Senin, 17 September 2018

Sebuah Tanya

Sejenak dia termenung.
Begitu banyak tanya menari-nari dikepala dia.
Meminta jawaban.
Berharap, jawaban yang dia inginkan.

Kau memang bukan yang pertama.
Tapi dia ingin kau menjadi akhir.
Menghabiskan sisa umur dia bersama lelaki terakhir;
Seperti harapan dia, lelaki itu adalah engkau.
Sudah sejak lama dia dan sepi berkarib.
Berharap bila ada kau, sepi akan meninggalkan dia.

Kau mungkin tak paham.
Betapa berartinya setitik perhatian yang dia rasa.
Meski hanya sebuah kalimat :
"Kamu, semangat selalu." Yang terucap.
Kau tidak terbiasa dengan perhatian perhatian kecil yang dia inginkan.
Karena kau terbiasa dengan ketidakpedulian.
Bukan ketidakpedulian karena kau benar benar tidak peduli, melainkan karena kau terbiasa dengan kehidupan yang mandiri.

Bagimu, mungkin dia belum terlalu berarti.
Namun untuk dia, kau terlanjur jatuh ke relung hati.

Sempat tersirat dalam benak penuh tanya.
"Lebih baik mana diantara dua jenis lelaki yang ada didunia ini, lelaki yang pendiam ataukah lelaki yang cuek namun diam-diam perhatian?"

Lagi-lagi dia bertanya, hanya riuh sekeliling yang terdengar.
Tidak ada jawaban.
Sebab kalimat kalimat tersebut hanya bergema dihati, tak ada suara terucap.

Adakah kau rasa suara hati dia?
Pada sebuah angan dia mengulang tanya.
Tak ada jawaban.



Jakarta, 29 Agustus 2018.
-N.P

Tidak ada komentar:

Posting Komentar