Janjiku tak pernah kutepati, karena aku belum berhasil mendapatkan mimpiku untuk menerbitkan kisah ini dalam majalah yang telah kukirimi kisah ini, kisah antara aku dan dia..
Hingga kini, 2 tahun tlah berlalu..
Kisah ini hanya mampu kutuliskan dalam blog sederhana ini..
Terima kasih, kau telah mengijinkan aku meminjam namamu..
Dua Tahun Lalu....
Saat pertama kali aku melihatnya, aku
terpaku. Diam seribu bahasa melihat sosok lelaki itu, dalam benakku berkata
“Siapa ia, siapa namanya ?”. Lelaki itu begitu menyita perhatianku, dia
memiliki senyuman paling manis yang pernah kulihat, mata coklatnya begitu
indah, suaranya bagai simponi yang mengalun merdu, dan aku sangat menyukainya.
Tak kusangka aku bisa mengenalnya sekarang.
Dia adalah kawan baik kakak kelasku,
Jefri. Dan aku mengenal kak Jefri dengan baik karena ia adalah kekasih sahabatku
Marsya. Memang tak ada yang mengetahui takdir seseorang termasuk diriku, tak
percaya aku bisa mengenalnya hingga saat ini. Tuhan memang adil kepada setiap
makluknya, saat aku sedang merasa terpuruk karena masalahku dengan seseorang terdahulu,
Tuhan memberikan aku sebuah anugerah terindah yang tak henti-hentinya kusyukuri
yaitu mengenal Dia.
Dia adalah Rijal, mahasiswa semester 6
disebuah universitas swasta di Bekasi. Aku begitu mengaguminya sejak pertama
kali aku melihatnya. Awal pertemuanku dengannya adalah ketika aku, Marsya,
Rosda, Yanti, dan Rahma ingin mengerjakan tugas kuliah yang sudah menumpuk.
Kami mengerjakan tugas itu dirumah Rosda. Bagaimana aku bisa mengetahui
namanya, adalah ketika aku dan sahabatku mengerjakan tugas itu Marsya datang bersama
Kak Jefri.
Dzhur sudah waktunya, dan adzan pun
berkumandang. Kak Jefri lekas berangkat ke Mesjid Al-Barkah yang lokasinya
tepat di dekat rumah Rosda. Aku datang terlambat kerumah Rosda. Ketika aku sampai dirumah Rosda, Marsya telah
sampai terlebih dahulu. Yanti dan Rahma pun belum datang. Kami bertiga menunggu
kedatangan mereka. Cuaca mendung, langit sedang tak bersahabat saat itu. Marsya
pun yang teringat bahwa kekasihnya masih berada di Mesjid berinisiatif meminjam
payung untuk diantarkan ke Kak Jefri.
“Rosda, aku pinjam payung yah. Untuk Kak
Jefri, kasihan nanti kehujanan.” Lalu dengan segera Rosda mengambil payung dan
menemani Marsya ke Mesjid. Sementara aku sendirian menunggu mereka kembali, aku
mencoba mengerjakan tugas sendiri. Tak lama kemudian mereka datang sambil
tertawa. Aku pun heran, apa yang membuat mereka tertawa hingga begitu kerasnya.
“Kalian kenapa sih? Sepertinya ada sesuatu yang membuat kalian tertawa begitu
lepasnya ? ayo dong ceritain sama aku.” Kemudian Marsya menjawab “Itu tadi kita
lihat cowok manis, temannya Kak Jefri.” “iya loh, sudah manis ganteng pula!”
seru Rosda.
Aku penasaran dengan sosok lelaki itu,
siapa sih dia? Hingga membuat kedua sahabatku ini begitu seriusnya membicarakan
sosok itu. Tak lama kemudian Kak Jefri datang dan Marsya langsung menceritakan
tentang ekspresi Rosda saat mengantar payung tadi. Ternyata saat Kak Jefri
datang, Kak Rijal pun ikut bersamanya namun tak ikut masuk kerumah Rosda. Marsya
memanggil Kak Jefri, kemudian berkata bahwa ada yang ingin berkenalan dengan
Kak Rijal. Dan Marsya meneriakkan nama Rosda dan namaku Ana. Lalu kak Rijal pun
datang menghampiri kami, sikapku hanya berpura-pura tidak menginginkan
perkenalan itu karena aku ini adalah perempuan yang sangat pemalu. Sesaat
setelahnya, Kak Rijal dan Kak Jefri pergi untuk membeli makan siang.
Aku diam, aku tak tahu harus berbuat apa
dan bagaimana ketika aku melihatnya. Kak Rijal sedikit mirip dengan masa
laluku, rasa “galau” tiba-tiba datang begitu saja ketika berjumpa dengannya
saat itu. Entah rasa bahagia atau rasa sedih saat pertama kali Kak Jefri
mengajak Kak Rijal kerumah Rosda yang kurasakan. Disatu sisi aku teringat akan
masa laluku, dan disisi lain aku sedikit terkejut karena ternyata seseorang
yang kuperhatikan diam-diam kini ada dihadapanku.
Saat kulihat senyumnya, detak jantungku
berdenyut tak beraturan bagaikan seorang atlit lari yang tak berhenti berlari
sebelum sampai garis finish, penglihatanku seakan-akan terhipnotis hanya
melihat dirinya, nafas sejenak terasa berhenti. Oh tuhan, dirinya yang hanya
bisa kulihat dengan jarak yang jauh kini berada tepat diantara kami. Diantara
aku, ke empat sahabatku dan Kak Jefri. Dia ada disini, dan ini semua terasa
seperti mimpi. Mimpi indah yang tak pernah kubayangkan akan menjadi nyata.
Teringat senyum manisnya yang ia
sunggingkan, buatku melayang ke atas awan. Begitupun kata sahabat-sahabatku
tentang senyumnya, namun ketika aku mendengar Marsya membicarakan tentangnya
aku merasa sedih sekali. Terlebih karena keadaanku saat ini sedang dalam menghilangkan
rasa kegalauanku terhadap seseorang yang berada jauh disana. “Kak Rijal itu ada
rencana mau balikan sama mantannya, mantanya itu adalah cewek yang paling sulit
untuk dia lupain. Karena mantannya sudah benar-benar membekas dihatinya”.
Seketika aku terdiam, merenung, berfikir
apa yang harus aku lakukan karena kenyataan yang kutahui itu ? dada terasa
sesak, dunia seakan berputar hingga membuatku merasa pusing, dan tak tahu harus
berbuat apa dan bagaimana. “Kenapa harus begini lagi ?” tanyaku dalam hati. “Ya
tuhan, cukup aku merasa sakit hati lagi untuk yang kesekian kalinya. Karena aku
lelah selalu merasakan kisah cinta yang tak pernah berakhir bahagia.” Cukup
kukagumi dirinya dalam kesendirianku, tanpa ada yang mengetahuinya kecuali aku
dan Tuhan.
Kusembunyikan perasaanku terhadap
dirinya dari sahabat-sahabatku, karena aku tahu begitu banyak yang mengagumi
Kak Rijal. Aku hanya bisa terdiam, saat mendengar sahabatku menggoda salah satu
temanku yang dikaitkan dengan Kak Rijal. Aku berpura-pura tak melihat canda
tawa mereka dihadapanku. Teringat akan kata-kata Marsya, aku pun mencari tahu
hanya untuk mengetahui siapa perempuan yang sudah membuat Kak Rijal begitu
mencintainya. Melalui akun sosialnya aku melihat foto wanita itu, dan hatiku
berbicara “ya wanita itu cantik, tentu saja Kak Rijal sangat ingin kembali
berada disisinya. Mungkin juga sikap dan sifat wanita itu yang begitu baik
dimatanya, membuat Kak Rijal ingin selalu berada didekatnya”.
Aku tersadar, siapa diriku ini. Aku
hanya perempuan biasa yang jauh dari kata “Sempurna”. Membayangkan Kak Rijal
membuatku semakin enggan, enggan untuk menceritakan semua perasaanku kepada
sahabat-sahabatku. Menahan perasaan itu membuatku selalu terpikirkan akan sosok
Kak Rijal. Aku bisa menemuinya, berbicara dengannya, hanya melalui mimpiku
disepanjang malam. Aku bahagia walau sosoknya tak nyata, aku bahagia walau
hanya di mimpi saja. Mimpi adalah dunia yang mampu memberikan aku jalan untuk
bisa bersamanya.
Walau ketika aku tersadar dan bangun
dari mimpi itu, Kak Rijal hanya menjadi bayang-bayang ilusi yang tak bisa
kusentuh. Namun aku bisa merasakan kehadirannya, menemaniku melewati setiap
adegan yang telah ditulis dalam skenario Tuhan. Terima kasih Tuhan kau buatku
bahagia walau hanya sesaat. Banyak cerita indah yang telah kuukir melalui
mimpiku.
Kuliah hari ini berjalan membosankan,
beruntung mata kuliah ini pun selesai dengan cepat. Kuliah telah usai, waktunya
pulang kerumah. Namun ketika kulangkahkan kaki diatas anak tangga, ada yang
terasa berbeda. Perasaanku pun terjawabkan, dilantai 2 ada Kak Jefri dan Kak
Rijal disana. Lantas Marsya lekas menghampiri kekasihnya itu, dan aku hanya
bisa diam terpaku ketika untuk pertama kalinya aku melihat Punggung bidangnya
Kak Rijal.
Ya Tuhan, ingin sekali rasanya aku
berkeluh kesah, menumpahkan semua rasa gelisahku ini di punggungnya. Menangis
dan menceritakan semua rasa gelisah ini kepadanya. Tapi aku sadar, aku tidak
bisa. Karena ia hanya melihatku sekali dan tak mengetahui namaku. “aku Ana kak,
Ana yang pernah kamu lihat di rumah Rosda” hatiku terus meneriakkan kata-kata
itu untuknya. Kak Rijal memakai t-shirt hitam saat itu, membuat aku semakin
terpesona padanya. Seandainya ia tahu apa yang kurasa saat itu, seandainya.
Aku berusaha melupakan perasaanku
terhadapnya. Namun apa daya, aku selalu bertemu dengannya disetiap kali aku
ingin melupakannya. Mimpilah yang membuatku menyerah untuk melupakannya, karena
dunia itulah yang mampu membahagiakan diriku saat bersama dengannya. Dunia itu
yang menghancurkan tekadku melupakan Kak Rijal, medorong aku terjatuh dalam
dunia yang tak ingin aku tinggalkan. Mimpi, dan bermimpi akan dirinya lagi yang
membuatku semakin dalam menyukainya.
Aku terjebak dalam perasaan ini,
perasaan menyakitkan dan tak ada yang mengetahuinya. Ingin sekali rasanya aku
menceritakan tentang semua rasa ini kepada sahabatku. Tapi aku tidak bisa. Aku
masih teringat akan kata-kata Marsya tentang niat Kak Rijal untuk kembali
merajut kasih bersama mantan keksaihnya. Mengingat rasa sayang yang masih
tersimpan dalam hati Kak Rijal untuk mantan kekasihnya. Rasanya aku tak ingin
menghentikan perasaan Kak Rijal terhadap mantan kekasihnya, karena aku tak
ingin melihat ia terluka. Betapa besar rasa sayang yang masih tersimpan untuk
mantan kekasihnya, aku tak ingin mengambilnya.
Bagiku , bahagia Kak Rijal adalah
kebahagiaanku juga. Kurasa aku tak sanggup melihat ia terluka, sedih, bahkan
mengeluarkan air mata. Mungkin menurut orang lain aku ini perempuan bodoh
berkata seperti itu, tapi inilah aku. Aku yang tak ingin melihat orang yang aku
sayangi terluka. Tak peduli apa kata orang lain tentangku, yang terpenting
adalah aku tahu siapa diriku. Dan aku tahu perasaanku sendiri.
Terlalu banyak kata untuk
mengekspresikan perasaanku ini. Untuk membuatnya melupakan mantan kekasihnya aku
tak tahu caranya. Perasaan seseorang tak bisa dipaksakan, begitupun mungkin
perasaan Kak Rijal. Terlepas dari perasaanku yang kusembunyikan ini, ingin
sekali rasanya aku menceritakan semua ini kepada sahabat-sahabatku. Tak ingin
kurasakan cinta dalam hati ini sendirian. Aku membutuhkan kalian, tapi aku
tidak bisa memberitahukan kalian tentang semua ini.
Aku tidak bisa.
Lama kupendam perasaan ini, sejak 9
April 2012 dan aku masih enggan untuk memberitahukan siapapun tentang perasaan
ini. Menyimpan semua rasa cinta dalam hati itu, sungguh sangat menyiksa. Apa
yang harus kulakukan ? Rasanya ingin sekali aku berlari, menghampiri
sahabat-sahabatku dan menceritakan semuanya.
Tapi aku menyerah, karena sudah tak
sanggup menahan semua rasa cinta dalam hati ini. Aku menceritakan semua ini
kepada sahabat SMA ku Ririn. Hanya dia yang kini mengetahui perasaanku, sedikit
lega yang kurasa kini karena aku memiliki tempat berbagi. Walau aku belum
menceritakan kepada Marsya, Rosda, dan Yanti tentang semua ini, setidaknya aku
tak menyimpan rasa ini sendirian lagi. Ada Ririn yang menjadi tempat
pengaduanku kini. Walau Ririn tak sepenuhnya mengetahui apa yang kurasa.
Setidaknya ia membantuku melewati perasaan ini bersama.
Bulan telah berganti, Juni kini
kujalani. Masih tetap menyimpan semua perasaan ini sendiri. Lama sudah tak
kulihat sosoknya. Berminggu-minggu telah kulalui tanpa kehadirannya, bahkan
sepertinya ia enggan menemaniku walau itu hanya dalam mimpi. Rasanya kampus ini
begitu sepi saat tak kulihat Kak Rijal dimanapun. Kosong, sepi, hening yang
kurasa setiap harinya. Mataku terus mencari-cari Kak Rijal disetiap sudut
kampus. Namun tetap saja dirinya tak tampak jua. Pikiranku melayang-layang. Tak
fokus dengan pembicaraan yang sahabat-sahabatku celotehkan.
Seminggu telah berlalu. Malam pun tiba,
entah mengapa hatiku merasa begitu sakit. Mungkinkah karena aku terlalu
berharap bisa melihatnya, walupun kulihat dirinya dari jarak yang jauh
sekalipun.
Harapan yang terlalu besar itu masih berjalan-jalan dipikiranku.
Hingga saat berada di rumah pun aku masih tetap berharap tentangnya. Air mata
mulai mengalir, hati terasa tak karuan. Saat seperti ini, yang aku butuhkan
adalah semangat. Semangat dari sahabat-sahabatku. Tapi aku masih menyembunyikan
perasaanku. Aku belum bercerita kepada ketiga sahabatku. Karena ketidak
sanggupan aku menahan rasa ini sendiri lagi, aku memberitahukan kepada Rosda
tentang semua ini.
Lega rasanya tak menyimpan semua rasa
cinta dalam hati ini sendiri lagi. Kini Rosda telah mengetahuinya, dan aku
meminta Rosda untuk memberi tahu Marsya dan Yanti juga. Dan akhirnya mereka
semua telah mengetahuinya. Mereka juga mendukung diriku agar tetap berjuang
untuk mendapatkan cintaku. Mereka juga selalu mengejekku karena aku menyukai
kak Rijal. Aku tersipu malu dibuatnya. Mereka memang menyebalkan sekaligus
menyenangkan. Aku meminta Rosda, Marsya, dan Yanti untuk tidak memberitahukan
perasaanku ini kepada Kak Jefri. Karena aku tak ingin Kak Jefri menceritakan
semua isi hatiku kepada kawan baiknya yaitu Kak Rijal.
Ketika aku sedih, kini aku tak
merasakannya sendirian lagi. Ada mereka, sahabatku yang setia mendengarkan
curahan hatiku kapanpun. Dan mereka memberikan aku semangat agar tetap bertahan
mempertahankan perasaanku kepada Kak
Rijal. Perlahan-lahan aku mencoba keluar dari sifat asliku yang pemalu, agar
bisa mengenal Kak Rijal lebih dekat. Aku belajar tak mengulangi kesalahanku
yang pernah aku lakukan di masa laluku. Aku memang bodoh mengenai cinta. Aku
tak ingin jatuh didalam lubang yang sama.
Aku mendapatkan pin BlackBerry Kak Rijal. Awalnya aku enggan untuk meng- Invite pin BlackBerry nya. Karena aku tahu Kak Rijal tidak mungkin meng- Invite pin BlackBerry ku lebih dulu, kuberanikan diri untuk memulainya lebih
awal. Dia menerima aku menjadi teman di BlackBerry
nya. Bahagia sekali rasanya saat itu. Hal-hal yang menurut orang lain
sepele, bagiku itu sungguh sangat luar biasa. Semua usahaku untuk mengenal
lebih jauh tentang nya, tak berhenti sampai disitu saja. Aku masih tetap
mencoba mengenal Kak Rijal, dengan cara mengajaknya berbicara di BlackBerry Messenger . Munkin inilah
jalan Tuhan untukku, agar aku bisa mengenal dirinya lebih jauh. Ya, melalui Blackberry Messenger.
Beberapa hari setelah aku meng- Invite nya, aku tidak berkomunikasi lagi
dengannya. BlackBerry Messenger nya
off untuk beberapa hari. Dirinya pun masih tak terlihat dikampus. Senyum
manisnya hingga kini masih telihat dalam bayang-bayangku. Terkadang aku senyum
sendiri saat aku sedang memikirkannya. Seperti orang gila, ya memang apa adanya
seperti itu. Aku mungkin gila, gila karena cinta. Satu hari berlalu. Dua hari
ia masih tetap belum muncul. Tiga, empat, dan lima hari pun telah berlalu. Dan
akhirnya, dihari ke enam. Ada pemberitahuan di BlackBerry Messenger ku, aku melihat ia baru saja mengganti foto DP
nya.
Saat melihat foto DP barunya, aku
tercengang. Foto DP nya adalah gambar punggung Kak Rijal dan disekitarnya aku
melihat seperti sebuah tempat yang tenang dan memang tempat yang cocok untuk
menyendiri. Aku merasakan ada sesuatu yang mengharuskan aku untuk bertanya
padanya. Maka dari itu aku bertanya. Walau awalnya aku hanya bercanda dan
menggodanya tentang foto DP itu, tapi pada kenyataan nya jawaban atas perasaan
yang mengganjal dihatiku pun terjawab. Dia mengatakan bawa foto DP nya adalah
ekspresi perasaan nya saat ini. Semakin aku bertanya, jawabannya semakin
membuatku terharu. Ingin rasanya saat itu aku berada didekatnya, setidaknya
untuk menemani dirinya yang kesepian.
Memeluknya dan mengelus punggungnya, dan
membuat ia merasa tak frustasi dan sendirian lagi. Seandainya aku bisa, ingin
sekali aku membuatnya tersenyum. Membantu semua masalah-masalahnya. Dalam
percakapanku dengan Kak Rijal di BlackBerry
Messenger itu aku memberikan semangat untuk dirinya. Dan menyadarkan ia,
bahwa ia tidak sendirian disana. Kak Rijal masih memiliki Tuhan yang selalu
berada disampingnya, masih ada teman-temannya dan masih ada keluarganya. “kamu
masih memiliki Ana Kak Rijal, Ana selalu ada disini untuk mendukung kamu”
kataku dalam hati. Seandainya saja aku bisa mengatakan itu secara langsung.
Yang ku inginkan adalah melihat Kak Rijal bahagia.
Setelah spirit kuberikan kepadanya, ia
tersadar akan keberadaannya yang memang tidaklah sendiri. Ia mengucapkan terima
kasih kepadaku. Aku lekas menjawabnya dan masih memberikan ia semangat.
Kukirimkan kata-kata yang bisa membuatnya tertawa. Dan aku berhasil. Aku
membuatnya tersenyum kembali. Kak Rijal, seandainya kamu tahu bagaimana
perasaan Ana saat mengetahui kakak tertawa. Ana sangat bahagia. Bahkan kali ini
rasa bahagia itu melebihi apapun yang pernah membuat Ana merasa bahagia. Seandainya
saja Kak Rijal tahu, dan melihat ekspresi diwajah Ana. Seandainya...
Keesokkan harinya aku masih mengawali
pembicaraan kami di BlackBerry Messenger.
Kali ini aku memintanya untuk mengganti foto DP nya. Dan entah karena ia
mendengarkanku atau memang keinginanya sendiri, Kak Rijal mengganti foto DP
nya. Kali ini bukan punggung nya lagi yang menjadi foto DP nya. Tapi
pemandangan hijau nan sejuk yang terasa, Bandung mungkin adalah lokasi dimana
ia berfoto. Dan mungkin perasaannya kini lebih baik dari pada kemarin malam.
Itu membuatku tenang. Ku awali lagi chat dengannya, “Beautifull place in you’re
DP” kataku. Kak Rijal membaca statusku yang bertuliskan tentang lagu ayah. Ia
bertanya kepadaku tentang lagu ayah tersebut. Kemudian menceritakan lagu ayah
dari Seventeen Band yang membuatnya begitu tersentuh ketika Kak Rijal
mendengarkan lagu itu. Kukatakan kalau aku tak mempunyai lagu yang Kak Rijal
maksud tersebut.
Tak lama kemudian ia mengirimkan aku
lagu ayah dari Seventeen, tanpa aku pinta. Setelah itu kudengarkan lagu
tersebut. Ya , lirik yang mengalun dalam lagu tersebut memang bisa membuatku
tersentuh. Lagu pertama yang membuat Kak Rijal tersentuh dikirimkan nya
kepadaku. Aku sangat menghargainya, aku mengerti maksud Kak Rijal memberikan
lagu itu kepadaku. Aku mengerti perasaanmu Kak Rijal, aku mengerti sekali. Aku
pun mengirimkan Kak Rijal sebuah lagu yang bisa membuatku tenang dikala aku
sedang merasa gundah. Kukatakan kepadanya apa maksudku mengirimkan lagu
tersebut. Semoga disaat ia merasakan sesuatu yang tak karuan, ia bisa
memutarnya da perasaannya menjadi lebih baik.
Malam selanjutnya, aku urungkan niatku
untuk mengawali chat dengannya. Namun tangan ini sepertinya tak sejalan dengan
niatku. Tetap kutahan hasrat tangan ini. Dan kemudian aku berhasil menahannya.
Pikiranku pun berusaha untuk teralihkan dengan memikirkan sesuatu selain Kak
Rijal. Ya, aku berhasil lagi. Lalu tepat pukul 00.18 awal Juli 2012 Kak Rijal
mengirimkan aku BlackBerry Messenger untuk
yang pertama kalinya. Walaupun kata-kata yang tertulis menurutnya itu tidaklah
penting, tapi bagiku itu sangatlah penting. Kata-kata pertama yang ia kirimkan
adalah “Jago nih english nya,bagus. Good night, met bobo” dan kata-kata itu
membuatku bahagia bukan kepalang.
Kak Rijal membaca status BBM ku yang
bertuliskan “I saw you.. i wanted you.. i got you.. i
liked you.. i loved you..but i don’t want to lost you,because if i lost you
i’ll miss you..” sebuah kata-kata yang bermaksud untuk dirinya. Andai saja ia
tahu kalau dirinya sudah membuatku begitu merasa bahagia, nyengar-nyengir
ditengah malam seperti ini, apa reaksinya Kak Rijal yah ? mungkinkan ia akan
merasa ilfeel ataupun sebaliknya. Hanya sampai disitu saja percakapanku
dengannya. Aku ingin sekali berkata kepadanya secara langsung. Apapun masalah
yang terjadi dalam hidup Kak Rijal, ingatlah bahwa Kak Rijal masih memiliki
Tuhan, Teman, Keluarga dan Ana disini. Walaupun Ana tidak dapat menyemangati
Kak Rijal secara langsung, tetapi Ana akan selalu menyemangati kakak dimanapun
Ana berada.
Entah bagaimana kelanjutan kisahku
dengan Kak Rijal, biarkan takdir yang menentukan. Hingga saat ini aku akan
terus berjuang berkat dukungan Marsya, Rosda, dan Yanti sahabatku. Aku akan
terus mengharapkan yang terbaik dikemudian hari. Kalaupun aku akan bersama
dengan Kak Rijal atau tidak, aku tetap bersyukur. Tuhan memberikan anugerah yang
indah karena aku bisa mengenalnya. Sosok lelaki yang kini kutahui namanya.
Bahkan aku bisa berteman dengannya hingga saat ini. Semoga kisahku akan indah
pada waktunya.
Secret Message = Kak Rijal, percayakah
bahwa apabila kakak tersenyum, Ana pun ikut tersenyum bersama kakak. Dan
apabila Kak Rijal bersedih, percayakah kakak jika Ana lebih sedih karena Ana
melihat Kak Rijal sedih. Bahagia Kak Rijal adalah bahagia Ana juga, dan air
mata Kak Rijal adalah luka Ana. Ana akan selalu mendoakan Kak Rijal dari sini.
Ingatlah kak, Kak Rijal masih memiliki Tuhan, Keluarga, Teman, dan Ana disini.
Jadi jangan pernah Kak Rijal merasa sendiri lagi. Ana sayang Kak Rijal.
Bekasi,
02 Juli 2012
With
Love, -Ana-
Hingga kini, kau masih belum mengetahui semua ini...
namun kau telah mengathui isi hati ini..