Hanya butuh 3600 detik darinya, mampu mengikis 157.680.000 detik perih peninggalan dia.
Sebab 3600 detik darinya, bergerak perlahan menghapus luka disetiap detakan nya.
Disetiap detik yang berdetak, kujumpai jujur berjalan bersamanya.
Disetiap detik yang berdetak, kudapati suka cita terucap dari bibirnya.
Disetiap detik yang berdetak, lagi, dan lagi... semakin aku tahu segala detikdetik yang lalu tak lagi berarti untuk diratapi.
Karena aku ingin disetiap detik yang akan datang, kan kuisi dengan kehadiran dia yang selama 3600 detik yang lalu, mengisi beranda hati itu dan mampu meluluh lantakkan 157.680.000 detik penuh kesia-siaan dimasa kelamnya.
Ketika 3600 detik menghujam 157.680.000 detik,
ratusan juta detik itu tlah mati; tak lagi berdetak, terkubur dalam ruang masa lalu. Karena masa depan kan terus bergerak, bersama 3600 detik yang akan terus berdetak, bersamanya.
Bekasi, 26 Agustus 2018.
N.P
Senin, 27 Agustus 2018
Sabtu, 18 Agustus 2018
Kunang Kunang
Hai, kau terbang hampiri malamnya yang kelam.
Terbang sekian kilometer menyusuri malam yang panjang.
Hingga akhirnya, kau terhenti disatu mawar layu itu.
Memenuhi kelopak hatinya dengan cahaya kebahagiaan.
Cahayamu menerangi gelapnya malam malam panjang.
Kau hapus gelisah gelisah dalam gelapnya sekeliling.
Namun kau singgah bukan untuk selamanya,
Kau kembali mengembara menerangi mawar mawar lain.
Akankau kau kembali?
Sang Kunang kunang di langit malam.
Jakarta. 18 Agustus 2018.
Terbang sekian kilometer menyusuri malam yang panjang.
Hingga akhirnya, kau terhenti disatu mawar layu itu.
Memenuhi kelopak hatinya dengan cahaya kebahagiaan.
Cahayamu menerangi gelapnya malam malam panjang.
Kau hapus gelisah gelisah dalam gelapnya sekeliling.
Namun kau singgah bukan untuk selamanya,
Kau kembali mengembara menerangi mawar mawar lain.
Akankau kau kembali?
Sang Kunang kunang di langit malam.
Jakarta. 18 Agustus 2018.
Langganan:
Postingan (Atom)