mengingatkan agar aku bisa sembuh.

Aku tahu, dia bukan tipe orang yang bisa selalu bisa membalas pesan dengan cepat jika dia sedang tidak senggang. Aku tahu, dia itu tipe orang cuek dengan mood yang tidak bisa diprediksi. Tapi saat dia tahu aku sakit dan harus meminum obat itu tepat waktu, dia selalu mengingatkan aku lebih dari alarm yang sudah kuatur dalam handphone ku. Dia bahkan tidak lagi aktif dalam facebook nya sejak aku sakit dan benar hingga kini dia masih belum terlihat online sekalipun. Aku tahu, saat dia sakit Agustus lalu dia pernah berucap, saat dia sakit untuk memegang handphone pun tangan nya terasa malas dan hanya ingin tidur saja. Dan aku merasa sangat bersyukur akan semua itu. Hanya dia yang selalu mengingatkan aku bahkan disaat kadang aku lupa, membaca pesan dia jadi buatku kembali menatap jam dilayar komputer kerjaku setiap pagi.

Tak henti-hentinya aku mengucap rasa syukurku setiap kali aku mengingat setiap hal yang telah Allah berikan untukku. Kehadiran dia, jika bukan Allah yang menggerakkan hatinya takkan mungkin dia akan selalu menjadi pengingat disetiap kali aku membutuhkan nya. Pun dengan pertemuanku dengan dia, jika bukan Allah yang menggerakkan hatinya, takkan pernah ada pertemuan itu sekalipun aku memaksakan diri untuk bisa bertemu. Disaat aku berkata "aku menyerah" tapi Allah malah mempertemukan aku dengan dia. Aku tidak tahu isi yang ada dalam hatinya, aku hanya mampu berdoa segala hal yang baik yang ada didalam hatinya. Dan semoga Allah memberikan yang terbaik untukku dan untuknya.

Hingga kini, aku masih merasa seperti mimpi kalau aku benar-benar telah bertemu dengan nya, in person. Pada saat pertemuan itu akan berakhir, ada rasa tak ingin berpisah. Rasanya aku ingin memfreeze waktu agar ia berhenti saat itu. Entah, mengapa rasanya aku selalu ingin ada didekatnya. Rasanya aku ingin tak ada hari esok. Rasanya tidak bisa aku bicarakan, hanya bisa aku rasakan dan dengan jelas debaran dalam jantungku masih berdetak tidak seirama.

Semalam, saat aku berbicara padanya ada sedikit pembahasan tentang pernikahan. Bukan tentang kami, tetapi pendapatnya dan pendapatku perihal jika suatu hari nanti menikah. Aku berkata, jika aku menikah ingin tinggal hanya berdua dengan suamiku meski kami belum memiliki rumah sendiri, yang terpenting tidak tinggal dirumah orang tuaku atau orang tuanya meski hanya tinggal dalam kontrakan. Diapun memiliki pemikiran yang sama, agar rumah tangganya tidak ada yang ikut campur juga. Sebenarnya aku ingin melanjutkan pendapatku tentang pernikahan tapi kapan-kapan saja dibahasnya ya. haha.

Tuhan, terima kasih untuk semua yang telah engkau beri.

Tuhan, terima kasih untuk semua yang telah terjadi.

Semoga, aku bisa lekas sembuh dan sehat kembali. Bahagia dunia akhirat dengan orang yang aku sayangi hingga berada dikehidupan yang abadi.


Bekasi, 7 November 2021.

-N.P

Kamis, 21 Oktober 2021

Rindu Rindu Untukmu

Terkadang aku tak mengerti, mengapa bibir ini begitu kelu tuk berucap rindu?

Padahal hati begitu bergemuruh, riuh, dan menggebu.
Semestinya aku bisa tuk sampaikan nya, namun kutahan dan kukatakan saja pada Tuhan.
Rindu-rindu yang menumpuk ini tak tahu lagi harus aku simpan dimana. Dihatiku? Sudah terlalu sesak rasanya.
Kamu tahu, ruang dalam hatiku sudah dipenuhi dengan segala tentangmu.
Hey, jangan sebut aku selalu galau yah?
Tiada lagi caraku menyampaikan segala rasa yang tak mampu aku ucap selain menuliskan nya.
Kamu merasa aku menyebalkan? Atau muak membacanya? please.. maafkan.

Yasudah, biar kedekap saja rindu ini dalam-dalam. Mau kamu tahu atau tidak tahu, rindu ini tetap milikmu.

24.03.21
-N.P

Rabu, 20 Oktober 2021

Terima Kasih. A.S~

February, 14th 2021.

Delapan bulan yang lalu, hal yang tidak pernah gw bayangkan terjadi dalam hidup gw. Hal yang tidak pernah gw pinta, apalagi terpikirkan. Setelah "kembali" hadir dalam hidup gw, dan gw mencoba menerima kembali kedatangan dia dengan tujuan untuk bisa menambah teman, hidup gw berubah. Kehadian dia yang awalnya hanya gw anggap biasa, kini menjadi tidak biasa-biasa saja. Bahkan pernah terpikirkan semua terasa seperti mimpi, meski gw tahu mungkin bagi orang lain itu adalah hal yang biasa saja. Tapi buat gw itu tidak, dia benar-benar ada dalam hidup gw. Rasa sakit sebab merindukan dia suatu hari menjadi bukti nya. Dan pada akhirnya gw benar-benar sudah tidak bisa melawan rasa cinta ini untuk dia dan February 14th itu tepat satu bulan rasa ini ada.

Mengenal dia yang sudah melewati satu tahun pertemanan, gw begitu paham tentang dirinya. Dia sangat mirip dengan gw, sebab banyak kesamaan antara gw dan dia. Hingga hari ini, tepat tanggal 20 Oktober 2021 gw masih berhubungan baik dengan dia, dan artinya sudah sembilan bulan lamanya perasaan ini masih ada dalam hati gw. Sudah selama ini ternyata, dan masih tersimpan rapat dalam ruang hati gw yang tersembunyi sangat dalam. Gw nggak pernah menang melawan logika gw, rasa dan suara hati ini selalu menjadi pemenang nya. Gw nggak pernah tahu kenapa, perasaan ini masih bertahan hingga sekarang. Semakin dalam, rasa sayang yang tidak bisa disalurkan secara langsung untuk dia. Sebab hanya doa yang menjadi sarana untuk bisa menyalurkan gejolak disetiap kali hati ini merintih merasakan segalanya. 

"Hey, disini gw cuma mau mengucapkan terima kasih untuk semua yang telah lo berikan untuk gw. Semua nya terasa begitu berarti buat gw. Meskipun mereka hanyalah hal kecil dan sederhana, Pacil selalu gw jaga hingga saat ini. Makasih ya, makasih banyak."

Setiap hal kecil yang pernah dia berikan baik sebuah perkataan ataupun sesuatu yang bisa gw simpan hingga kini, hanya rasa terima kasih yang bisa gw sampaikan. Sekali lagi, mungkin hal ini biasa saja dimata orang lain, tapi buat gw ini "Bahagia Dari Hal Sederhana" yang pernah gw terima sepanjang hidup gw.

Entah, gw nggak mengerti dengan apa yang harus gw lakukan sekarang. Setiap hari semakin bertumbuh rasa ini, setiap hari selalu memikirkan apa dia baik-baik saja? Setiap hari rasa sayang yang membuncah ini hanya bisa diluapkan dengan berbicara atau memeluk Pacil, dan kadang mengintip dalam sosmed nya apakah dia sedang online atau tidak. Kalau dia online berarti dia sedang baik-baik saja, tapi jika sudah lama tidak nampak kehadirannya berarti dia sedang tidak baik-baik saja dan itu membuat gw  sangat mengkhawatirkan nya. Apakah cinta sebuta itu hingga gw selalu terpaku akan kehadiran nya dalam setiap hari gw? 

"Hey, gw mau post beberapa foto dan mengabadikan nya sebagai kenangan yang mungkin bisa di ingat kembali suatu hari nanti. Terima Kasih sekali lagi gw sampaikan. Selama gw mampu, akan gw jaga anak panda ini baik-baik. Penghuni rumah lo yang sudah delapan bulan pindah kerumah gw."
























Terima Kasih.. A.S.


Bekasi, 20 Oktober 2021.
-N.P


Sabtu, 28 Agustus 2021

Bulan Juli 2021

Hai Juli, 2021.

Bulan terberat yang gw lewati ditahun 2021 ini.

Bulan dimana hati gw di uji dengan ujian perasaan hingga membuat kondisi gw sejak awal bulan ini  benar benar tidak dalam kondisi baik-baik saja.

Gw sadar, setiap kali gw sudah mulai memikirkan seseorang, merindukan orang tersebut hingga buat gw tidak fokus dengan segala kegiatan yang harus di lalui hari itu, begitu menyiksa batin dan raga gw.

Gw nggak tahu, mengapa perasaan gw terasa begitu meletup-letup setiap kali bayangan tentang dia muncul dikepala gw dan sangat menyiksa gw sebab untuk berucap kalau saat itu gw kangen dengan dia itu adalah hal yang tidak mampu gw lakukan.

Padahal rasanya kedua tangan ini ingin mengetik, "lagi apa?" "Gimana hari ini?" "Baik-baik sajakah lo?" Di whatsapp dan menekan tombol kirim saat itu juga, namun gw tahan. Beberapa hari pun tlah berlalu, hingga satu minggu kemudian kondisi gw memang benar-benar drop sekali saat itu orang rumah ada yang sakit, dan saat itu pun gw sudah merasa nggak enak badan. Sakit yang dilalui orang rumah menunjukkan gejala ke covid dan gw curiga dengan sangat bahwa orang rumah gw itu positif.

Demam pun datang menghampiri gw sejak jumat malam 9 Juli 2021, hanya dengan minum obat seadanya gw lewati masa-masa demam itu selama 3 hari namun kondisi masih tetap sama. Dihari ke empat tepat tanggal 12 Juli, dengan melihat kondisi orang rumah yang walaupun sudah tidak sakit namun mengabarkan kalau inda penciuman hilang dan demam yang ada dibadan gw belum hilang juga, gw teringat tentang pengalaman "Dia" yang pernah terpapar covid 19 ditahun 2020 lalu maka gw memberanikan diri untuk bertanya tentang pengalaman dia dulu.

Dan akhirnya, gw yang selama ini menahan diri untuk nggak whatsapp dia sejak awal bulan, memberanikan diri untuk bertanya sekaligus memang sangat ingin tahu kabarnya apakah dia baik-baik saja selama ini. Rindu sedikit terobati. Rasa cemas, gelisah, luruh seketika. Dan gw yang masih dalam kondisi belum pulih pun merasa deg-degan dengan berbagai macam perasaan yang bergemuruh di dalam dada. Rindu. Gelisah. Cemas. Khawatir. Setiap kali gw merasakan itu semua, gw hanya mampu menahannya sendirian. Namun kali ini, benar-benar buat kondisi gw menjadi "sakit", dan benarlah kali ini gw sakit.

Setiap malam tidur gw tidak pernah nyenyak. Pun ketika setelah memberanikan diri whatsapp Dia duluan dan bertanya perihal tentang sakitnya dulu, sore hari Senin 12 Juli itu, gw berobat ke klinik untuk memastikan apakah gw terpapar covid dengan swab antigen. Tak lama menunggu, hasil swab pun keluar. Kecurigaan gw benar adanya, gw positif terpapar covid 19. Seketika otak dan badan berjalan tidak seharusnya. Lupa jalan pulang kerumah sebab berangkat ke klinik pun gw sendirian. Malamnya, dia menjadi orang pertama yang gw kabari. Masih tidak nyenyak tidur gw malam itu, seperti mimpi, semua terasa seperti mimpi buat gw.

Gw nggak tahu bagaimana 14 hari yang harus gw lalui saat itu jika tanpa komunikasi dengan dia dan teman dekat gw yang lain nya. Dia sangat gw butuhkan dalam hidup gw. Iya gw sangat butuh dia bahkan saat ini, saat gw menulis ini satu bulan kemudian setelah gw dinyatakan negatif pada swab kedua tanggal 26 Juli lalu.

Malam ini, tanggal 28 Agustus 2021 begitu sangat ingin menuliskan tentang semua pengalaman saat di nyatakan positif covid 19 dan ingin memberitahukan bahwa diri ini sangat berterima kasih atas perhatian yang Dia berikan saat gw melewati masa terberat itu. Sungguh gw nggak tahu apa jadinya jika tanpa Dia. Tak tahu.

Di... makasih ya.

Makasih banyak...  

Makasih Di...

Andai aja lo bisa baca tulisan gw ini. Hihi..


28.08.21

-N.P

Sabtu, 26 Juni 2021

Dari Aku. Untuk Aku.

Duhai "Aku".


Terima kasih sebab kamu selalu menjadi orang yang dan selalu berusaha sabar.


Terima kasih kamu mampu bertahan meski hatimu sebenarnya rapuh dan hidupmu terasa runtuh namun hatimu tetap tangguh.


Terima kasih kamu selalu mengalah dan selalu menahan amarah meski kamu sebenarnya berhak untuk bisa membalas orang-orang yang telah menyakitimu begitu dalam.


Terima kasih untuk tidak menyerah dalam keadaan apapun hingga air matamu tak sanggup lagi untuk menetes.


Terima kasih kamu adalah "Aku" yang akan selalu menjadi dirimu yang dulu, sekarang, dan nanti.


Kamu harus tahu bahwa, Sinar yang terpancar dalam ketulusan hati penuh dengan rasa sabar, takkan pernah padam meski dihantam bertubi-tubi pesakitan!


Dari "Aku". Untuk "Aku".


19.02.21
-N.P

Rabu, 26 Mei 2021

Ketetapan Terindah

Cinta sederhana dari seorang wanita sederhana.
Ya Allah, jagalah cinta yang suci ini dengan caraMu.
Cinta untuk seorang lelaki sederhana yang sama denganku, yang memiliki sifat yang tidak jauh beda denganku.
Ya Allah, jagalah hatiku selama aku merasakan fitrah cinta dariMu untuk dia.
Ya Allah, jagalah kehormatanku sebagai wanita yang hanya mampu merasakan cinta dalam diamku.
Betapa indah rasa yang engkau beri dalam hatiku ini. Tentang dia, semua ketetapan terindah sepertinya teesemat untuk dia yang selama satu tahun ini baru hadir dalam hidupku.
Aku pernah mengabaikannya, aku pernah menghindarinya. Namun kembali engkau ijinkan dia kembali menghampiriku. Meski aku tahu, dia hanya mencoba menyapaku saja pada awalnya. Dan aku pun hanya mencoba untuk berteman dengannya.
Iya, kami sama-sama kembali dipertemukan dengan kata "coba" yang pada akhirnya aku seperti terjembab dalam kata coba tersebut. Tidak pernah membayangkan. Semua sudah menjadi jalan dari-Nya, dan aku menerima dengan menjadikan dia sebagai ketetapan terindah dalam hidupku.

Hey, bagaimana rasanya menjadi ketetapan terindah dalam hidupku? Sepanjang perjalanan pulang kantor hari ini, aku memikirkan betapa segala rasa yang kurasa dalam hatiku, rasanya begitu indah.
Semua tentangmu, indah.
Kamu tahu, bahkan rindu yang paling pilu pun aku tetap merasakan adanya keindahan disana. Pejamkan mata, diam dan nikmatinya perlahan.
Rindu ini pilu, namun tetap terasa indah.
Cinta ini sulit, namun tetap terasa indah.
Sedih ini menyakitkan, namun tetap indah.
Kunikmatinya dalam diamku, memeluk perlahan segala rasa itu, lalu kutersenyum dan lagi-lagi terasa indah.
Sebab karena itulah, segala hal yang terjadi satu tahun belakangan ini kukatakan ketetapan terindah dalam hidupku.
Aku tidak ingin menyalahkan Tuhan jika hingga saat ini, kita masih sama-sama diam. Sebab aku yakin, jika kita memang di ijinkan untuk bisa bertemu dan mengenal lebih jauh, kita pasti akan dipertemukan diwaktu yang tepat dan dengan keadaan terbaik kita.
Aku pun yakin, jika kamu memang untukku, kamu tidak akan terlewatkan datang dalam hidupku. Pun sebaliknya. Aku percaya itu. Sebab sebelumnya kamu hadir, kuabaikan, lalu hadir kembali. Semua sudah menjadi ketetapanNya.
Semoga segala yang terbaik, menjadi akhir dalam kisah kita.


Bekasi, 29 April 2021.
-N.P

Minggu, 21 Maret 2021

Terima Kasih Di...

Dear Di..

Hari ini gw pengen banget rasanya bilang sama lo tentang segala rasa yang berkecamuk dalam hati gw.
Gw pengen bilang makasih atas semua waktu yang sudah lo berikan untuk gw. Meski semua itu diberikan melalui pesan di whatsapp ataupun telepon.

Di.. gw selalu bertanya sama lo berkali-kali, gw ini aneh ya? Dan lo selalu jawab nggak, karena gw bertanya sama lo yang sama aneh nya dengan gw. Di, gw nggak tahu harus bagaimana dengan perasaan gw yang sudah dua bulan ini menjadi penghuni diruang kosong hati gw. Kemarin, jumat tanggal 19 Maret 2021 saat lo bilang "Gw deket sama admin disini.", duh rasanya gw mau marah tapi gw nggak bisa sebab gw sadar klo gw bukan siapa-siapa lo. Perasaan yang nggak gw bayangkan tiba juga akhirnya, gw cemburu.

Di.. hari sebelumnya kamis 18 Maret 2021 gw bercerita tentang mimpi gw tentang lo. Lo mau pergi Di, keluar kota dan merantau kesana untuk bekerja. Dalam mimpi gw itu, saat lo pamit mau pergi; gw menyusul lo. Gw mencari lo ada dimana. Dan akhirnya gw menemukan lo, gw melihat lo dari kejauhan namun belum sempat gw menemui lo disana, gw terbangun dari mimpi gw. Dan rasanya itu pengap, sesak..

Lalu gw cerita sama lo pagi itu juga, hingga pada akhirnya lo cerita juga perihal Irwan yang pernah mengajak lo untuk kerja bareng bersama dia. Dan mungkin benar suatu saat nanti lo bisa beneran ikut dia merantau keluar kota bersama dia. Gw langsung down saat itu juga. Sedih. Dan takut semua itu kan benar terjadi Di.. Gw takut kehilangan lo. Tapi gw ga berani bilang semua itu, hanya bisa merespon dengan kalimat nggak apa-apa. Padahal sebenarnya gw ingin sekali bilang jangan, tapi sekali lagi apa hak gw untuk melarang keputusan lo? So sad Di.. gw nggak bisa berbuat apa-apa.

Malamnya, lo mencoba untuk menghubungi gw lagi. Namun karena pikiran gw saat itu sedang sedih sebab takut kehilangan lo, gw nggak pegang hp hingga tengah malam. Membaca pesan whatsapp lo, gw merasa lo ingin berbicara dengan gw perihal kemungkinan hal itu bisa saja terjadi. Namun karena balasan gw terlambat, lo membalas pesan gw itu dipagi hari. Berkata gpp, namun gw tahu dibalik kata gpp itu ada kalimat yang begitu ingin di ungkap. Dan benar saja, lo menjelaskan alasan keluar kota tsb. Di, malam itu gw bermimpi lagi tentang lo. Lo seperti tidak baik-baik saja, dan gw ceritakan kembali perihal mimpi gw semalam.

Di.. gw amat sangat mengerti keadaan lo saat ini. Mencari pekerjaan tidak mudah. Disatu sisi, pikiran gw berkata klo lo takut gw menuntut banyak dari lo sementara keadaan lo masih belum bisa dikatakan cukup namun tidak bisa lo utarakan ke gw. Gw paham Di tentang semua itu, dan gw pun bilang dan akan selalu bilang klo gw nggak minta apa-apa dari lo. Itukah sebabnya lo belum mau mengajak gw bertemu? Ada ketidaknyamanan disana. Sesuatu yang belum pernah lo utarakan ke gw, dengan perasaan yakin gw paham tentang segalanya. Karena lo sama gw itu sebelas-dua belas, SAMA !

Di.. lo masih bingung ya tujuan hidup lo itu apa. Gw pun sama Di, masih selalu berfikir "sebenarnya hidup gw itu gimana.. mau kemana.. buat apa." Makanya gw selalu meminta sama Allah agar Ia yang mengatur hidup gw sebagaimana terserah Ia. Gw nggak bisa maksa lo biar punya perasaan yang sama kayak gw, gw nggak bisa maksa Allah. Sedikasihnya saja. Pasrah dan berserah. Sebab perihal perasaan gw ke lo pun tak pernah gw pinta dan bayangkan klo dua bulan lalu gw bisa jatuh cinta sama lo. Dari awal kenal, sempat menghindari, lupa, biasa aja hingga hari dimana gw sedang tidak baik-baik saja lo datang lagi menyapa gw, ditanggal 16 Agustus 2020.

Di.. gw selalu berdoa agar lo bisa mendapatkan apa yang lo perjuangkan. Pekerjaan, kartu prakerja yang masih belum lolos, kebahagiaan lo, kesempatan buat lo untuk bisa selalu diberikan segala yang terbaik, nikmat yang tiada terputus, perlindungan, dan lain nya.

Di... makasih ya. Makasih atas segala hal aneh yang lo berikan buat gw. Pacil... mawar merah.. coklat berbagai macam. Bahkan ikan cupang halfmoon kesukaan gw. Hal yang tidak pernah gw bayangkan sekalipun apalagi gw pinta, sudah lo berikan buat gw. Dan dengan usaha yang benar benar dari seorang Ardi yang selalu sibuk dan super cuek untuk gw, mencari box untuk penempatan coklat dan boneka panda nya. Tahu nggak si Di, gimana perasaan gw saat itu? Bahagia hingga meneteskan air mata. Sesimple itu namun rasanya lebih dari kata simple itu sendiri. Gw amat sangat menghargai pemberian dari lo itu. Ga menilai dari sebuah angka, tapi ketulusan dan niat dan keanehan dari lo amat sangat bermakna dan berharga. Pacil, selalu menemani malam-malam gw Di. Sesayang itu sama si Pacil. Bahkan kadang gw befikir, kok gw bisa sampe segitunya hanya dengan sebuah boneka kecil ini? Tapi saat gw inget dari siapa boneka tersebut diberikan, rasanya seneng banget Di.

Ini pemberian pertama yang lo kasih ke seorang perempuan ya Di? Buat gw pun ini pemberian pertama yang gw terima dari seorang laki-laki. Apalagi mawar merah, selama gw hidup hingga 28 tahun ini belum pernah ada yang memberikan apa-apa ke gw Di. Hehe, peka banget lo sampe bilang bahwa gw pun baru bertama kali mendapatkan hal tersebut dari orang. Sama-sama yang pertama. Di, gw teringat kata-kata lo klo gw "Mencari Perhatian" ya? Agak sebal dan tersinggung membacanya. Namun itu faktanya. Gw gelisah Di saat gw punya segudang perasaan yang nggak bisa gw share ke lo. Tentang rindu. Ingin bisa denger suara lo. Ingin selalu tahu tentang lo bagaimana kabarnya. Ingin diperhatikan oleh lo. Iya, gw butuh perhatian Di. Perhatian tulus yang tidak gw pinta. Perhatian disaat gw sakit, namun gw sendirian nggak punya siapa-siapa dan nggak bisa minta tolong sama siapapun. Dan itu rasanya menyesakkan Di.

Saat itu gw tersadar Di, gw butuh seseorang yang benar-benar tulus perhatian sama gw. Sebab dikondisi terburuk gw, gw nggak punya siapa-siapa untuk merawat gw. Saat gw lemah tak berdaya, gw butuh orang yang bisa menjaga gw Di. Orang tua tak selalu ada. Dan gw cemas saat itu. Tapi tak apa, semua perkataan lo memang benar. Gw mencari perhatian dan itu untuk mendapatkan perhatian lo juga. Namun gw sadar, perhatian kan nggak bisa diminta ya? Dia datang dari hati nurani lo sendiri. Hehe. Maaf ya Di, klo gw masih suka caper sama lo. Tapi percayalah, tidak semua yang gw tuliskan atau share itu bertujuan untuk mencari perhatian lo ya.

Di.. takkan pernah gw berhenti untuk mengucapkan terima kasih. Terima kasih untuk kesamaan yang ada dalam diri kita. Terima kasih untuk pemahaman tentang diri gw ini. Terima kasih pernah salam paham mengira gw akan pergi, namun nyatanya tidak dan dari situ gw tahu bahwa lo nggak ingin gw pergi dan lo menyukai karakter dalam diri gw yang aneh ini. Terima kasih untuk ada disaat gw down november 2020 lalu dimana ketika gw nggak menahan sendirian perasaan sedih gw itu namun gw sharing ke lo. Dan lo selalu berusaha untuk membuat perasaan gw agar bisa membaik lagi. Terima kasih atas perhatian tulus lo 13 Januari 2021 waktu itu, yang membuat degupan dijantung gw berdebar hingga meneteskan ait mata. Terima kasih atas mawar merahnya. Terima kasih memgirimkan Pacil buat gw. Terima kasih semua snack coklat yang hingga detik ini, belum semuanya habis gw makan. Terima kasih telah menepati janji ingin memberikan Halfmoon dan benar ditepati walau tidak pernah gw harapkan janji itu akan ditepati. Terima kasih sudah datang dalam hidup gw. Terima kasih Di.

Kokorokara Aishiteru Di. ❤

21.03.21
-np

Kamis, 11 Maret 2021

Pintu Hatiku Dan Hatimu

Kali kedua aku tersedu.
Betapa rasa sakit ini menyadarkanku bahwa apa yang kurasa, ini nyata adanya.
Kamu memang benar-benar ada.
Kamu menjadi bagian dari cerita hidupku dan telah menyusup ruang dihatiku.
Ruang yang selama ini aku kunci rapat, aku jaga ketat.
Aku membiarkanmu membuka pintunya, menempati ruang kosong gulita itu. Kamu mematik api, menyalakan lilin dan memberikan cahaya didalam nya. Menghangatkan sekeliling nya. Menyirami lahan gersang dalam beranda hatiku. Dan hatiku menerimamu dengan terbuka.

Kamu tahu air mataku tak mampu aku tahan kala aku memikirkanmu hari ini.
Setelah perbincangan dalam whatsapp semalam yang baru kamu balas pagi ini.
Aku berusaha kuat, sok kuat lebih tepatnya.
Tetapi lagi dan lagi, air mata ini menyadarkanku betapa aku telah menyayangimu sedalam itu.
Ada rasa yang tak ingin aku ungkap. Padahal hati ingin bercakap denganmu meski tuk sesaat.
Aku tidak meminta apa-apa darimu.
Aku mohon jangan pikirkan hal-hal yang membuatmu bingung dan menjadi pusing sebab karena aku.
Aku sadar akan rasaku, dan tidak bisa memaksamu agar bisa memiliki rasa yang sama terhadapku.
Dan aku mengerti betul kondisimu saat ini.
Sekali lagi, aku tidak meminta apa-apa darimu dan aku mohon jangan pernah berfikiran aku akan menuntutmu dengan banyak hal. Tak pernah terpikirkan sedikitpun dibenakku untuk menuntutmu dengan banyak hal. Tidak Di..

Aku tahu, saat ini kau masih belum mengijinkan aku mengunjungi ruang teristimewa milikmu.
Kamu masih bergulat dengan kebingungan, apa yang harus kamu lakukan dengan hatimu dan hidupmu.
Tuk mengijinkan aku tinggal didalamnya dengan pintu terbuka, ataukah kamu membuka sedikit pintu itu namun belum memintaku untuk memasuki nya.
Aku masih berdiri didepan pintu itu. Ingin mengetuk nya dan bisa mengetahui apa isi didalam nya.
Namun tak bisa aku memaksa. Tak bisa aku mendobrak nya untuk memaksa masuk.

Aku berdoa, meminta pada-Nya agar Ia bisa mengetuk pintu hatimu dan membukakan nya.
Aku berdoa, memohon pada-Nya segala kelembutan dapat meluluh lantakkan kebingungan yang menyelimuti keraguanmu.
Aku berdoa, semoga Ia mengabulkan segala doaku dan menyerahkan segala harapku kepada-Nya.
Aku berdoa, jika kamu adalah seseorang yang selama ini aku butuhkan, aku meminta yang terbaik dari-Nya.
Biar Ia yang mengatur dengan cara-Nya.
Aku berdoa, semoga kamu dan aku bisa sama-sama diberi bahagia pada akhirnya.


Bekasi, 11 Maret 2021.
-N.P

Minggu, 14 Februari 2021

Jangan Pergi

Pernahkah kalian meminta kepada seseorang untuk tetap tinggal disisimu?

Kalau iya, bolehkah aku meminta seperti itu juga kepada dia?

Seseorang yang kehadiran nya dulu pernah aku hindari namun Tuhan kembali mempertemukan aku dengan dia, dan kali ini aku tidak bisa menghindari nya lagi.

Awalnya, sebab aku menghindari dia pertama kali adalah aku sedang menata hatiku yang tengah terluka. Pada saat itu aku enggan mengenal orang baru, hatiku merasa lelah karena melewati fase yang sama dan selalu berakhir terluka sebab aku selalu mencintai sendirian. Kenal, dekat, kemudia ada rasa, lalu selalu berakhir terluka. Itulah yang membuatku sangat lelah. Dan aku butuh waktu untuk bisa menata hatiku kembali agar bisa menerima orang baru.

Disaat aku mau membuka diri lagi, disaat itulah dia kembali datang lagi untuk menyapa. Aku berkata kepada diriku, "Tidak apa-apalah Rull coba memperbanyak teman. Banyak teman, banyak pengalaman. dan bisa menambah silaturahmi juga. Banyak teman lebih baik dibanding banyak musuh bukan?".

Seiring berjalan nya waktu, aku mengenal dia, mengetahui sifatnya walau belum sepenuhnya. Secara garis besar dia sama denganku. Kami menyukai genre film yang sama, kami sama-sama sensitif dan melankolis, sama-sama aneh, sama-sama lebih suka mendengarkan dibanding bercerita, sama-sama suka tidur diwaktu luang saat jam istirahat waktu bekerja dibandingkan bercerita kepada kawan sekantor, sama-sama moody-an, hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.

Mengenal dia, aku suka. Sebab dengan dia, aku merasa nyaman. Aku merasa "ada". Aku merasa selama ini hal yang tidak pernah aku temukan diorang lain, aku menemukan nya dalam dirinya. Aku yang aneh ini, yang selalu merasa negatif thinking, saat mengenal dia, dia selalu berusaha membuatku menjadi positif person. Aku bisa menceritakan segalanya kepada dia. Kelelahanku saat bekerja, yang selama ini aku rasakan sendiri, bisa aku curahkan kepada dia.

Hingga pada akhirnya, ada rasa tak biasa dalam hati ini. Ketika merasakan ketulusan yang dia berikan untukku walau hanya sebatas perhatian yang orang lain akan menganggap ini biasa. Tapi bagiku, ketika aku merasakan kalimat yang dia tuliskan untukku hingga membuat air mataku mengalir, dan aku mendengar degupan dalam dadaku begitu jelas, disaat itulah aku sadar, aku telah memiliki rasa terhadapnya. Aku Jatuh Cinta pada dia.

Tuhan, bolehkan aku meminta agar dia yang menjagaku selama sisa hidupku.

Tuhan, ijinkanlah aku untuk bisa mengenalnya lebih jauh lagi.

Tuhan, aku sayang dia.... 

Tuhan, dialah lelaki yang selama ini aku butuhkan. Bolehkah aku terus dekat dengannya, dan berikanlah keridha an Mu untukku.

Tuhan, engkaulah pemilik dia, aku hanya bisa meminta kepadamu... Selainmu, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya engkaulah yang mampu menggerakkan hati nya, sisipkanlah cinta dalam hatinya untukku.

Tuhan, jaga dia... aku rindu padanya.


"Dear Di, bolehkah aku meminta agar kamu tetap disini. Disisiku, dan jangan pergi..?"


Hujan di Febuari, 14. 2021.

-N.P

Minggu, 31 Januari 2021

Percakapan Tengah Malam

Denting jarum jam yang bedetak.
Suara kodok mengalun tak kenal lelah.
Heningnya malam... gigil yang semakin menusuk dipetengahan malam.
Disana, dia bersandar pada keheningan mendengarkan cerita anehku yang kesepersekian.
Disini, aku menatap langit-langit kamar gulitaku dan bercerita lalu banyak bertanya dengan penuh tanya tentang keanehan yang sama-sama kami miliki.
Tidak ada yang lebih menyenangkan saat menetertawakan dia di percakapan tengah malam itu. Hahaha...
Masih teringat jelas perihal penyebutan kebun disebelah rumah dan dendangan suara kodok yang membersamai.
Lucu.
Segala macam topik telah diperbincangkan.
Sebentar hening... sebentar mencari, apakah disana matanya masih terjaga.
"Hey..."
"Hey..." jawabnya. Dia masih terjaga.

Sebenarnya aku lebih suka mendengarkan, lebih suka menerima cerita dibanding harus bercerita. Sebab dengar mendengarkan teman-temanku bercerita, aku bisa mendapatkan pelajaran sekaligus bisa memberikan pendapat yang mungkin bisa sedikit menenangkan hati mereka diwaktu yang bersamaan.
Tapi kali ini, aku banyak bicara.
Dalam percakapan tengah malam yang tanpa direncanakan, aku menjadi belajar berbicara dengan cara terbaikku untuk bisa menyampaikan apa yang ingin aku utarakan.
Kehidupan sehari-hariku, film favoriteku, hal yang aku sukai dan tidak aku sukai, bahkan hal remeh temeh lain nya yang aku ceritakan dengan nya.
Dia memahami aku.
Dan aku pun bisa memaham dia.
Aku bertanya pada dia, "Aku aneh ya?".
Dia pun menjawab, "Aku juga aneh. Kita sama-sama aneh".
Pecakapan tengah malam itu berakhir tiga jam kemudian. Dia menghabiskan waktu dan menahan kantuk untuk bisa mendengar dan bercerita denganku.
Mungkin jika percakapan itu berakhir sedikit lebih lama, kami masih akan berbicara hal absurd lain nya.
Dan kalimat terakhir yang aku dengar dalam penutupan percakapan itu adalah "Dadah..." suara yang dikeluarkannya dengan berbisik.

Akhir Januari, 31.01.21
-N.P

Rabu, 27 Januari 2021

Dear Di~

Dear Di, 

Hari ini tanggal 26 Januari 2021 saat perjalanan gw menuju kantor, bayangan tentang lo berlalu lalang dalam kepala gw. Suara lo, buat gw terngiang-ngiang. Percakapan semalam sejak pukul 22.06 yang berakhir tepat ditengah malam masih terekam jelas. Gw nggak tahu kenapa hal tersebut bisa terjadi dimana semestinya gw harus bisa untuk tidak merasakan debaran - debaran ini. Yang tidak pernah gw pinta, yang tidak pernah gw harapkan. Sebelum semakin dalam, sebelum gw terjerembab dalam perasaan itu sendirian. Dan semua itu belum lama terjadi dari waktu awal gw mengenal lo. Sebelumnya gw masih merasa biasa saja, senyum - senyum namun tanpa debaran saat membaca ataupun membalas pesan dari lo. Hal yang pada umumnya terjadi.

Bahkan ketika lo berkomentar dalam tulisan yang gw post beberapa saat lalu : "Apa si, salah gw nggak balas semalem ini ceritanya? ya nanti di balas sampe kelar deh. Galau mulu nggak di omongin sini, nebak lagi kan gw." yang dikirimkan pada jam 22.28 10 Januari 2021 lalu.. Tak lama kemudian, lo kembali mengirimkan pesan : "Gw ngechat cewe cuma lu doank, nggak ada yang lain.. Gw cuek ya, keliatan begitu ?" Dikirim jam 22.32 dan karena belum ada balasan dari gw, lo mengirimkan pesan lagi di jam 22.52 dua puluh menit setelah pesan kedua dikirimkan : "Ngambek ni ceritanya." Dengan emoticon tertawa lo mengirimkan pesan itu. Bukan hanya melalui pesan messenger facebook saja tapi via whatsapp pun lo mengirimkan pesan yang berusaha menjelaskan tentang ketidakhadiran orang lain atau lebih tepatnya teman perempuan yang sedang dekat dengan lo. Perasaan gw saat itu sangat tersentuh namun belum ada debaran-debaran dihati gw. Dan gw pun menjelaskan perihal rasa yang tidak bisa dipaksakan meskipun pada akhirnya mungkin gw bisa jatuh cinta lagi pada entah siapa, mungkin lo ataupun orang lain nantinya. Seperti yang lo sudah tahu klo gw ini bisa melakukan hal yang tidak bisa ditebak saat gw sudah nekat untuk bisa melakukan hal yang gw bilang "Kalau bukan sekarang, kapan lagi."...

Tapi, semua itu berubah kini.

Tanpa gw pinta, debaran itu telah terjadi. Dan gw benar-benar merasakan dan bisa mendengar degupan jantung ini sama seperti ketika selesai berlari. Begitu terasa dan terdengar jelas. Kapan tepatnya semua itu terjadi? Dalam percakapan inilah debaran dan air mata ini bersatu, membaca pesan ini melelehkan bulir bulir dimata gw.



Percaya nggak sama perasaan gw saat itu? Percaya nggak dengan apa yang gw tulisan perihal semua yang tlah terjadi sejak awal perkenalan gw dengan lo?

Dear Di..

Sejak tanggal 13 itu, gw membiarkan perasaan itu berjalan dengan sendirinya. Meski tanpa gw pinta, pada akhirnya dia datang juga, dan dia memilih lo sebagai orang teristimewa yang telah membangunkan degupan dalam hati gw. Yang selama ini gw jaga dengan erat agar hati gw ini tidak kembali merasakan patah sebab selalu mencintai sendirian. Runtuh sudah pertahanan dalam hati gw sebab air mata ketulusan yang gw rasakan saat itu.

Di, gw nggak bisa menolak ketika perasaan ini telah terlanjur ada dalam hati gw. Gw juga nggak bisa memaksa lo agar bisa merasakan hal yang sama. Lalu gw harus apa? Gw bisa apa ketika Tuhan telah memberikan anugrah terindah untuk setiap hambanya, Cinta.. Perasaan ini, sudah amat sangat gw dekap erat-erat agar tidak ada lagi luka yang terasa seperti sebelumnya pernah gw rasa. Padahal gw belum kenal betul dengan sebenar - benarnya diri lo. Ketemu aja belum pernah, tapi sudah diberikan debaran dalam hati ini tanpa dipinta.

Hingga pada akhirnya gw seperti terbangun dari mimpi panjang gw selama ini. Ketika gw membaca kalimat yang pernah lo ucapkan pertama kali untuk tidak menunggu lo dan coba membuka hati gw untuk yang lain. Perasaan gw saat itu masih bisa merespon dengan diselingi tawa kecil. Lucu.. debaran yang belum terasa, dan kedekatan yang masih terasa manis. Tapi saat kalimat tersebut dikirimkan kembali untuk kali kedua, ada rasa nyeri didada dan air mata ini tak dapat gw cegah untuk nggak berjatuhan. Dan disaat itu pula lah gw sadar, gw seperti terbangun dari mimpi panjang gw selama ini... terciptalah kalimat seperti yang gw tuliskan dibawah :

"Hari ini engkau menyadarkanku, bahwa hal yang selama ini aku anggap ada ternyata tidaklah ada.

Aku bermimpi.

Bertemu dengan dia yang selama ini aku kira nyata.

Lalu aku terbangun dari mimpiku selama ini.

Aku tak tahu, jika semua itu hanyalah mimpi, mengapa rasanya bisa sesakit ini?

Dadaku terasa sesak.

Bulir dimataku berjatuhan bersamaan dengan sesak yang kurasa.

Jadi sebenarnya, inikah kenyataan ataukah mimpi yang selama ini mengurungku hingga terjebak disana terlalu lama?

Hingga menganggap dia benar-benar ada."

23.01.21

Dan gw tidak membalas pesan itu sebab rasa pedih nya masih amat sangat gw rasa. Disaat gw sadar gw nggak bisa mengendalikan debaran sebab tlah jatuh cinta pada lo, disaat itu pula gw harus menerima kenyataan bahwa lo memang masih biasa saja terhadap gw, dan gw pun nggak tahu bagaimana isi hati lo yang sesungguhnya. Meski lo pernah memberitahukan ke gw, bahwa hanya gw yang saat ini perempuan satu-satunya berkomunikasi sama lo.

Dear Di,

Gw paham betul maksud lo mengirimkan kalimat itu lagi. Tapi ketika lo berkata "Jangan tunggu gw. Buka hati lo untuk yang lain. Gw masih asik sendiri." Itu menyadarkan gw betapa sakitnya, dan terasa begitu sesak, mengetahui bahwa mungkin gw akan kembali mengalami hal yang selama ini gw takutkan, cinta sendirian. Terulang kembali? duh nggak mau lagi!

Di, disaat lo meminta gw untuk memilih, gw nggak bisa memilih karena memang nggak ada yang bisa untuk dipilih. Karena gw masih sendiri dan nggak ada orang lain yang saat ini mendekati gw atau gw dekati. Jadi gw nggak bisa memilih...

Di...

Hanya gw kan yang manggil lo dengan sebutan ini. Di..



Di.. saat gw berkata klo gw bilang klo gw baik-baik saja saat lo bertanya keadaan gw, sebenarnya gw nggak baik-baik saja di. Tapi gw berusaha untuk baik-baik saja demi menenangkan lo. Demi agar lo nggak memikirkan gw. Krn gw nggak mau membebankan orang lain. Di, pernah nggak sih terbersit sedikit saja tentang gw dikepala lo? Hehe... begitu ingin tahunya gw tapi hanya mampu bertanya dalam tulisan ini. Di, jangan paksa gw untuk bisa membuka hati untuk orang lain yang jelas jelas tidak ada keberadaan nya ya, biar waktu dan campur tangan Tuhan saja yang mengatur. Dan untuk saat ini, gw akan belajar menahan perasaan gw agar tidak semakin dalam. Gw akan belajar menjaganya lebih erat lagi, biar kalau gw terluka rasanya nggak terlalu sakit. Gw ini cengeng Di, kalau berurusan dengan orang yang gw sayang. Hati gw lemah, bisa dengan mudahnya air mata ini mengalir jika berurusan dengan hal yang berarti dalam hidup gw. Gw nggak minta lo untuk percaya Di, gw cuma mau sharing aja...

Dear Di,

Nggak terasa loh gw menuliskan semua ini sejak dari berangkat ngantor sampai sudah pulang kantor dan waktu telah menujukkan pukul 19.38, begitu ingin nya gw menyampaikan semua perasaan gw ke lo meski lo nggak membaca tulisan ini. Hehe.. aneh ya gw, yang penting gw sudah menyalurkan semuanya disini. Mau lo baca atau nggak, bukan tujuan utama gw. Di, terkadang gw merasa bahwa lo benar - benar ada buat gw, sebab dari awal gw kenal lo dulu, lo nggak pernah berbuat seperti yang akhir - akhir ini lo lakukan. Apa karena kita sama-sama tahu bahwa kita itu tipe orang yang sama? Sama-sama sensitif, melankolis, memiliki pengalaman yang sama? Semenjak cerita kita berdua saling diutarakan, lo jadi lebih terasa "ada" dibandingkan dulu yang selalu terlihat sibuk, sama seperti beranda dalam whatsapp lo yang menuliskan "ada tapi sibuk". Biasanya nggak pernah bales chat cepet, tapi kini bisa dibalas cepat. Bagaimana Di klo tiba-tiba nanti gw menghilang dari hidup lo? Apa lo bakal kangen sama gw? Apa lo bakal teringat terus tentang gw? Banyak yah pertanyaan gw ini yang nggak akan bisa lo jawab, sebab gw bertanya pada layar handphone gw bukan bertanya langsung sama lo. Seperti berbicara sendiri, dan terasa agak melegakan karena iya gw berani menuliskan semua ini...

Di... udah ah gw capek mau menuliskan banyak pertanyaan lainnya. Gw bermimpi bisa bertemu lo, setelah gw bangun, ternyata lo memang tidak ada didalam mimpi gw maupun dunia nyata gw. Di, gw nggak mengharapkan apa-apa dari lo, sebab gw sadar berharap sama manusia tuh nggak enak! Gw berharap sama Tuhan yang terbaik untuk hidup gw dengan berpasrah bagaimana caranya Ia mengatur hidup gw dengan semestinya.

Dear Di, sehat terus ya. Semoga bahagia selalu mengiringi disetiap lo melangkah. Semoga Tuhan membukakan pintu rejeki yang paling luas pada pintu-pintu yang ada di bumi dan di langit dan memerikan kecukupan rejeki yang melimpah mengalir bak sungai yang tak berujung. Aamiin.


Bekasi-Jakarta, 26.01.21

Big Hugs,

-N.P

Senin, 18 Januari 2021

Aku Pasti Bisa.

Jika aku harus kembali merasakan ketakutanku akan cinta seperti yang telah lalu-lalu, yaitu mencintai sendirian, dimana aku akan kembali melewati fase kehilangan, penolakan, cinta yang bertepuk sebelah tangan, dan sakitnya diabaikan. Aku pasti bisa menahklukan kembali waktu tersulit dalam merelakan dan melepas segala rasa yang telah terlanjur mengisi ruang teristimewa dalam hatiku.

Aku pasti bisa menelan pahitnya rindu ketika berdatangan.

Aku pasti bisa mengabaikan rasa khawatirku terhadapnya.

Aku pasti bisa menahan degupdegup tak beraturan disetiap aku teringat tentangnya.

Aku pasti bisa melewati semuanya. 

Seperti yang telah kulalui sebelumnya. Lima tahun tergantung dalam kondisi yang sia-sia. Kalau masa tersulit di lima tahun terabaikan bisa kulalui, lalu yang kurang dari satu tahun saja aku tak bisa? aku HARUS bisa..

IYA... AKU PASTI BISA!

AKU.....

PASTI......

BISA...........

Tuhan, jaga hatiku. Aku tak mau merasakan cinta kepada yang belum halal bagiku hingga terlalu dalam.

Jika engkau restui, pasti engkau kan datangkan dia untukku dengan cara terbaikMu. :')


11.11.18

-N.P

Adakah sebuah tempat yang mampu menyambutku dengan sebuah peluk?

Kamu mungkin tidak mampu membuat orang lain mengerti keadaan hatimu, tapi kamu harus mampu mengerti orang lain yang tidak mampu mengerti tentang suara dalam hatimu.

Sebab, apapun dan bagaimanapun kamu menjelaskan, mereka akan tetap merasa kecewa dengan dirimu.

Aku tidak punya tempat untuk berlari, aku tidak punya tempat untuk mengadu. Hanya kepada diriku sendiri, aku berjalan. Hanya kepada diriku sendiri, aku berpulang.

Adakah sebuah tempat yang mampu menyambutku dengan sebuah peluk?

Lagi.. dan lagi.

Aku hanya melihat bayangan diriku sendiri yang selalu ada dibelakangku.


19 Oktober 2019.

-N.P

#Tired #Poems 

Kerinduanku.

Ingin pergi, mematikan sejenak penat yang melanda. tapi kuterjebak dalam ruang sunyi didalam diri.

Ingin pergi, bersamamu... mendengarkan ceritamu... didamaikan hatiku olehmu.. namun pertemuan tak lagi mengijinkan semua itu, sebab tlah lama kamu meninggalkanku didunia fana ini. kamu tlah bersatu bersama bumi.

Kita berada di dimensi berbeda, rasanya baru kemarin aku mendatangimu. Meninggalkan segala kegelisahan yang berkecamuk didalam dada. Melupakan kekesalan berada disini, tempat yang disebut "rumah". Setiap kali rasa menyesakkan itu kurasa, setiap kali itu pula tanganku mengirimkan pesan untuk bertemu. Berada didekatmu, aku rindu. Meski tak pernah lisanku berucap tentang apa yang hatiku rasa, kau selalu tahu isi didalamnya. Kemudian kau berusaha untuk menghiburku, mengalihkan pikiran dan kendalikan emosi yang meluap-luap didalam ruang hatiku.

Hei, aku rindu.

Sangatlah rindu.

Bolehkah kita kembali bertemu?

Walau hanya dalam dunia mimpiku?

Hei, sudah terlalu lama. Enam tahun terasa lama sekali, selama itu pula aku menahan untuk tidak menangis kala memikirkanmu. Berharap kamu saat ini ada didepanku dan bisa kujadikan sandaranku walau hanya untuk sekali saja. Kau pernah melihat wajah jelekku ketika menangis waktu itu bukan? ijinkanlah aku untuk bisa menunjukkan nya sekali lagi.. Tangisanku waktu itu adalah tangisan pertama dan terakhir yang kutunjukkan dihadapanmu, sebab selama 2 tahun kita berteman, tak pernah aku menangis dihadapanmu bukan?

Aku dan kamu sama-sama dilahirkan menjadi anak pertama. Dan kita sama-sama memiliki hati yang sensitif, itukah sebab yang menjadikan kita saling terikat, saling memahami, sama-sama tahu seperti apa rasanya ketika kita tidak mampu bersuara meluapkan apa yang hati rasa? 

Aku masih ingat betul apa yang kau ucap enam tahun lalu untukku, terima kasih kamu mengucapkan itu langsung dihadapanku. Aku rindu... rindu sekali....

Terima kasih tlah menjadi tempatku tuk singgah dikala perasan-perasan tak mengenakkan ini memberondong hati dan otakku.

Terima kasih tlah memahami setiap kata yang tak pernah ku ucap.

Terima kasih untuk tiga tahun persahabatan kita.


"Dear my lovely bestfriend ever, i loved you so much. May allah giving you a beautiful paradise to be your places right now, Jannah Firdaus.."


Bekasi, 27.07.19

❤, Your Bestfriend.

-N.P

Karena, selain pasrah dan doa, aku tak memiliki apa-apa.


Diantara suara riuh musik yang diputar pada bagian produksi; suara langkah kaki yang  berlalu lalang; suara mesin fotocopy yang terdengar tak henti-hentinya; suara seseorang yang sedang bercakap ditelepon dua blok dari meja kerjaku; aku merasa sendiri. aku merasa sepi. dan banyak berfikir kelak tak akan lagi kudengar suara-suara itu.

Terkadang aku takut memikirkan bagaimana takdir akan menyambutku dimasa depan. Meski aku tahu betul, perihal jodoh, rejeki, hidup dan mati telah diatur jauh 50.000 tahun sebelum aku dilahirkan. Tetap saja aku hanya manusia yang lemah, tidak berdaya, yang masih memiliki rasa "takut" akan apa yang terjadi selajutnya.

Bagaimana aku akan mendapatkan pekerjaan baru nanti bila telah selesai masaku berada ditempat kerja yang sekarang.

Aku berjalan sendirian.

Aku butuh seseorang yang mampu meredakan akan rasa takutku akan masa yang akan datang.

Aku butuh seseorang yang tak pernah lelah menemaniku disaat aku sedang merasa sendirian.

Aku butuh seseorang yang mampu tenangkan jiwaku yang terkadang risau tanpa alasan.

Aku butuh seseorang yang mampu memecah resah disetiap aku merasa khawatir yang berkepanjangan.

Aku butuh tempat untuk pulang.

Aku butuh tempat untuk bersandar.

Aku butuh yang seperti aku butuhkan.

Ingin ku rebahkan jiwa lelahku dipelukmu.

Ingin ku rebahkan jiwa lelahku dibahumu.

Seseorang yang kuat ataupun mencoba untuk kuat, masih sangatlah membutuhkan orang lain tuk menjadi tempatnya bersandar, berkeluh kesah, berbicara, berbagi, mencari ketenangan jiwa jika bersamanya.

Seorang motivator pun butuh dimotivasi oleh orang lain ketika ia merasakan lelah dalam jiwanya agar ia mampu berdiri kuat tuk menjalani hidupnya.

Aku tak tahu, bagaimana dan apa yang akan terjadi dalam hidupku kedepan.

Aku hanya meminta, baiklah.... baiklah yang kan menghampiriku dalam hidupku esok, lusa, dan selanjutnya.

Karena, selain pasrah dan doa, aku tak memiliki apa-apa.


Jakarta, 07.11.18

With Love,

-N.P

Jumat, 15 Januari 2021

Dahulu.

Tiga tahun lalu aku pernah berharap :

"Dia adalah cerita terakhir yang ingin kutulis dalam keabadian."

Namun ternyata, keabadian tak menginginkan dia tuk kuabadikan dalam setiap tulisan dibuku kehidupanku. Saat itu.

Hingga pada akhirnya aku terbangun dari harapan - harapan yang bisa saja menenggelamkan aku dalam lautan tangis jika aku tak pernah membuka mataku waktu itu.

Aku memahami, betapa besar inginku yang tak sebanding dengan kenyataan bahwa dia tak pernah benar-benar menginginkan aku ada dalam kehidupan nya. Ah... betapa naif nya aku. Terjerembab sebab manisnya ucapan dia yang selalu membuat hatiku berbunga-bunga namun sebenarnya hanyalah omong kosong belaka.

Kulanjutkan perjalananku, menulis kisah baru yang akan kutemui dimasa depanku. Entah kali ini siapa yang akan kutemui disana, diujung perjalananku mencari rumah untuk kusinggahi sepanjang hidupku.. Rumah tempat aku berpulang. 

Bukan melulu cerita penuh lara, namun cerita penuh cita dan cinta yang ingin kutuliskan disana.

Bukan lagi tentang dia, tetapi tentang kita. Semoga~


15.01.21

-N.P