Manusia hanya sebagian titik kecil yang bergantung hidup pada semesta-Nya, pada-Nya pula semestinya aku menggantungkan harapan dan mengembalikan rasa yang Ia cipta dalam hatiku. Cinta.
Mendesir pasir meninggalkan jejak keberadaanmu, membekas semua cerita yang kamu beri dalam pantai yang kunamai asmara. Kejujuranmu merasuk palung hatiku jauh tak berdasar. Karena-Nya, kehadiranmu disambut oleh hatiku yang terik dan gersang. Kusebut itu, Anugerah.
Cinta. Anugerah.
Ketika kedua gelombang rasa itu bergejolak memenuhi palung hati, ada masa dimana aku tak mampu menahan hantamannya.
Tak mampu mengendalikannya.
Maka sebagai bagian titik kecil semesta-Nya, pada-Nya lah aku meminta Ia mengolah gemuruh rasa ini, dengan doa-doa yang selalu aku semogakan.
Perihal rasamu, aku tak tahu.
Pemilikmu saja yang tahu lebih dari sekedar aku yang tak tahu isi dalam beranda teristimewamu.
Hatimu.
Terlanjur sudah kutenggelam dalam gelombang rasa; terjerembab jauh merasuk dalam palung hati, aku bisa apa?
Dialah perkara yang tak dapat kamu lihat, yang hanya mampu ku ucap ; Aku Jatuh Cinta.
Semesta, Hati, dan Malaikat-Nya, adalah saksinya.
Bait-bait cinta selalu kusebut kala dawai angin rindu menggemuruh.
Hatiku mengucap perlahan, dalam hening yang mengudara.
Bulirbulir rindu menyembul dikedua sudut mataku, untuk kesekian kalinya hati kecilku menggelayutkan harapan pada-Nya tentangmu yang kini kusebut, Cinta.
Bekasi, 23-12-18
-N.P
Senin, 24 Desember 2018
Kamis, 15 November 2018
Ruang Hati
Ketika hati berdebat mengalahkan logika, memperdebatkan tentang kamu dan mengindahkan akan hadirmu.
Ketika kemilau cinta terlanjur merasuk melalui celahcelah pintu hati.
Memasuki bagian terpenting dalam diriku yang tak ingin diberikan pada sosok yang salah.
Ruang hati.
Ruang dimana segala rasa bermuara.
Ruang dimana tidak diperbolehkan sembarang orang untuk menetap.
Ruang dimana kamu kuagung-agungkan didalamnya.
Ruang dimana degup-degup tak beraturan itu berdetak disetiap kali aku mengingat kamu.
Ruang dimana aku bebas meneriakkan namamu dikala aku rindu, namun terasa pilu, karena rindu ini tidak pernah kuadu.
Sekali lagi, logika mencoba kembali mengingatkan hati; dia berbisik :
"Teruntuk kamu,
Jangan singgah jika hanya untuk kembali meredupkan cahaya cinta diruang hati.
Jangan mendekati jika hanya untuk meninggalkan luka yang sulit tuk diobati.
Jangan mencoba untuk pergi, karena rasaku tlah terlanjur terjebak direlung hati.."
18.10.18
-N.P
Ketika kemilau cinta terlanjur merasuk melalui celahcelah pintu hati.
Memasuki bagian terpenting dalam diriku yang tak ingin diberikan pada sosok yang salah.
Ruang hati.
Ruang dimana segala rasa bermuara.
Ruang dimana tidak diperbolehkan sembarang orang untuk menetap.
Ruang dimana kamu kuagung-agungkan didalamnya.
Ruang dimana degup-degup tak beraturan itu berdetak disetiap kali aku mengingat kamu.
Ruang dimana aku bebas meneriakkan namamu dikala aku rindu, namun terasa pilu, karena rindu ini tidak pernah kuadu.
Sekali lagi, logika mencoba kembali mengingatkan hati; dia berbisik :
"Teruntuk kamu,
Jangan singgah jika hanya untuk kembali meredupkan cahaya cinta diruang hati.
Jangan mendekati jika hanya untuk meninggalkan luka yang sulit tuk diobati.
Jangan mencoba untuk pergi, karena rasaku tlah terlanjur terjebak direlung hati.."
18.10.18
-N.P
Sabtu, 29 September 2018
Dear Kamu.
Hai.
Ini aku, iya aku yang sejak baru mengenalmu tak pernah tahu bahwa hanya dalam waktu empat puluh hari kamu menjadi begitu berarti untukku.
Aku yang tak mudah untuk membuka hati untuk siapapun yang mencoba mendekati hatiku.
Aku? Iya ini aku.
Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa;
Ada beberapa sifat yang masih sama dalam diriku seperti Aku dimasa lalu.
Aku yang dulu itu, perempuan yang sangat sangat perhatian; pun aku yang sekarang.
Aku yang dulu itu, ketika tlah merasakan degup degup tak beraturan dihati pada satu orang, akan terlalu dalam saat merasakan; pun aku yang sekarang.
Aku yang dulu itu, tidak padai berbasa-basi menyapamu pada percakapan yang selalu aku tunggu; pun aku yang sekarang.
Aku yang dulu itu, memiliki perasaan sensitif untuk segala sesuatu yang mampu menyentuh hatiku; pun aku yang sekarang.
Aku yang dulu itu, memegang teguh prinsip tidak mencintai orang lain yang telah memiliki cintanya sendiri. Jika aku tahu orang itu telah ada yang memiliki, aku memilih pergi. Lalu membunuh semua rasa dalam hatiku itu dan enggan menyakiti perempuan lain, karena aku tahu betul rasanya di khianati. Pun aku yang sekarang.
Aku yang dulu itu, tidak mampu mengatakan dengan jujur setiap kali aku jatuh cinta, marah, gelisah, pun ketika merindu. Aku selalu menyalahkan diriku akan semua rasa yang tak terungkap itu. Aku membunuh kala rasa itu hadir dengan air mata. Namun tidak untuk diriku yang sekarang.
Setelah bertemu denganmu, aku belajar untuk berjuang.
Memperjuangkan hal yang sedari dulu tidak pernah aku lakukan. Berjuang dengan ikhtiar, berdoa kepada Allah agar ia Ridha dengan semua yang aku semogakan.
Aku pernah berkata ; "ajari aku untuk membuka hati." Seiring berjalannya waktu; aku tersadar, kamu tidak mengajarkan tapi kamu membuatku belajar. Dalam waktu empat puluh hari, degup degup tak beraturan itu mengisi ruang hatiku. Disaat itulah awal mula Ikhtiarku ingin aku perjuangkan.
Hei, kamu.
Pada awal perkenalan kita, Aku pernah berucap, aku bukan perempuan sempurna. Aku pemalu. Aku tidak memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Aku tidak pandai berbicara. Aku tidak seperti perempuan lain yang memiliki tubuh semampai bak model model dilayar kaca. Aku tidak cantik. Aku bukan berasal dari kalangan yang berada, terlalu banyak kekurangan dalam diriku. Dan aku akan menjadi calon pengacara (pengangguran banyak acara) seperti yang telah aku bicarakan denganmu.
Akankah kamu bisa menerima segala kekurangan yang ada dalam diriku itu?
Seriring berjalannya waktu setelah perkenalan kita, sudahkah kau pikirkan semua itu?
Hei, kamu.
Dari sekian banyak kurang yang tercipta dalam diriku, aku dapat memastikan masih ada diriku yang dulu seperti yang telah aku tuliskan dibagian awal tulisanku ini.
Bila kau ingin bertanya tentang sebuah kesetiaan, aku dapat memastikan itu adalah kelebihanku yang paling pertama. Tapi kali ini, aku tidak akan menjadi diriku yang bodoh seperti diriku dibeberapa tahun yang lalu. Karena aku pernah, menunggu dengan setia seseorang yang pada akhirnya menyadarkanku betapa bodohnya aku menyia-nyiakan waktu lima tahunku yang penuh dengan duka selama itu!
Kali ini aku hanya akan menjadi perempuan setia untuk seseorang yang memang pantas untuk menerima sebuah kesetiaan. Aku harap kamu mengerti.
Lalu, bila sebuah rasa tlah bermuara dalam hatiku. Selalu aku rasakan segala rasa tersebut dengan terlalu dalam, untuk itu mohon jangan patahkan rasa itu sebab patah patah yang tercipta tak ingin kembali kurasakan, kan meninggalkan luka yang terlalu dalam. Ingatkah kamu, aku pernah berkata ; "aku takut akan hal hal yang terjadi dimasa depan. Aku takut aku akan terluka kembali. Dan aku trauma." ?
Aku hanya takut, aku kan kembali merasakan luka yang sama disetiap kali aku jatuh cinta. Terlebih karena pengalaman dimasa laluku yang membuat aku merasakan pengkhianatan yang begitu menyakitkan. Luka hasil sebuah pengkhiatan itu menjadikanku seseorang sejak dulu dan hingga kini memiliki prinsip ;
"tidak akan mencintai seseorang yang telah memiliki cintanya sendiri. Karena aku tidak ingin menyakiti perempuan lain, dan aku tahu betul rasanya dikhianati.". Untuk itulah aku bertanya kepadamu berkali-kali adakah seseorang didalam hati dan hidupmu pada awal perkenalan kita.
Percayakah kamu pada setiap kata yang ku ucap? Itulah hatiku. Hatiku yang selalu menyimpan semua rasa dan rahasianya hingga terlalu dalam. Dan karenamu aku belajar, aku akan menerima luka disetiap perjalananku berikhtiar bersamamu. Aku belajar mengolah luka yang bisa saja akan tercipta ditengah perjalananku bisa mengenalmu lebih dalam.
Beberapa waktu lalu, ketika kau unggah sebuah foto distory whatsappmu yang membuat hatiku berdegup kencang, sesak dan ada sakit terasa, seketika itu pula aku bertanya kepadamu. Akhirnya aku mengatakan hal yang ingin kukatakan dengan berani. Saat menunggu balasan darimu, aku mempersiapkan hatiku. Akankah aku kan kembali terluka? Pada akhirnya tidak. Aku percaya padamu. Pada yang hatiku rasakan bahwa kamu tulus ketika menjelaskan. Tanpa sadar aku menceritakan tentang kegelisahanku akan hal-hal yang telah menggangguku sebelum aku mengenalmu. Hal yang kujaga rapat-rapat dari keluargaku, tapi sanggup aku ceritakan kepadamu. Hingga kini rasanya aku tidak percaya, ada manusia yang bisa berkata seperti itu kepada manusia lainnya tanpa berfikir akankah ucapan yang manusia itu ucapkan benar atau tidak, menyakitkan hati atau tidak. Astaghfirullah. Naudzubilah!
Hei, kamu.
Hingga saat ini aku ingin terus belajar. Aku belajar menjadikan segala kekuranganku tuk dijadikan kelebihanku dimata dan hatimu. Maaf bila dalam perjalanan perkenalan kita aku tak pandai dalam menyapamu. Maaf bila aku terlalu berlebihan dalam memperhatikanmu. Maaf bila aku mengeluh tentang waktumu. Maaf bila aku terlalu ingin mendengar suaramu, kau mungkin risih melihat notif telepon dariku. Maaf bila aku masih menjadi perempuan yang belum sempurna seperti yang kamu inginkan dan yang kamu mau. Aku masih ingin berikhtiar mengenalmu hingga kini, ketika aku mengisi tiga hari waktu kosong dikantorku dengan cara menulis resahku untukmu.
Aku akan menceritakan kembali tentang "aku" yang lainnya dilain hari. Kuharap bahagia kan selalu menemani hari harimu.
Jakarta, 27-29 September 2018.
-N.P
Ini aku, iya aku yang sejak baru mengenalmu tak pernah tahu bahwa hanya dalam waktu empat puluh hari kamu menjadi begitu berarti untukku.
Aku yang tak mudah untuk membuka hati untuk siapapun yang mencoba mendekati hatiku.
Aku? Iya ini aku.
Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa;
Ada beberapa sifat yang masih sama dalam diriku seperti Aku dimasa lalu.
Aku yang dulu itu, perempuan yang sangat sangat perhatian; pun aku yang sekarang.
Aku yang dulu itu, ketika tlah merasakan degup degup tak beraturan dihati pada satu orang, akan terlalu dalam saat merasakan; pun aku yang sekarang.
Aku yang dulu itu, tidak padai berbasa-basi menyapamu pada percakapan yang selalu aku tunggu; pun aku yang sekarang.
Aku yang dulu itu, memiliki perasaan sensitif untuk segala sesuatu yang mampu menyentuh hatiku; pun aku yang sekarang.
Aku yang dulu itu, memegang teguh prinsip tidak mencintai orang lain yang telah memiliki cintanya sendiri. Jika aku tahu orang itu telah ada yang memiliki, aku memilih pergi. Lalu membunuh semua rasa dalam hatiku itu dan enggan menyakiti perempuan lain, karena aku tahu betul rasanya di khianati. Pun aku yang sekarang.
Aku yang dulu itu, tidak mampu mengatakan dengan jujur setiap kali aku jatuh cinta, marah, gelisah, pun ketika merindu. Aku selalu menyalahkan diriku akan semua rasa yang tak terungkap itu. Aku membunuh kala rasa itu hadir dengan air mata. Namun tidak untuk diriku yang sekarang.
Setelah bertemu denganmu, aku belajar untuk berjuang.
Memperjuangkan hal yang sedari dulu tidak pernah aku lakukan. Berjuang dengan ikhtiar, berdoa kepada Allah agar ia Ridha dengan semua yang aku semogakan.
Aku pernah berkata ; "ajari aku untuk membuka hati." Seiring berjalannya waktu; aku tersadar, kamu tidak mengajarkan tapi kamu membuatku belajar. Dalam waktu empat puluh hari, degup degup tak beraturan itu mengisi ruang hatiku. Disaat itulah awal mula Ikhtiarku ingin aku perjuangkan.
Hei, kamu.
Pada awal perkenalan kita, Aku pernah berucap, aku bukan perempuan sempurna. Aku pemalu. Aku tidak memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Aku tidak pandai berbicara. Aku tidak seperti perempuan lain yang memiliki tubuh semampai bak model model dilayar kaca. Aku tidak cantik. Aku bukan berasal dari kalangan yang berada, terlalu banyak kekurangan dalam diriku. Dan aku akan menjadi calon pengacara (pengangguran banyak acara) seperti yang telah aku bicarakan denganmu.
Akankah kamu bisa menerima segala kekurangan yang ada dalam diriku itu?
Seriring berjalannya waktu setelah perkenalan kita, sudahkah kau pikirkan semua itu?
Hei, kamu.
Dari sekian banyak kurang yang tercipta dalam diriku, aku dapat memastikan masih ada diriku yang dulu seperti yang telah aku tuliskan dibagian awal tulisanku ini.
Bila kau ingin bertanya tentang sebuah kesetiaan, aku dapat memastikan itu adalah kelebihanku yang paling pertama. Tapi kali ini, aku tidak akan menjadi diriku yang bodoh seperti diriku dibeberapa tahun yang lalu. Karena aku pernah, menunggu dengan setia seseorang yang pada akhirnya menyadarkanku betapa bodohnya aku menyia-nyiakan waktu lima tahunku yang penuh dengan duka selama itu!
Kali ini aku hanya akan menjadi perempuan setia untuk seseorang yang memang pantas untuk menerima sebuah kesetiaan. Aku harap kamu mengerti.
Lalu, bila sebuah rasa tlah bermuara dalam hatiku. Selalu aku rasakan segala rasa tersebut dengan terlalu dalam, untuk itu mohon jangan patahkan rasa itu sebab patah patah yang tercipta tak ingin kembali kurasakan, kan meninggalkan luka yang terlalu dalam. Ingatkah kamu, aku pernah berkata ; "aku takut akan hal hal yang terjadi dimasa depan. Aku takut aku akan terluka kembali. Dan aku trauma." ?
Aku hanya takut, aku kan kembali merasakan luka yang sama disetiap kali aku jatuh cinta. Terlebih karena pengalaman dimasa laluku yang membuat aku merasakan pengkhianatan yang begitu menyakitkan. Luka hasil sebuah pengkhiatan itu menjadikanku seseorang sejak dulu dan hingga kini memiliki prinsip ;
"tidak akan mencintai seseorang yang telah memiliki cintanya sendiri. Karena aku tidak ingin menyakiti perempuan lain, dan aku tahu betul rasanya dikhianati.". Untuk itulah aku bertanya kepadamu berkali-kali adakah seseorang didalam hati dan hidupmu pada awal perkenalan kita.
Percayakah kamu pada setiap kata yang ku ucap? Itulah hatiku. Hatiku yang selalu menyimpan semua rasa dan rahasianya hingga terlalu dalam. Dan karenamu aku belajar, aku akan menerima luka disetiap perjalananku berikhtiar bersamamu. Aku belajar mengolah luka yang bisa saja akan tercipta ditengah perjalananku bisa mengenalmu lebih dalam.
Beberapa waktu lalu, ketika kau unggah sebuah foto distory whatsappmu yang membuat hatiku berdegup kencang, sesak dan ada sakit terasa, seketika itu pula aku bertanya kepadamu. Akhirnya aku mengatakan hal yang ingin kukatakan dengan berani. Saat menunggu balasan darimu, aku mempersiapkan hatiku. Akankah aku kan kembali terluka? Pada akhirnya tidak. Aku percaya padamu. Pada yang hatiku rasakan bahwa kamu tulus ketika menjelaskan. Tanpa sadar aku menceritakan tentang kegelisahanku akan hal-hal yang telah menggangguku sebelum aku mengenalmu. Hal yang kujaga rapat-rapat dari keluargaku, tapi sanggup aku ceritakan kepadamu. Hingga kini rasanya aku tidak percaya, ada manusia yang bisa berkata seperti itu kepada manusia lainnya tanpa berfikir akankah ucapan yang manusia itu ucapkan benar atau tidak, menyakitkan hati atau tidak. Astaghfirullah. Naudzubilah!
Hei, kamu.
Hingga saat ini aku ingin terus belajar. Aku belajar menjadikan segala kekuranganku tuk dijadikan kelebihanku dimata dan hatimu. Maaf bila dalam perjalanan perkenalan kita aku tak pandai dalam menyapamu. Maaf bila aku terlalu berlebihan dalam memperhatikanmu. Maaf bila aku mengeluh tentang waktumu. Maaf bila aku terlalu ingin mendengar suaramu, kau mungkin risih melihat notif telepon dariku. Maaf bila aku masih menjadi perempuan yang belum sempurna seperti yang kamu inginkan dan yang kamu mau. Aku masih ingin berikhtiar mengenalmu hingga kini, ketika aku mengisi tiga hari waktu kosong dikantorku dengan cara menulis resahku untukmu.
Aku akan menceritakan kembali tentang "aku" yang lainnya dilain hari. Kuharap bahagia kan selalu menemani hari harimu.
Jakarta, 27-29 September 2018.
-N.P
Senin, 17 September 2018
Kehadiranmu
"Menatap Cermin."
Kutatap sosok di depanku.
Matanya, terlihat tajam.
Bukan karena amarah yang mendalam,
Tetapi rasa yang terdalam.
Hari ini, dia berkata :
Dulu aku bisa melakukan apapun sendirian.
Kemamapun aku pergi, tak ada rasa yang membabani.
Tak ada kecemasan disetiap malam.
Sebelum ada lelaki itu, aku bahagia.
Dan seharusnya setelah mengenal lelaki itu, aku lebih bahagia.
Seorang temannya berkata :
"Jika kamu penting untuknya, tak peduli sejauh apapun dia kan datang menemuimu.
Jika kamu berarti untuknya, tak peduli sesibuk apapun; dia akan meluangkan waktunya."
Sejenak aku berfikir.
Tak ada kata "jika", sebab semua adalah harapku semata.
Aku yang berharap.
Mulai dari setitik harap, berakhir menjadi banyak harapan yang kini sulit untuk dikendalikan.
Tidak ada yang salah pada dirinya.
Karena akulah yang seharusny disalahkan, sebab untuk kesekian kalinya aku kembali berharap pada makhluk, dan bukan pada-Nya.
Ketika mulai debar debar tak menentu itu kurasa.
Ketika mulai ada rindu.
Ketika rasa khawatir berkecamuk.
Itulah awal mula setitik harapan ini tercipta.
Lalu, apa yang harus kulakukan?
Sejak harapan itu muncul, rasanya aku tak lagi mampu menahan cemburu.
Hanya dalam waktu satu setengaj bulan, duniaku berubah.
Dengan mudahnya aku terjerat, dan ada keinginan untuk memasuki dunianya.
Lalu menginginkan di memasuki duniaku.
Apakah aku kembali jatuh cinta?
Lagi, lagi aku berfikir terlalu jauh.
Adakah kau rasa?
"Sosok dalam cermin itu menyunggingkan senyum, agar dia terlihat lega."
Jakarta, 17 September 2018.
-N.P
Kutatap sosok di depanku.
Matanya, terlihat tajam.
Bukan karena amarah yang mendalam,
Tetapi rasa yang terdalam.
Hari ini, dia berkata :
Dulu aku bisa melakukan apapun sendirian.
Kemamapun aku pergi, tak ada rasa yang membabani.
Tak ada kecemasan disetiap malam.
Sebelum ada lelaki itu, aku bahagia.
Dan seharusnya setelah mengenal lelaki itu, aku lebih bahagia.
Seorang temannya berkata :
"Jika kamu penting untuknya, tak peduli sejauh apapun dia kan datang menemuimu.
Jika kamu berarti untuknya, tak peduli sesibuk apapun; dia akan meluangkan waktunya."
Sejenak aku berfikir.
Tak ada kata "jika", sebab semua adalah harapku semata.
Aku yang berharap.
Mulai dari setitik harap, berakhir menjadi banyak harapan yang kini sulit untuk dikendalikan.
Tidak ada yang salah pada dirinya.
Karena akulah yang seharusny disalahkan, sebab untuk kesekian kalinya aku kembali berharap pada makhluk, dan bukan pada-Nya.
Ketika mulai debar debar tak menentu itu kurasa.
Ketika mulai ada rindu.
Ketika rasa khawatir berkecamuk.
Itulah awal mula setitik harapan ini tercipta.
Lalu, apa yang harus kulakukan?
Sejak harapan itu muncul, rasanya aku tak lagi mampu menahan cemburu.
Hanya dalam waktu satu setengaj bulan, duniaku berubah.
Dengan mudahnya aku terjerat, dan ada keinginan untuk memasuki dunianya.
Lalu menginginkan di memasuki duniaku.
Apakah aku kembali jatuh cinta?
Lagi, lagi aku berfikir terlalu jauh.
Adakah kau rasa?
"Sosok dalam cermin itu menyunggingkan senyum, agar dia terlihat lega."
Jakarta, 17 September 2018.
-N.P
Sebuah Tanya
Sejenak dia termenung.
Begitu banyak tanya menari-nari dikepala dia.
Meminta jawaban.
Berharap, jawaban yang dia inginkan.
Kau memang bukan yang pertama.
Tapi dia ingin kau menjadi akhir.
Menghabiskan sisa umur dia bersama lelaki terakhir;
Seperti harapan dia, lelaki itu adalah engkau.
Sudah sejak lama dia dan sepi berkarib.
Berharap bila ada kau, sepi akan meninggalkan dia.
Kau mungkin tak paham.
Betapa berartinya setitik perhatian yang dia rasa.
Meski hanya sebuah kalimat :
"Kamu, semangat selalu." Yang terucap.
Kau tidak terbiasa dengan perhatian perhatian kecil yang dia inginkan.
Karena kau terbiasa dengan ketidakpedulian.
Bukan ketidakpedulian karena kau benar benar tidak peduli, melainkan karena kau terbiasa dengan kehidupan yang mandiri.
Bagimu, mungkin dia belum terlalu berarti.
Namun untuk dia, kau terlanjur jatuh ke relung hati.
Sempat tersirat dalam benak penuh tanya.
"Lebih baik mana diantara dua jenis lelaki yang ada didunia ini, lelaki yang pendiam ataukah lelaki yang cuek namun diam-diam perhatian?"
Lagi-lagi dia bertanya, hanya riuh sekeliling yang terdengar.
Tidak ada jawaban.
Sebab kalimat kalimat tersebut hanya bergema dihati, tak ada suara terucap.
Adakah kau rasa suara hati dia?
Pada sebuah angan dia mengulang tanya.
Tak ada jawaban.
Jakarta, 29 Agustus 2018.
-N.P
Begitu banyak tanya menari-nari dikepala dia.
Meminta jawaban.
Berharap, jawaban yang dia inginkan.
Kau memang bukan yang pertama.
Tapi dia ingin kau menjadi akhir.
Menghabiskan sisa umur dia bersama lelaki terakhir;
Seperti harapan dia, lelaki itu adalah engkau.
Sudah sejak lama dia dan sepi berkarib.
Berharap bila ada kau, sepi akan meninggalkan dia.
Kau mungkin tak paham.
Betapa berartinya setitik perhatian yang dia rasa.
Meski hanya sebuah kalimat :
"Kamu, semangat selalu." Yang terucap.
Kau tidak terbiasa dengan perhatian perhatian kecil yang dia inginkan.
Karena kau terbiasa dengan ketidakpedulian.
Bukan ketidakpedulian karena kau benar benar tidak peduli, melainkan karena kau terbiasa dengan kehidupan yang mandiri.
Bagimu, mungkin dia belum terlalu berarti.
Namun untuk dia, kau terlanjur jatuh ke relung hati.
Sempat tersirat dalam benak penuh tanya.
"Lebih baik mana diantara dua jenis lelaki yang ada didunia ini, lelaki yang pendiam ataukah lelaki yang cuek namun diam-diam perhatian?"
Lagi-lagi dia bertanya, hanya riuh sekeliling yang terdengar.
Tidak ada jawaban.
Sebab kalimat kalimat tersebut hanya bergema dihati, tak ada suara terucap.
Adakah kau rasa suara hati dia?
Pada sebuah angan dia mengulang tanya.
Tak ada jawaban.
Jakarta, 29 Agustus 2018.
-N.P
Senin, 27 Agustus 2018
3600 detik.
Hanya butuh 3600 detik darinya, mampu mengikis 157.680.000 detik perih peninggalan dia.
Sebab 3600 detik darinya, bergerak perlahan menghapus luka disetiap detakan nya.
Disetiap detik yang berdetak, kujumpai jujur berjalan bersamanya.
Disetiap detik yang berdetak, kudapati suka cita terucap dari bibirnya.
Disetiap detik yang berdetak, lagi, dan lagi... semakin aku tahu segala detikdetik yang lalu tak lagi berarti untuk diratapi.
Karena aku ingin disetiap detik yang akan datang, kan kuisi dengan kehadiran dia yang selama 3600 detik yang lalu, mengisi beranda hati itu dan mampu meluluh lantakkan 157.680.000 detik penuh kesia-siaan dimasa kelamnya.
Ketika 3600 detik menghujam 157.680.000 detik,
ratusan juta detik itu tlah mati; tak lagi berdetak, terkubur dalam ruang masa lalu. Karena masa depan kan terus bergerak, bersama 3600 detik yang akan terus berdetak, bersamanya.
Bekasi, 26 Agustus 2018.
N.P
Sebab 3600 detik darinya, bergerak perlahan menghapus luka disetiap detakan nya.
Disetiap detik yang berdetak, kujumpai jujur berjalan bersamanya.
Disetiap detik yang berdetak, kudapati suka cita terucap dari bibirnya.
Disetiap detik yang berdetak, lagi, dan lagi... semakin aku tahu segala detikdetik yang lalu tak lagi berarti untuk diratapi.
Karena aku ingin disetiap detik yang akan datang, kan kuisi dengan kehadiran dia yang selama 3600 detik yang lalu, mengisi beranda hati itu dan mampu meluluh lantakkan 157.680.000 detik penuh kesia-siaan dimasa kelamnya.
Ketika 3600 detik menghujam 157.680.000 detik,
ratusan juta detik itu tlah mati; tak lagi berdetak, terkubur dalam ruang masa lalu. Karena masa depan kan terus bergerak, bersama 3600 detik yang akan terus berdetak, bersamanya.
Bekasi, 26 Agustus 2018.
N.P
Sabtu, 18 Agustus 2018
Kunang Kunang
Hai, kau terbang hampiri malamnya yang kelam.
Terbang sekian kilometer menyusuri malam yang panjang.
Hingga akhirnya, kau terhenti disatu mawar layu itu.
Memenuhi kelopak hatinya dengan cahaya kebahagiaan.
Cahayamu menerangi gelapnya malam malam panjang.
Kau hapus gelisah gelisah dalam gelapnya sekeliling.
Namun kau singgah bukan untuk selamanya,
Kau kembali mengembara menerangi mawar mawar lain.
Akankau kau kembali?
Sang Kunang kunang di langit malam.
Jakarta. 18 Agustus 2018.
Terbang sekian kilometer menyusuri malam yang panjang.
Hingga akhirnya, kau terhenti disatu mawar layu itu.
Memenuhi kelopak hatinya dengan cahaya kebahagiaan.
Cahayamu menerangi gelapnya malam malam panjang.
Kau hapus gelisah gelisah dalam gelapnya sekeliling.
Namun kau singgah bukan untuk selamanya,
Kau kembali mengembara menerangi mawar mawar lain.
Akankau kau kembali?
Sang Kunang kunang di langit malam.
Jakarta. 18 Agustus 2018.
Sabtu, 12 Mei 2018
Pelabuhan Hati
Dermaga hatiku masih menunggu hatimu,
Hatimu yang berlayar mengarungi lautan waktu,
Aku bertanya ; "Dimanakah cinta kita kan berlabuh?"
Angin hampa meninggalkan gigil sepanjang samudera, akankah cintamu terhenti dipelabuhan rinduku?
Sebab tak ada kita bila tak ada cinta.
Sebab cinta tak selalu indah, selain cinta kepada "Sang Pencipta".
Bekasi, 18 April 2018.
N.P
Hatimu yang berlayar mengarungi lautan waktu,
Aku bertanya ; "Dimanakah cinta kita kan berlabuh?"
Angin hampa meninggalkan gigil sepanjang samudera, akankah cintamu terhenti dipelabuhan rinduku?
Sebab tak ada kita bila tak ada cinta.
Sebab cinta tak selalu indah, selain cinta kepada "Sang Pencipta".
Bekasi, 18 April 2018.
N.P
Selasa, 10 April 2018
Cahaya Cinta Nya
Dalam naungan cahaya cinta Mu, kugantungkan harapku pada Mu Ya Rabbi.
Jendela kehidupan, pintu harapan bergumul dalam muara Kasih Mu.
Kau sentuh batinku, memeluk erat kalbuku yang menatap indahnya lukis dalam kanvas langit Mu.
Sebab tiada mampu selain Mu menjadikan langit biru, jingga, kemudian kelabu membiru.
Sebab tiada mampu menghapus luka berganti bahagia jika bukan karena Mu.
Pada Sang Malam, kau taburkan titiktitik kilau berkawan rembulan.
Sepasang mata kembali menatap langit malam nanar, ah aku rindu..
Segala harap, hidup, dan setiap hembus nafas selalu kusebut Nama Mu.
Hujani aku cahaya cinta Mu, disetiap waktuku, sebab itu kan melindungi hatiku.
Agar aku mampu berjalan melewati pintu harapan, dan tak takut akan kegelisahan, kesendirian, kefanaan, dan kematian.
Jakarta, 10 April 2018.
Jendela kehidupan, pintu harapan bergumul dalam muara Kasih Mu.
Kau sentuh batinku, memeluk erat kalbuku yang menatap indahnya lukis dalam kanvas langit Mu.
Sebab tiada mampu selain Mu menjadikan langit biru, jingga, kemudian kelabu membiru.
Sebab tiada mampu menghapus luka berganti bahagia jika bukan karena Mu.
Pada Sang Malam, kau taburkan titiktitik kilau berkawan rembulan.
Sepasang mata kembali menatap langit malam nanar, ah aku rindu..
Segala harap, hidup, dan setiap hembus nafas selalu kusebut Nama Mu.
Hujani aku cahaya cinta Mu, disetiap waktuku, sebab itu kan melindungi hatiku.
Agar aku mampu berjalan melewati pintu harapan, dan tak takut akan kegelisahan, kesendirian, kefanaan, dan kematian.
Jakarta, 10 April 2018.
Rabu, 14 Maret 2018
Kepergianmu
Apa kabarmu hari ini?
Sudahkah kau makan? Kalau ya, apakah yang kau makan?
Makanan terakhir yang kuberi untukmu adalah sepotong ikan tongkol yang besar.
Aku tak memiki perasaan apapun sebelum kepergianmu minggu lalu.
Terakhir kali pertemuan kita pada malam terakhir aku memberikan sepotong tongkol itu.
Aku tidak pernah merasakan kerinduan yang begitu dalam terhadap binatang apapun, kau yang pertama.
Aku rindu melihatmu menyambut diriku ketika aku baru pulang kerja.
Aku rindu belaian kepalamu dikedua kakiku.
Pantas saja, kau yang selama ini tidak pernah menggigitku (mengajak bermain), beberapa kali melakukan itu.
Aku bersamamu satu tahun yang lalu, ketika aku baru menyelesaikan kontak kedua ditempat kerjaku terdahulu.
Sejak saat itu, aku selalu berbicara denganmu. Berbicara tentang apapun, meski kau tidak mampu menjawab kalimatku.
Sejak saat itu, kau selalu menemaniku, menghampiriku, menungguku, mengikuti kemanapun aku melangkah.
Kau sambut aku dengan tatapan polosmu?
Ingin rasanya aku mencaci orang yang telah membunuhmu, menabrakmu dan meninggalkan jasadmu tanpa menguburmu.
Dan aku pun baru mengetahui kepergiamnu setelah kau dikuburkan.
Aku rindu, aku tak memiliki tempat tuk bercerita lagi, kucing yang selalu setia menungguku.
Malam ini, pertama kalinya aku menangis karena binatang.
Merindukan suaramu, sosokmu, tidak ada lagi sosok yang selalu ada untukku. :(
Semoga kita kan kembali berjumpa disurga Nya.
Setiap kali kulihat, kudengar suara auman kucing disekitarku, benakku teringat akan dirimu.
Bila kau bertemu orang-orang yang telah mendahuluiku ke surga, kutitip rindu untuk mereka dan kuharap mereka disana menjagamu.
Bekasi, 14 Maret 2018.
Jumat, 12 Januari 2018
Feel this way..
"Terkadang, kau lelah mendengarkan..
Ingin sekali kau bercerita, membuka jendela hatimu dan menunjukkan isi didalamnya.
Ruang yang selama ini terkunci rapih, tempat peluhmu bergumul.
Tidak hanya menjadikan dirimu sebagai "good listener"..
"Terkadang, kau butuh sebuah pelukan..
Bukan hasrat ingin mematahkan kesedihan seseorang, namun kau selalu sendirian ketika kesakitan".
"Terkadang, kau butuh jadi seseorang yang tak berperasaan..
Tak hanya memikirkan perasaan orang yang bahkan untuk memikirkanmu dia enggan".
"Terkadang, kau ingin menjadi special..
bukan karena dirimu rupawan ataupun dermawan, tetapi karena kau memang seseorang yang dibutuhkan. Kau berarti dalam hidup mereka karena kau berbeda, kau "special".
Mungkin, bila kau bertemu dengan yang benar-benar tahu akan hadirmu, kau akan meninggalkan segala "terkadang" yang memenuhi otakmu saat ini.
Sosok yang begitu kau rindukan, yang kan kau abadikan dalam keabadian.
Mereka bukan orang yang menjadikanmu ada didunia ini, mereka bukan orang yang memiliki darah yang sama denganmu, mereka bukan orang yang selalu kau dengarkan peluhnya, mereka bukan orang yang hanya datang padamu ketika membutuhkan, mereka bukan orang yang namanya bertahun-tahun kau simpan dalam diam, namun dialah seseorang yang akan membutuhkanmu dalam hidupnya. Karena selain dia, mereka akan meninggalkanmu. Mereka bahagia tanpa hadirmu.
Ketika kau hanya mampu membisu ketika gejolak peluh dalam hatimu berlomba-lomba ingin membunuh hatimu, membawamu kedalam pikiran yang bisa berakhir mematikan kehidupanmu, namun kau hirau. Kau kunci rapat hatimu, Kau terisak diruang itu sendirian. Tak ada satu pun pelukan, sandaran, uluran yang menghentikan gejolak itu. Kau meredamnya melalui isak tak bersuara itu. AKU TAHU RASANYA. FEEL THIS WAY, IT'S SO HURT.
Sementara hati kecilmu meneriakkan nama mereka, nama orang-orang terdekatmu. Ibumu, ayahmu, adikmu, saudaramu, sahabatmu, dan namanya yang begitu ingin kau temui saat itu juga. Namun mereka hanyalah anganmu yang kau temu dalam bisu. Karena kau tak mampu melakukannya, memanggil mereka yang sangat kau butuhkan bukan karena kau memanggilnya, sejatinya karena kau ingin mereka merasakan perihnya lalu menentramkan risaumu berbalut pelukan.
(Aku tak ingin memanggilmu, karena aku tahu aku bukan bahagiamu.)
Bekasi, 12 Januari 2018
N.P
Ingin sekali kau bercerita, membuka jendela hatimu dan menunjukkan isi didalamnya.
Ruang yang selama ini terkunci rapih, tempat peluhmu bergumul.
Tidak hanya menjadikan dirimu sebagai "good listener"..
"Terkadang, kau butuh sebuah pelukan..
Bukan hasrat ingin mematahkan kesedihan seseorang, namun kau selalu sendirian ketika kesakitan".
"Terkadang, kau butuh jadi seseorang yang tak berperasaan..
Tak hanya memikirkan perasaan orang yang bahkan untuk memikirkanmu dia enggan".
"Terkadang, kau ingin menjadi special..
bukan karena dirimu rupawan ataupun dermawan, tetapi karena kau memang seseorang yang dibutuhkan. Kau berarti dalam hidup mereka karena kau berbeda, kau "special".
Mungkin, bila kau bertemu dengan yang benar-benar tahu akan hadirmu, kau akan meninggalkan segala "terkadang" yang memenuhi otakmu saat ini.
Sosok yang begitu kau rindukan, yang kan kau abadikan dalam keabadian.
Mereka bukan orang yang menjadikanmu ada didunia ini, mereka bukan orang yang memiliki darah yang sama denganmu, mereka bukan orang yang selalu kau dengarkan peluhnya, mereka bukan orang yang hanya datang padamu ketika membutuhkan, mereka bukan orang yang namanya bertahun-tahun kau simpan dalam diam, namun dialah seseorang yang akan membutuhkanmu dalam hidupnya. Karena selain dia, mereka akan meninggalkanmu. Mereka bahagia tanpa hadirmu.
Ketika kau hanya mampu membisu ketika gejolak peluh dalam hatimu berlomba-lomba ingin membunuh hatimu, membawamu kedalam pikiran yang bisa berakhir mematikan kehidupanmu, namun kau hirau. Kau kunci rapat hatimu, Kau terisak diruang itu sendirian. Tak ada satu pun pelukan, sandaran, uluran yang menghentikan gejolak itu. Kau meredamnya melalui isak tak bersuara itu. AKU TAHU RASANYA. FEEL THIS WAY, IT'S SO HURT.
Sementara hati kecilmu meneriakkan nama mereka, nama orang-orang terdekatmu. Ibumu, ayahmu, adikmu, saudaramu, sahabatmu, dan namanya yang begitu ingin kau temui saat itu juga. Namun mereka hanyalah anganmu yang kau temu dalam bisu. Karena kau tak mampu melakukannya, memanggil mereka yang sangat kau butuhkan bukan karena kau memanggilnya, sejatinya karena kau ingin mereka merasakan perihnya lalu menentramkan risaumu berbalut pelukan.
(Aku tak ingin memanggilmu, karena aku tahu aku bukan bahagiamu.)
Bekasi, 12 Januari 2018
N.P
Langganan:
Postingan (Atom)

