Denting jarum jam yang bedetak.
Suara kodok mengalun tak kenal lelah.
Heningnya malam... gigil yang semakin menusuk dipetengahan malam.
Disana, dia bersandar pada keheningan mendengarkan cerita anehku yang kesepersekian.
Disini, aku menatap langit-langit kamar gulitaku dan bercerita lalu banyak bertanya dengan penuh tanya tentang keanehan yang sama-sama kami miliki.
Tidak ada yang lebih menyenangkan saat menetertawakan dia di percakapan tengah malam itu. Hahaha...
Masih teringat jelas perihal penyebutan kebun disebelah rumah dan dendangan suara kodok yang membersamai.
Lucu.
Segala macam topik telah diperbincangkan.
Sebentar hening... sebentar mencari, apakah disana matanya masih terjaga.
"Hey..."
"Hey..." jawabnya. Dia masih terjaga.
Sebenarnya aku lebih suka mendengarkan, lebih suka menerima cerita dibanding harus bercerita. Sebab dengar mendengarkan teman-temanku bercerita, aku bisa mendapatkan pelajaran sekaligus bisa memberikan pendapat yang mungkin bisa sedikit menenangkan hati mereka diwaktu yang bersamaan.
Tapi kali ini, aku banyak bicara.
Dalam percakapan tengah malam yang tanpa direncanakan, aku menjadi belajar berbicara dengan cara terbaikku untuk bisa menyampaikan apa yang ingin aku utarakan.
Kehidupan sehari-hariku, film favoriteku, hal yang aku sukai dan tidak aku sukai, bahkan hal remeh temeh lain nya yang aku ceritakan dengan nya.
Dia memahami aku.
Dan aku pun bisa memaham dia.
Aku bertanya pada dia, "Aku aneh ya?".
Dia pun menjawab, "Aku juga aneh. Kita sama-sama aneh".
Pecakapan tengah malam itu berakhir tiga jam kemudian. Dia menghabiskan waktu dan menahan kantuk untuk bisa mendengar dan bercerita denganku.
Mungkin jika percakapan itu berakhir sedikit lebih lama, kami masih akan berbicara hal absurd lain nya.
Dan kalimat terakhir yang aku dengar dalam penutupan percakapan itu adalah "Dadah..." suara yang dikeluarkannya dengan berbisik.
Akhir Januari, 31.01.21
-N.P
Minggu, 31 Januari 2021
Percakapan Tengah Malam
Rabu, 27 Januari 2021
Dear Di~
Dear Di,
Hari ini tanggal 26 Januari 2021 saat perjalanan gw menuju kantor, bayangan tentang lo berlalu lalang dalam kepala gw. Suara lo, buat gw terngiang-ngiang. Percakapan semalam sejak pukul 22.06 yang berakhir tepat ditengah malam masih terekam jelas. Gw nggak tahu kenapa hal tersebut bisa terjadi dimana semestinya gw harus bisa untuk tidak merasakan debaran - debaran ini. Yang tidak pernah gw pinta, yang tidak pernah gw harapkan. Sebelum semakin dalam, sebelum gw terjerembab dalam perasaan itu sendirian. Dan semua itu belum lama terjadi dari waktu awal gw mengenal lo. Sebelumnya gw masih merasa biasa saja, senyum - senyum namun tanpa debaran saat membaca ataupun membalas pesan dari lo. Hal yang pada umumnya terjadi.
Bahkan ketika lo berkomentar dalam tulisan yang gw post beberapa saat lalu : "Apa si, salah gw nggak balas semalem ini ceritanya? ya nanti di balas sampe kelar deh. Galau mulu nggak di omongin sini, nebak lagi kan gw." yang dikirimkan pada jam 22.28 10 Januari 2021 lalu.. Tak lama kemudian, lo kembali mengirimkan pesan : "Gw ngechat cewe cuma lu doank, nggak ada yang lain.. Gw cuek ya, keliatan begitu ?" Dikirim jam 22.32 dan karena belum ada balasan dari gw, lo mengirimkan pesan lagi di jam 22.52 dua puluh menit setelah pesan kedua dikirimkan : "Ngambek ni ceritanya." Dengan emoticon tertawa lo mengirimkan pesan itu. Bukan hanya melalui pesan messenger facebook saja tapi via whatsapp pun lo mengirimkan pesan yang berusaha menjelaskan tentang ketidakhadiran orang lain atau lebih tepatnya teman perempuan yang sedang dekat dengan lo. Perasaan gw saat itu sangat tersentuh namun belum ada debaran-debaran dihati gw. Dan gw pun menjelaskan perihal rasa yang tidak bisa dipaksakan meskipun pada akhirnya mungkin gw bisa jatuh cinta lagi pada entah siapa, mungkin lo ataupun orang lain nantinya. Seperti yang lo sudah tahu klo gw ini bisa melakukan hal yang tidak bisa ditebak saat gw sudah nekat untuk bisa melakukan hal yang gw bilang "Kalau bukan sekarang, kapan lagi."...
Tapi, semua itu berubah kini.
Tanpa gw pinta, debaran itu telah terjadi. Dan gw benar-benar merasakan dan bisa mendengar degupan jantung ini sama seperti ketika selesai berlari. Begitu terasa dan terdengar jelas. Kapan tepatnya semua itu terjadi? Dalam percakapan inilah debaran dan air mata ini bersatu, membaca pesan ini melelehkan bulir bulir dimata gw.
Percaya nggak sama perasaan gw saat itu? Percaya nggak dengan apa yang gw tulisan perihal semua yang tlah terjadi sejak awal perkenalan gw dengan lo?
Dear Di..
Sejak tanggal 13 itu, gw membiarkan perasaan itu berjalan dengan sendirinya. Meski tanpa gw pinta, pada akhirnya dia datang juga, dan dia memilih lo sebagai orang teristimewa yang telah membangunkan degupan dalam hati gw. Yang selama ini gw jaga dengan erat agar hati gw ini tidak kembali merasakan patah sebab selalu mencintai sendirian. Runtuh sudah pertahanan dalam hati gw sebab air mata ketulusan yang gw rasakan saat itu.
Di, gw nggak bisa menolak ketika perasaan ini telah terlanjur ada dalam hati gw. Gw juga nggak bisa memaksa lo agar bisa merasakan hal yang sama. Lalu gw harus apa? Gw bisa apa ketika Tuhan telah memberikan anugrah terindah untuk setiap hambanya, Cinta.. Perasaan ini, sudah amat sangat gw dekap erat-erat agar tidak ada lagi luka yang terasa seperti sebelumnya pernah gw rasa. Padahal gw belum kenal betul dengan sebenar - benarnya diri lo. Ketemu aja belum pernah, tapi sudah diberikan debaran dalam hati ini tanpa dipinta.
Hingga pada akhirnya gw seperti terbangun dari mimpi panjang gw selama ini. Ketika gw membaca kalimat yang pernah lo ucapkan pertama kali untuk tidak menunggu lo dan coba membuka hati gw untuk yang lain. Perasaan gw saat itu masih bisa merespon dengan diselingi tawa kecil. Lucu.. debaran yang belum terasa, dan kedekatan yang masih terasa manis. Tapi saat kalimat tersebut dikirimkan kembali untuk kali kedua, ada rasa nyeri didada dan air mata ini tak dapat gw cegah untuk nggak berjatuhan. Dan disaat itu pula lah gw sadar, gw seperti terbangun dari mimpi panjang gw selama ini... terciptalah kalimat seperti yang gw tuliskan dibawah :
"Hari ini engkau menyadarkanku, bahwa hal yang selama ini aku anggap ada ternyata tidaklah ada.
Aku bermimpi.
Bertemu dengan dia yang selama ini aku kira nyata.
Lalu aku terbangun dari mimpiku selama ini.
Aku tak tahu, jika semua itu hanyalah mimpi, mengapa rasanya bisa sesakit ini?
Dadaku terasa sesak.
Bulir dimataku berjatuhan bersamaan dengan sesak yang kurasa.
Jadi sebenarnya, inikah kenyataan ataukah mimpi yang selama ini mengurungku hingga terjebak disana terlalu lama?
Hingga menganggap dia benar-benar ada."
23.01.21
Dan gw tidak membalas pesan itu sebab rasa pedih nya masih amat sangat gw rasa. Disaat gw sadar gw nggak bisa mengendalikan debaran sebab tlah jatuh cinta pada lo, disaat itu pula gw harus menerima kenyataan bahwa lo memang masih biasa saja terhadap gw, dan gw pun nggak tahu bagaimana isi hati lo yang sesungguhnya. Meski lo pernah memberitahukan ke gw, bahwa hanya gw yang saat ini perempuan satu-satunya berkomunikasi sama lo.
Dear Di,
Gw paham betul maksud lo mengirimkan kalimat itu lagi. Tapi ketika lo berkata "Jangan tunggu gw. Buka hati lo untuk yang lain. Gw masih asik sendiri." Itu menyadarkan gw betapa sakitnya, dan terasa begitu sesak, mengetahui bahwa mungkin gw akan kembali mengalami hal yang selama ini gw takutkan, cinta sendirian. Terulang kembali? duh nggak mau lagi!
Di, disaat lo meminta gw untuk memilih, gw nggak bisa memilih karena memang nggak ada yang bisa untuk dipilih. Karena gw masih sendiri dan nggak ada orang lain yang saat ini mendekati gw atau gw dekati. Jadi gw nggak bisa memilih...
Di...
Hanya gw kan yang manggil lo dengan sebutan ini. Di..
Di.. saat gw berkata klo gw bilang klo gw baik-baik saja saat lo bertanya keadaan gw, sebenarnya gw nggak baik-baik saja di. Tapi gw berusaha untuk baik-baik saja demi menenangkan lo. Demi agar lo nggak memikirkan gw. Krn gw nggak mau membebankan orang lain. Di, pernah nggak sih terbersit sedikit saja tentang gw dikepala lo? Hehe... begitu ingin tahunya gw tapi hanya mampu bertanya dalam tulisan ini. Di, jangan paksa gw untuk bisa membuka hati untuk orang lain yang jelas jelas tidak ada keberadaan nya ya, biar waktu dan campur tangan Tuhan saja yang mengatur. Dan untuk saat ini, gw akan belajar menahan perasaan gw agar tidak semakin dalam. Gw akan belajar menjaganya lebih erat lagi, biar kalau gw terluka rasanya nggak terlalu sakit. Gw ini cengeng Di, kalau berurusan dengan orang yang gw sayang. Hati gw lemah, bisa dengan mudahnya air mata ini mengalir jika berurusan dengan hal yang berarti dalam hidup gw. Gw nggak minta lo untuk percaya Di, gw cuma mau sharing aja...
Dear Di,
Nggak terasa loh gw menuliskan semua ini sejak dari berangkat ngantor sampai sudah pulang kantor dan waktu telah menujukkan pukul 19.38, begitu ingin nya gw menyampaikan semua perasaan gw ke lo meski lo nggak membaca tulisan ini. Hehe.. aneh ya gw, yang penting gw sudah menyalurkan semuanya disini. Mau lo baca atau nggak, bukan tujuan utama gw. Di, terkadang gw merasa bahwa lo benar - benar ada buat gw, sebab dari awal gw kenal lo dulu, lo nggak pernah berbuat seperti yang akhir - akhir ini lo lakukan. Apa karena kita sama-sama tahu bahwa kita itu tipe orang yang sama? Sama-sama sensitif, melankolis, memiliki pengalaman yang sama? Semenjak cerita kita berdua saling diutarakan, lo jadi lebih terasa "ada" dibandingkan dulu yang selalu terlihat sibuk, sama seperti beranda dalam whatsapp lo yang menuliskan "ada tapi sibuk". Biasanya nggak pernah bales chat cepet, tapi kini bisa dibalas cepat. Bagaimana Di klo tiba-tiba nanti gw menghilang dari hidup lo? Apa lo bakal kangen sama gw? Apa lo bakal teringat terus tentang gw? Banyak yah pertanyaan gw ini yang nggak akan bisa lo jawab, sebab gw bertanya pada layar handphone gw bukan bertanya langsung sama lo. Seperti berbicara sendiri, dan terasa agak melegakan karena iya gw berani menuliskan semua ini...
Di... udah ah gw capek mau menuliskan banyak pertanyaan lainnya. Gw bermimpi bisa bertemu lo, setelah gw bangun, ternyata lo memang tidak ada didalam mimpi gw maupun dunia nyata gw. Di, gw nggak mengharapkan apa-apa dari lo, sebab gw sadar berharap sama manusia tuh nggak enak! Gw berharap sama Tuhan yang terbaik untuk hidup gw dengan berpasrah bagaimana caranya Ia mengatur hidup gw dengan semestinya.
Dear Di, sehat terus ya. Semoga bahagia selalu mengiringi disetiap lo melangkah. Semoga Tuhan membukakan pintu rejeki yang paling luas pada pintu-pintu yang ada di bumi dan di langit dan memerikan kecukupan rejeki yang melimpah mengalir bak sungai yang tak berujung. Aamiin.
Bekasi-Jakarta, 26.01.21
Big Hugs,
-N.P
Senin, 18 Januari 2021
Aku Pasti Bisa.
Jika aku harus kembali merasakan ketakutanku akan cinta seperti yang telah lalu-lalu, yaitu mencintai sendirian, dimana aku akan kembali melewati fase kehilangan, penolakan, cinta yang bertepuk sebelah tangan, dan sakitnya diabaikan. Aku pasti bisa menahklukan kembali waktu tersulit dalam merelakan dan melepas segala rasa yang telah terlanjur mengisi ruang teristimewa dalam hatiku.
Aku pasti bisa menelan pahitnya rindu ketika berdatangan.
Aku pasti bisa mengabaikan rasa khawatirku terhadapnya.
Aku pasti bisa menahan degupdegup tak beraturan disetiap aku teringat tentangnya.
Aku pasti bisa melewati semuanya.
Seperti yang telah kulalui sebelumnya. Lima tahun tergantung dalam kondisi yang sia-sia. Kalau masa tersulit di lima tahun terabaikan bisa kulalui, lalu yang kurang dari satu tahun saja aku tak bisa? aku HARUS bisa..
IYA... AKU PASTI BISA!
AKU.....
PASTI......
BISA...........
Tuhan, jaga hatiku. Aku tak mau merasakan cinta kepada yang belum halal bagiku hingga terlalu dalam.
Jika engkau restui, pasti engkau kan datangkan dia untukku dengan cara terbaikMu. :')
11.11.18
-N.P
Adakah sebuah tempat yang mampu menyambutku dengan sebuah peluk?
Kamu mungkin tidak mampu membuat orang lain mengerti keadaan hatimu, tapi kamu harus mampu mengerti orang lain yang tidak mampu mengerti tentang suara dalam hatimu.
Sebab, apapun dan bagaimanapun kamu menjelaskan, mereka akan tetap merasa kecewa dengan dirimu.
Aku tidak punya tempat untuk berlari, aku tidak punya tempat untuk mengadu. Hanya kepada diriku sendiri, aku berjalan. Hanya kepada diriku sendiri, aku berpulang.
Adakah sebuah tempat yang mampu menyambutku dengan sebuah peluk?
Lagi.. dan lagi.
Aku hanya melihat bayangan diriku sendiri yang selalu ada dibelakangku.
19 Oktober 2019.
-N.P
#Tired #Poems
Kerinduanku.
Ingin pergi, mematikan sejenak penat yang melanda. tapi kuterjebak dalam ruang sunyi didalam diri.
Ingin pergi, bersamamu... mendengarkan ceritamu... didamaikan hatiku olehmu.. namun pertemuan tak lagi mengijinkan semua itu, sebab tlah lama kamu meninggalkanku didunia fana ini. kamu tlah bersatu bersama bumi.
Kita berada di dimensi berbeda, rasanya baru kemarin aku mendatangimu. Meninggalkan segala kegelisahan yang berkecamuk didalam dada. Melupakan kekesalan berada disini, tempat yang disebut "rumah". Setiap kali rasa menyesakkan itu kurasa, setiap kali itu pula tanganku mengirimkan pesan untuk bertemu. Berada didekatmu, aku rindu. Meski tak pernah lisanku berucap tentang apa yang hatiku rasa, kau selalu tahu isi didalamnya. Kemudian kau berusaha untuk menghiburku, mengalihkan pikiran dan kendalikan emosi yang meluap-luap didalam ruang hatiku.
Hei, aku rindu.
Sangatlah rindu.
Bolehkah kita kembali bertemu?
Walau hanya dalam dunia mimpiku?
Hei, sudah terlalu lama. Enam tahun terasa lama sekali, selama itu pula aku menahan untuk tidak menangis kala memikirkanmu. Berharap kamu saat ini ada didepanku dan bisa kujadikan sandaranku walau hanya untuk sekali saja. Kau pernah melihat wajah jelekku ketika menangis waktu itu bukan? ijinkanlah aku untuk bisa menunjukkan nya sekali lagi.. Tangisanku waktu itu adalah tangisan pertama dan terakhir yang kutunjukkan dihadapanmu, sebab selama 2 tahun kita berteman, tak pernah aku menangis dihadapanmu bukan?
Aku dan kamu sama-sama dilahirkan menjadi anak pertama. Dan kita sama-sama memiliki hati yang sensitif, itukah sebab yang menjadikan kita saling terikat, saling memahami, sama-sama tahu seperti apa rasanya ketika kita tidak mampu bersuara meluapkan apa yang hati rasa?
Aku masih ingat betul apa yang kau ucap enam tahun lalu untukku, terima kasih kamu mengucapkan itu langsung dihadapanku. Aku rindu... rindu sekali....
Terima kasih tlah menjadi tempatku tuk singgah dikala perasan-perasan tak mengenakkan ini memberondong hati dan otakku.
Terima kasih tlah memahami setiap kata yang tak pernah ku ucap.
Terima kasih untuk tiga tahun persahabatan kita.
"Dear my lovely bestfriend ever, i loved you so much. May allah giving you a beautiful paradise to be your places right now, Jannah Firdaus.."
Bekasi, 27.07.19
❤, Your Bestfriend.
-N.P
Karena, selain pasrah dan doa, aku tak memiliki apa-apa.
Diantara suara riuh musik yang diputar pada bagian produksi; suara langkah kaki yang berlalu lalang; suara mesin fotocopy yang terdengar tak henti-hentinya; suara seseorang yang sedang bercakap ditelepon dua blok dari meja kerjaku; aku merasa sendiri. aku merasa sepi. dan banyak berfikir kelak tak akan lagi kudengar suara-suara itu.
Terkadang aku takut memikirkan bagaimana takdir akan menyambutku dimasa depan. Meski aku tahu betul, perihal jodoh, rejeki, hidup dan mati telah diatur jauh 50.000 tahun sebelum aku dilahirkan. Tetap saja aku hanya manusia yang lemah, tidak berdaya, yang masih memiliki rasa "takut" akan apa yang terjadi selajutnya.
Bagaimana aku akan mendapatkan pekerjaan baru nanti bila telah selesai masaku berada ditempat kerja yang sekarang.
Aku berjalan sendirian.
Aku butuh seseorang yang mampu meredakan akan rasa takutku akan masa yang akan datang.
Aku butuh seseorang yang tak pernah lelah menemaniku disaat aku sedang merasa sendirian.
Aku butuh seseorang yang mampu tenangkan jiwaku yang terkadang risau tanpa alasan.
Aku butuh seseorang yang mampu memecah resah disetiap aku merasa khawatir yang berkepanjangan.
Aku butuh tempat untuk pulang.
Aku butuh tempat untuk bersandar.
Aku butuh yang seperti aku butuhkan.
Ingin ku rebahkan jiwa lelahku dipelukmu.
Ingin ku rebahkan jiwa lelahku dibahumu.
Seseorang yang kuat ataupun mencoba untuk kuat, masih sangatlah membutuhkan orang lain tuk menjadi tempatnya bersandar, berkeluh kesah, berbicara, berbagi, mencari ketenangan jiwa jika bersamanya.
Seorang motivator pun butuh dimotivasi oleh orang lain ketika ia merasakan lelah dalam jiwanya agar ia mampu berdiri kuat tuk menjalani hidupnya.
Aku tak tahu, bagaimana dan apa yang akan terjadi dalam hidupku kedepan.
Aku hanya meminta, baiklah.... baiklah yang kan menghampiriku dalam hidupku esok, lusa, dan selanjutnya.
Karena, selain pasrah dan doa, aku tak memiliki apa-apa.
Jakarta, 07.11.18
With Love,
-N.P
Jumat, 15 Januari 2021
Dahulu.
Tiga tahun lalu aku pernah berharap :
"Dia adalah cerita terakhir yang ingin kutulis dalam keabadian."
Namun ternyata, keabadian tak menginginkan dia tuk kuabadikan dalam setiap tulisan dibuku kehidupanku. Saat itu.
Hingga pada akhirnya aku terbangun dari harapan - harapan yang bisa saja menenggelamkan aku dalam lautan tangis jika aku tak pernah membuka mataku waktu itu.
Aku memahami, betapa besar inginku yang tak sebanding dengan kenyataan bahwa dia tak pernah benar-benar menginginkan aku ada dalam kehidupan nya. Ah... betapa naif nya aku. Terjerembab sebab manisnya ucapan dia yang selalu membuat hatiku berbunga-bunga namun sebenarnya hanyalah omong kosong belaka.
Kulanjutkan perjalananku, menulis kisah baru yang akan kutemui dimasa depanku. Entah kali ini siapa yang akan kutemui disana, diujung perjalananku mencari rumah untuk kusinggahi sepanjang hidupku.. Rumah tempat aku berpulang.
Bukan melulu cerita penuh lara, namun cerita penuh cita dan cinta yang ingin kutuliskan disana.
Bukan lagi tentang dia, tetapi tentang kita. Semoga~
15.01.21
-N.P


