Sabtu, 29 September 2018

Dear Kamu.

Hai.
Ini aku, iya aku yang sejak baru mengenalmu tak pernah tahu bahwa hanya dalam waktu empat puluh hari kamu menjadi begitu berarti untukku.
Aku yang tak mudah untuk membuka hati untuk siapapun yang mencoba mendekati hatiku.

Aku? Iya ini aku.

Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa;
Ada beberapa sifat yang masih sama dalam diriku seperti Aku dimasa lalu.

Aku yang dulu itu, perempuan yang sangat sangat perhatian; pun aku yang sekarang.

Aku yang dulu itu, ketika tlah merasakan degup degup tak beraturan dihati pada satu orang, akan terlalu dalam saat merasakan; pun aku yang sekarang.

Aku yang dulu itu, tidak padai berbasa-basi menyapamu pada percakapan yang selalu aku tunggu; pun aku yang sekarang.

Aku yang dulu itu, memiliki perasaan sensitif untuk segala sesuatu yang mampu menyentuh hatiku; pun aku yang sekarang.

Aku yang dulu itu, memegang teguh prinsip tidak mencintai orang lain yang telah memiliki cintanya sendiri. Jika aku tahu orang itu telah ada yang memiliki, aku memilih pergi. Lalu membunuh semua rasa dalam hatiku itu dan enggan menyakiti perempuan lain, karena aku tahu betul rasanya di khianati. Pun aku yang sekarang.

Aku yang dulu itu, tidak mampu mengatakan dengan jujur setiap kali aku jatuh cinta, marah, gelisah, pun ketika merindu. Aku selalu menyalahkan diriku akan semua rasa yang tak terungkap itu. Aku membunuh kala rasa itu hadir dengan air mata. Namun tidak untuk diriku yang sekarang.

Setelah bertemu denganmu, aku belajar untuk berjuang.
Memperjuangkan hal yang sedari dulu tidak pernah aku lakukan. Berjuang dengan ikhtiar, berdoa kepada Allah agar ia Ridha dengan semua yang aku semogakan.

Aku pernah berkata ; "ajari aku untuk membuka hati." Seiring berjalannya waktu; aku tersadar, kamu tidak mengajarkan tapi kamu membuatku belajar. Dalam waktu empat puluh hari, degup degup tak beraturan itu mengisi ruang hatiku. Disaat itulah awal mula Ikhtiarku ingin aku perjuangkan.

Hei, kamu.
Pada awal perkenalan kita, Aku pernah berucap, aku bukan perempuan sempurna. Aku pemalu. Aku tidak memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Aku tidak pandai berbicara. Aku tidak seperti perempuan lain yang memiliki tubuh semampai bak model model dilayar kaca. Aku tidak cantik. Aku bukan berasal dari kalangan yang berada, terlalu banyak kekurangan dalam diriku. Dan aku akan menjadi calon pengacara (pengangguran banyak acara) seperti yang telah aku bicarakan denganmu.
Akankah kamu bisa menerima segala kekurangan yang ada dalam diriku itu?
Seriring berjalannya waktu setelah perkenalan kita, sudahkah kau pikirkan semua itu?

Hei, kamu.
Dari sekian banyak kurang yang tercipta dalam diriku, aku dapat memastikan masih ada diriku yang dulu seperti yang telah aku tuliskan dibagian awal tulisanku ini.
Bila kau ingin bertanya tentang sebuah kesetiaan, aku dapat memastikan itu adalah kelebihanku yang paling pertama. Tapi kali ini, aku tidak akan menjadi diriku yang bodoh seperti diriku dibeberapa tahun yang lalu. Karena aku pernah, menunggu dengan setia seseorang yang pada akhirnya menyadarkanku betapa bodohnya aku menyia-nyiakan waktu lima tahunku yang penuh dengan duka selama itu! 
Kali ini aku hanya akan menjadi perempuan setia untuk seseorang yang memang pantas untuk menerima sebuah kesetiaan. Aku harap kamu mengerti.

Lalu, bila sebuah rasa tlah bermuara dalam hatiku. Selalu aku rasakan segala rasa tersebut dengan terlalu dalam, untuk itu mohon jangan patahkan rasa itu sebab patah patah yang tercipta tak ingin kembali kurasakan, kan meninggalkan luka yang terlalu dalam. Ingatkah kamu, aku pernah berkata ; "aku takut akan hal hal yang terjadi dimasa depan. Aku takut aku akan terluka kembali. Dan aku trauma." ? 
Aku hanya takut, aku kan kembali merasakan luka yang sama disetiap kali aku jatuh cinta. Terlebih karena pengalaman dimasa laluku yang membuat aku merasakan pengkhianatan yang begitu menyakitkan. Luka hasil sebuah pengkhiatan itu menjadikanku seseorang sejak dulu dan hingga kini memiliki prinsip ;

"tidak akan mencintai seseorang yang telah memiliki cintanya sendiri. Karena aku tidak ingin menyakiti perempuan lain, dan aku tahu betul rasanya dikhianati.". Untuk itulah aku bertanya kepadamu berkali-kali adakah seseorang didalam hati dan hidupmu pada awal perkenalan kita.
Percayakah kamu pada setiap kata yang ku ucap? Itulah hatiku. Hatiku yang selalu menyimpan semua rasa dan rahasianya hingga terlalu dalam. Dan karenamu aku belajar, aku akan menerima luka disetiap perjalananku berikhtiar bersamamu. Aku belajar mengolah luka yang bisa saja akan tercipta ditengah perjalananku bisa mengenalmu lebih dalam.

Beberapa waktu lalu, ketika kau unggah sebuah foto distory whatsappmu yang membuat hatiku berdegup kencang, sesak dan ada sakit terasa, seketika itu pula aku bertanya kepadamu. Akhirnya aku mengatakan hal yang ingin kukatakan dengan berani. Saat menunggu balasan darimu, aku mempersiapkan hatiku. Akankah aku kan kembali terluka? Pada akhirnya tidak. Aku percaya padamu. Pada yang hatiku rasakan bahwa kamu tulus ketika menjelaskan. Tanpa sadar aku menceritakan tentang kegelisahanku akan hal-hal yang telah menggangguku sebelum aku mengenalmu. Hal yang kujaga rapat-rapat dari keluargaku, tapi sanggup aku ceritakan kepadamu. Hingga kini rasanya aku tidak percaya, ada manusia yang bisa berkata seperti itu kepada manusia lainnya tanpa berfikir akankah ucapan yang manusia itu ucapkan benar atau tidak, menyakitkan hati atau tidak. Astaghfirullah. Naudzubilah!

Hei, kamu.
Hingga saat ini aku ingin terus belajar. Aku belajar menjadikan segala kekuranganku tuk dijadikan kelebihanku dimata dan hatimu. Maaf bila dalam perjalanan perkenalan kita aku tak pandai dalam menyapamu. Maaf bila aku terlalu berlebihan dalam memperhatikanmu. Maaf bila aku mengeluh tentang waktumu. Maaf bila aku terlalu ingin mendengar suaramu, kau mungkin risih melihat notif telepon dariku. Maaf bila aku masih menjadi perempuan yang belum sempurna seperti yang kamu inginkan dan yang kamu mau. Aku masih ingin berikhtiar mengenalmu hingga kini, ketika aku mengisi tiga hari waktu kosong dikantorku dengan cara menulis resahku untukmu.
Aku akan menceritakan kembali tentang "aku" yang lainnya dilain hari. Kuharap bahagia kan selalu menemani hari harimu.



Jakarta, 27-29 September 2018.

-N.P

Senin, 17 September 2018

Kehadiranmu

"Menatap Cermin."

Kutatap sosok di depanku.
Matanya, terlihat tajam.
Bukan karena amarah yang mendalam,
Tetapi rasa yang terdalam.

Hari ini, dia berkata :
Dulu aku bisa melakukan apapun sendirian.
Kemamapun aku pergi, tak ada rasa yang membabani.
Tak ada kecemasan disetiap malam.
Sebelum ada lelaki itu, aku bahagia.
Dan seharusnya setelah mengenal lelaki itu, aku lebih bahagia.

Seorang temannya berkata :
"Jika kamu penting untuknya, tak peduli sejauh apapun dia kan datang menemuimu.
Jika kamu berarti untuknya, tak peduli sesibuk apapun; dia akan meluangkan waktunya."


Sejenak aku berfikir.
Tak ada kata "jika", sebab semua adalah harapku semata.
Aku yang berharap.
Mulai dari setitik harap, berakhir menjadi banyak harapan yang kini sulit untuk dikendalikan.
Tidak ada yang salah pada dirinya.
Karena akulah yang seharusny disalahkan, sebab untuk kesekian kalinya aku kembali berharap pada makhluk, dan bukan pada-Nya.

Ketika mulai debar debar tak menentu itu kurasa.
Ketika mulai ada rindu.
Ketika rasa khawatir berkecamuk.
Itulah awal mula setitik harapan ini tercipta.
Lalu, apa yang harus kulakukan?

Sejak harapan itu muncul, rasanya aku tak lagi mampu menahan cemburu.
Hanya dalam waktu satu setengaj bulan, duniaku berubah.
Dengan mudahnya aku terjerat, dan ada keinginan untuk memasuki dunianya.
Lalu menginginkan di memasuki duniaku.


Apakah aku kembali jatuh cinta?


Lagi, lagi aku berfikir terlalu jauh.
Adakah kau rasa?



"Sosok dalam cermin itu menyunggingkan senyum, agar dia terlihat lega."

Jakarta, 17 September 2018.
-N.P

Sebuah Tanya

Sejenak dia termenung.
Begitu banyak tanya menari-nari dikepala dia.
Meminta jawaban.
Berharap, jawaban yang dia inginkan.

Kau memang bukan yang pertama.
Tapi dia ingin kau menjadi akhir.
Menghabiskan sisa umur dia bersama lelaki terakhir;
Seperti harapan dia, lelaki itu adalah engkau.
Sudah sejak lama dia dan sepi berkarib.
Berharap bila ada kau, sepi akan meninggalkan dia.

Kau mungkin tak paham.
Betapa berartinya setitik perhatian yang dia rasa.
Meski hanya sebuah kalimat :
"Kamu, semangat selalu." Yang terucap.
Kau tidak terbiasa dengan perhatian perhatian kecil yang dia inginkan.
Karena kau terbiasa dengan ketidakpedulian.
Bukan ketidakpedulian karena kau benar benar tidak peduli, melainkan karena kau terbiasa dengan kehidupan yang mandiri.

Bagimu, mungkin dia belum terlalu berarti.
Namun untuk dia, kau terlanjur jatuh ke relung hati.

Sempat tersirat dalam benak penuh tanya.
"Lebih baik mana diantara dua jenis lelaki yang ada didunia ini, lelaki yang pendiam ataukah lelaki yang cuek namun diam-diam perhatian?"

Lagi-lagi dia bertanya, hanya riuh sekeliling yang terdengar.
Tidak ada jawaban.
Sebab kalimat kalimat tersebut hanya bergema dihati, tak ada suara terucap.

Adakah kau rasa suara hati dia?
Pada sebuah angan dia mengulang tanya.
Tak ada jawaban.



Jakarta, 29 Agustus 2018.
-N.P