Kamis, 16 Mei 2013

Janji masa lalu..


Janjiku tak pernah kutepati, karena aku belum berhasil mendapatkan mimpiku untuk menerbitkan kisah ini dalam majalah yang telah kukirimi kisah ini, kisah antara aku dan dia..
Hingga kini, 2 tahun tlah berlalu..
Kisah ini hanya mampu kutuliskan dalam blog sederhana ini..
Terima kasih, kau telah mengijinkan aku meminjam namamu..


Dua Tahun Lalu.... 

Saat pertama kali aku melihatnya, aku terpaku. Diam seribu bahasa melihat sosok lelaki itu, dalam benakku berkata “Siapa ia, siapa namanya ?”. Lelaki itu begitu menyita perhatianku, dia memiliki senyuman paling manis yang pernah kulihat, mata coklatnya begitu indah, suaranya bagai simponi yang mengalun merdu, dan aku sangat menyukainya. Tak kusangka aku bisa mengenalnya sekarang.


Dia adalah kawan baik kakak kelasku, Jefri. Dan aku mengenal kak Jefri dengan baik karena ia adalah kekasih sahabatku Marsya. Memang tak ada yang mengetahui takdir seseorang termasuk diriku, tak percaya aku bisa mengenalnya hingga saat ini. Tuhan memang adil kepada setiap makluknya, saat aku sedang merasa terpuruk karena masalahku dengan seseorang terdahulu, Tuhan memberikan aku sebuah anugerah terindah yang tak henti-hentinya kusyukuri yaitu mengenal Dia.


Dia adalah Rijal, mahasiswa semester 6 disebuah universitas swasta di Bekasi. Aku begitu mengaguminya sejak pertama kali aku melihatnya. Awal pertemuanku dengannya adalah ketika aku, Marsya, Rosda, Yanti, dan Rahma ingin mengerjakan tugas kuliah yang sudah menumpuk. Kami mengerjakan tugas itu dirumah Rosda. Bagaimana aku bisa mengetahui namanya, adalah ketika aku dan sahabatku mengerjakan tugas itu Marsya datang bersama Kak Jefri.

Dzhur sudah waktunya, dan adzan pun berkumandang. Kak Jefri lekas berangkat ke Mesjid Al-Barkah yang lokasinya tepat di dekat rumah Rosda. Aku datang terlambat kerumah Rosda.  Ketika aku sampai dirumah Rosda, Marsya telah sampai terlebih dahulu. Yanti dan Rahma pun belum datang. Kami bertiga menunggu kedatangan mereka. Cuaca mendung, langit sedang tak bersahabat saat itu. Marsya pun yang teringat bahwa kekasihnya masih berada di Mesjid berinisiatif meminjam payung untuk diantarkan ke Kak Jefri.


“Rosda, aku pinjam payung yah. Untuk Kak Jefri, kasihan nanti kehujanan.” Lalu dengan segera Rosda mengambil payung dan menemani Marsya ke Mesjid. Sementara aku sendirian menunggu mereka kembali, aku mencoba mengerjakan tugas sendiri. Tak lama kemudian mereka datang sambil tertawa. Aku pun heran, apa yang membuat mereka tertawa hingga begitu kerasnya. “Kalian kenapa sih? Sepertinya ada sesuatu yang membuat kalian tertawa begitu lepasnya ? ayo dong ceritain sama aku.” Kemudian Marsya menjawab “Itu tadi kita lihat cowok manis, temannya Kak Jefri.” “iya loh, sudah manis ganteng pula!” seru Rosda.


Aku penasaran dengan sosok lelaki itu, siapa sih dia? Hingga membuat kedua sahabatku ini begitu seriusnya membicarakan sosok itu. Tak lama kemudian Kak Jefri datang dan Marsya langsung menceritakan tentang ekspresi Rosda saat mengantar payung tadi. Ternyata saat Kak Jefri datang, Kak Rijal pun ikut bersamanya namun tak ikut masuk kerumah Rosda. Marsya memanggil Kak Jefri, kemudian berkata bahwa ada yang ingin berkenalan dengan Kak Rijal. Dan Marsya meneriakkan nama Rosda dan namaku Ana. Lalu kak Rijal pun datang menghampiri kami, sikapku hanya berpura-pura tidak menginginkan perkenalan itu karena aku ini adalah perempuan yang sangat pemalu. Sesaat setelahnya, Kak Rijal dan Kak Jefri pergi untuk membeli makan siang.


Aku diam, aku tak tahu harus berbuat apa dan bagaimana ketika aku melihatnya. Kak Rijal sedikit mirip dengan masa laluku, rasa “galau” tiba-tiba datang begitu saja ketika berjumpa dengannya saat itu. Entah rasa bahagia atau rasa sedih saat pertama kali Kak Jefri mengajak Kak Rijal kerumah Rosda yang kurasakan. Disatu sisi aku teringat akan masa laluku, dan disisi lain aku sedikit terkejut karena ternyata seseorang yang kuperhatikan diam-diam kini ada dihadapanku.

Saat kulihat senyumnya, detak jantungku berdenyut tak beraturan bagaikan seorang atlit lari yang tak berhenti berlari sebelum sampai garis finish, penglihatanku seakan-akan terhipnotis hanya melihat dirinya, nafas sejenak terasa berhenti. Oh tuhan, dirinya yang hanya bisa kulihat dengan jarak yang jauh kini berada tepat diantara kami. Diantara aku, ke empat sahabatku dan Kak Jefri. Dia ada disini, dan ini semua terasa seperti mimpi. Mimpi indah yang tak pernah kubayangkan akan menjadi nyata.


Teringat senyum manisnya yang ia sunggingkan, buatku melayang ke atas awan. Begitupun kata sahabat-sahabatku tentang senyumnya, namun ketika aku mendengar Marsya membicarakan tentangnya aku merasa sedih sekali. Terlebih karena keadaanku saat ini sedang dalam menghilangkan rasa kegalauanku terhadap seseorang yang berada jauh disana. “Kak Rijal itu ada rencana mau balikan sama mantannya, mantanya itu adalah cewek yang paling sulit untuk dia lupain. Karena mantannya sudah benar-benar membekas dihatinya”.

Seketika aku terdiam, merenung, berfikir apa yang harus aku lakukan karena kenyataan yang kutahui itu ? dada terasa sesak, dunia seakan berputar hingga membuatku merasa pusing, dan tak tahu harus berbuat apa dan bagaimana. “Kenapa harus begini lagi ?” tanyaku dalam hati. “Ya tuhan, cukup aku merasa sakit hati lagi untuk yang kesekian kalinya. Karena aku lelah selalu merasakan kisah cinta yang tak pernah berakhir bahagia.” Cukup kukagumi dirinya dalam kesendirianku, tanpa ada yang mengetahuinya kecuali aku dan Tuhan.


Kusembunyikan perasaanku terhadap dirinya dari sahabat-sahabatku, karena aku tahu begitu banyak yang mengagumi Kak Rijal. Aku hanya bisa terdiam, saat mendengar sahabatku menggoda salah satu temanku yang dikaitkan dengan Kak Rijal. Aku berpura-pura tak melihat canda tawa mereka dihadapanku. Teringat akan kata-kata Marsya, aku pun mencari tahu hanya untuk mengetahui siapa perempuan yang sudah membuat Kak Rijal begitu mencintainya. Melalui akun sosialnya aku melihat foto wanita itu, dan hatiku berbicara “ya wanita itu cantik, tentu saja Kak Rijal sangat ingin kembali berada disisinya. Mungkin juga sikap dan sifat wanita itu yang begitu baik dimatanya, membuat Kak Rijal ingin selalu berada didekatnya”.


Aku tersadar, siapa diriku ini. Aku hanya perempuan biasa yang jauh dari kata “Sempurna”. Membayangkan Kak Rijal membuatku semakin enggan, enggan untuk menceritakan semua perasaanku kepada sahabat-sahabatku. Menahan perasaan itu membuatku selalu terpikirkan akan sosok Kak Rijal. Aku bisa menemuinya, berbicara dengannya, hanya melalui mimpiku disepanjang malam. Aku bahagia walau sosoknya tak nyata, aku bahagia walau hanya di mimpi saja. Mimpi adalah dunia yang mampu memberikan aku jalan untuk bisa bersamanya.


Walau ketika aku tersadar dan bangun dari mimpi itu, Kak Rijal hanya menjadi bayang-bayang ilusi yang tak bisa kusentuh. Namun aku bisa merasakan kehadirannya, menemaniku melewati setiap adegan yang telah ditulis dalam skenario Tuhan. Terima kasih Tuhan kau buatku bahagia walau hanya sesaat. Banyak cerita indah yang telah kuukir melalui mimpiku.

Kuliah hari ini berjalan membosankan, beruntung mata kuliah ini pun selesai dengan cepat. Kuliah telah usai, waktunya pulang kerumah. Namun ketika kulangkahkan kaki diatas anak tangga, ada yang terasa berbeda. Perasaanku pun terjawabkan, dilantai 2 ada Kak Jefri dan Kak Rijal disana. Lantas Marsya lekas menghampiri kekasihnya itu, dan aku hanya bisa diam terpaku ketika untuk pertama kalinya aku melihat Punggung bidangnya Kak Rijal.

Ya Tuhan, ingin sekali rasanya aku berkeluh kesah, menumpahkan semua rasa gelisahku ini di punggungnya. Menangis dan menceritakan semua rasa gelisah ini kepadanya. Tapi aku sadar, aku tidak bisa. Karena ia hanya melihatku sekali dan tak mengetahui namaku. “aku Ana kak, Ana yang pernah kamu lihat di rumah Rosda” hatiku terus meneriakkan kata-kata itu untuknya. Kak Rijal memakai t-shirt hitam saat itu, membuat aku semakin terpesona padanya. Seandainya ia tahu apa yang kurasa saat itu, seandainya.


Aku berusaha melupakan perasaanku terhadapnya. Namun apa daya, aku selalu bertemu dengannya disetiap kali aku ingin melupakannya. Mimpilah yang membuatku menyerah untuk melupakannya, karena dunia itulah yang mampu membahagiakan diriku saat bersama dengannya. Dunia itu yang menghancurkan tekadku melupakan Kak Rijal, medorong aku terjatuh dalam dunia yang tak ingin aku tinggalkan. Mimpi, dan bermimpi akan dirinya lagi yang membuatku semakin dalam menyukainya.


Aku terjebak dalam perasaan ini, perasaan menyakitkan dan tak ada yang mengetahuinya. Ingin sekali rasanya aku menceritakan tentang semua rasa ini kepada sahabatku. Tapi aku tidak bisa. Aku masih teringat akan kata-kata Marsya tentang niat Kak Rijal untuk kembali merajut kasih bersama mantan keksaihnya. Mengingat rasa sayang yang masih tersimpan dalam hati Kak Rijal untuk mantan kekasihnya. Rasanya aku tak ingin menghentikan perasaan Kak Rijal terhadap mantan kekasihnya, karena aku tak ingin melihat ia terluka. Betapa besar rasa sayang yang masih tersimpan untuk mantan kekasihnya, aku tak ingin mengambilnya.


Bagiku , bahagia Kak Rijal adalah kebahagiaanku juga. Kurasa aku tak sanggup melihat ia terluka, sedih, bahkan mengeluarkan air mata. Mungkin menurut orang lain aku ini perempuan bodoh berkata seperti itu, tapi inilah aku. Aku yang tak ingin melihat orang yang aku sayangi terluka. Tak peduli apa kata orang lain tentangku, yang terpenting adalah aku tahu siapa diriku. Dan aku tahu perasaanku sendiri.

Terlalu banyak kata untuk mengekspresikan perasaanku ini. Untuk membuatnya melupakan mantan kekasihnya aku tak tahu caranya. Perasaan seseorang tak bisa dipaksakan, begitupun mungkin perasaan Kak Rijal. Terlepas dari perasaanku yang kusembunyikan ini, ingin sekali rasanya aku menceritakan semua ini kepada sahabat-sahabatku. Tak ingin kurasakan cinta dalam hati ini sendirian. Aku membutuhkan kalian, tapi aku tidak bisa memberitahukan kalian tentang semua ini. 

Aku tidak bisa.


Lama kupendam perasaan ini, sejak 9 April 2012 dan aku masih enggan untuk memberitahukan siapapun tentang perasaan ini. Menyimpan semua rasa cinta dalam hati itu, sungguh sangat menyiksa. Apa yang harus kulakukan ? Rasanya ingin sekali aku berlari, menghampiri sahabat-sahabatku dan menceritakan semuanya.

Tapi aku menyerah, karena sudah tak sanggup menahan semua rasa cinta dalam hati ini. Aku menceritakan semua ini kepada sahabat SMA ku Ririn. Hanya dia yang kini mengetahui perasaanku, sedikit lega yang kurasa kini karena aku memiliki tempat berbagi. Walau aku belum menceritakan kepada Marsya, Rosda, dan Yanti tentang semua ini, setidaknya aku tak menyimpan rasa ini sendirian lagi. Ada Ririn yang menjadi tempat pengaduanku kini. Walau Ririn tak sepenuhnya mengetahui apa yang kurasa. Setidaknya ia membantuku melewati perasaan ini bersama.

Bulan telah berganti, Juni kini kujalani. Masih tetap menyimpan semua perasaan ini sendiri. Lama sudah tak kulihat sosoknya. Berminggu-minggu telah kulalui tanpa kehadirannya, bahkan sepertinya ia enggan menemaniku walau itu hanya dalam mimpi. Rasanya kampus ini begitu sepi saat tak kulihat Kak Rijal dimanapun. Kosong, sepi, hening yang kurasa setiap harinya. Mataku terus mencari-cari Kak Rijal disetiap sudut kampus. Namun tetap saja dirinya tak tampak jua. Pikiranku melayang-layang. Tak fokus dengan pembicaraan yang sahabat-sahabatku celotehkan.

Seminggu telah berlalu. Malam pun tiba, entah mengapa hatiku merasa begitu sakit. Mungkinkah karena aku terlalu berharap bisa melihatnya, walupun kulihat dirinya dari jarak yang jauh sekalipun. 

Harapan yang terlalu besar itu masih berjalan-jalan dipikiranku. Hingga saat berada di rumah pun aku masih tetap berharap tentangnya. Air mata mulai mengalir, hati terasa tak karuan. Saat seperti ini, yang aku butuhkan adalah semangat. Semangat dari sahabat-sahabatku. Tapi aku masih menyembunyikan perasaanku. Aku belum bercerita kepada ketiga sahabatku. Karena ketidak sanggupan aku menahan rasa ini sendiri lagi, aku memberitahukan kepada Rosda tentang semua ini.

Lega rasanya tak menyimpan semua rasa cinta dalam hati ini sendiri lagi. Kini Rosda telah mengetahuinya, dan aku meminta Rosda untuk memberi tahu Marsya dan Yanti juga. Dan akhirnya mereka semua telah mengetahuinya. Mereka juga mendukung diriku agar tetap berjuang untuk mendapatkan cintaku. Mereka juga selalu mengejekku karena aku menyukai kak Rijal. Aku tersipu malu dibuatnya. Mereka memang menyebalkan sekaligus menyenangkan. Aku meminta Rosda, Marsya, dan Yanti untuk tidak memberitahukan perasaanku ini kepada Kak Jefri. Karena aku tak ingin Kak Jefri menceritakan semua isi hatiku kepada kawan baiknya yaitu Kak Rijal.

Ketika aku sedih, kini aku tak merasakannya sendirian lagi. Ada mereka, sahabatku yang setia mendengarkan curahan hatiku kapanpun. Dan mereka memberikan aku semangat agar tetap bertahan  mempertahankan perasaanku kepada Kak Rijal. Perlahan-lahan aku mencoba keluar dari sifat asliku yang pemalu, agar bisa mengenal Kak Rijal lebih dekat. Aku belajar tak mengulangi kesalahanku yang pernah aku lakukan di masa laluku. Aku memang bodoh mengenai cinta. Aku tak ingin jatuh didalam lubang yang sama.


Aku mendapatkan pin BlackBerry Kak Rijal. Awalnya aku enggan untuk meng- Invite pin BlackBerry nya. Karena aku tahu Kak Rijal tidak mungkin meng- Invite pin BlackBerry ku lebih dulu, kuberanikan diri untuk memulainya lebih awal. Dia menerima aku menjadi teman di BlackBerry nya. Bahagia sekali rasanya saat itu. Hal-hal yang menurut orang lain sepele, bagiku itu sungguh sangat luar biasa. Semua usahaku untuk mengenal lebih jauh tentang nya, tak berhenti sampai disitu saja. Aku masih tetap mencoba mengenal Kak Rijal, dengan cara mengajaknya berbicara di BlackBerry Messenger . Munkin inilah jalan Tuhan untukku, agar aku bisa mengenal dirinya lebih jauh. Ya, melalui Blackberry Messenger.


Beberapa hari setelah aku meng- Invite nya, aku tidak berkomunikasi lagi dengannya. BlackBerry Messenger nya off untuk beberapa hari. Dirinya pun masih tak terlihat dikampus. Senyum manisnya hingga kini masih telihat dalam bayang-bayangku. Terkadang aku senyum sendiri saat aku sedang memikirkannya. Seperti orang gila, ya memang apa adanya seperti itu. Aku mungkin gila, gila karena cinta. Satu hari berlalu. Dua hari ia masih tetap belum muncul. Tiga, empat, dan lima hari pun telah berlalu. Dan akhirnya, dihari ke enam. Ada pemberitahuan di BlackBerry Messenger ku, aku melihat ia baru saja mengganti foto DP nya.


Saat melihat foto DP barunya, aku tercengang. Foto DP nya adalah gambar punggung Kak Rijal dan disekitarnya aku melihat seperti sebuah tempat yang tenang dan memang tempat yang cocok untuk menyendiri. Aku merasakan ada sesuatu yang mengharuskan aku untuk bertanya padanya. Maka dari itu aku bertanya. Walau awalnya aku hanya bercanda dan menggodanya tentang foto DP itu, tapi pada kenyataan nya jawaban atas perasaan yang mengganjal dihatiku pun terjawab. Dia mengatakan bawa foto DP nya adalah ekspresi perasaan nya saat ini. Semakin aku bertanya, jawabannya semakin membuatku terharu. Ingin rasanya saat itu aku berada didekatnya, setidaknya untuk menemani dirinya yang kesepian.


Memeluknya dan mengelus punggungnya, dan membuat ia merasa tak frustasi dan sendirian lagi. Seandainya aku bisa, ingin sekali aku membuatnya tersenyum. Membantu semua masalah-masalahnya. Dalam percakapanku dengan Kak Rijal di BlackBerry Messenger itu aku memberikan semangat untuk dirinya. Dan menyadarkan ia, bahwa ia tidak sendirian disana. Kak Rijal masih memiliki Tuhan yang selalu berada disampingnya, masih ada teman-temannya dan masih ada keluarganya. “kamu masih memiliki Ana Kak Rijal, Ana selalu ada disini untuk mendukung kamu” kataku dalam hati. Seandainya saja aku bisa mengatakan itu secara langsung. Yang ku inginkan adalah melihat Kak Rijal bahagia.


Setelah spirit kuberikan kepadanya, ia tersadar akan keberadaannya yang memang tidaklah sendiri. Ia mengucapkan terima kasih kepadaku. Aku lekas menjawabnya dan masih memberikan ia semangat. Kukirimkan kata-kata yang bisa membuatnya tertawa. Dan aku berhasil. Aku membuatnya tersenyum kembali. Kak Rijal, seandainya kamu tahu bagaimana perasaan Ana saat mengetahui kakak tertawa. Ana sangat bahagia. Bahkan kali ini rasa bahagia itu melebihi apapun yang pernah membuat Ana merasa bahagia. Seandainya saja Kak Rijal tahu, dan melihat ekspresi diwajah Ana. Seandainya...


Keesokkan harinya aku masih mengawali pembicaraan kami di BlackBerry Messenger. Kali ini aku memintanya untuk mengganti foto DP nya. Dan entah karena ia mendengarkanku atau memang keinginanya sendiri, Kak Rijal mengganti foto DP nya. Kali ini bukan punggung nya lagi yang menjadi foto DP nya. Tapi pemandangan hijau nan sejuk yang terasa, Bandung mungkin adalah lokasi dimana ia berfoto. Dan mungkin perasaannya kini lebih baik dari pada kemarin malam. Itu membuatku tenang. Ku awali lagi chat dengannya, “Beautifull place in you’re DP” kataku. Kak Rijal membaca statusku yang bertuliskan tentang lagu ayah. Ia bertanya kepadaku tentang lagu ayah tersebut. Kemudian menceritakan lagu ayah dari Seventeen Band yang membuatnya begitu tersentuh ketika Kak Rijal mendengarkan lagu itu. Kukatakan kalau aku tak mempunyai lagu yang Kak Rijal maksud tersebut.


Tak lama kemudian ia mengirimkan aku lagu ayah dari Seventeen, tanpa aku pinta. Setelah itu kudengarkan lagu tersebut. Ya , lirik yang mengalun dalam lagu tersebut memang bisa membuatku tersentuh. Lagu pertama yang membuat Kak Rijal tersentuh dikirimkan nya kepadaku. Aku sangat menghargainya, aku mengerti maksud Kak Rijal memberikan lagu itu kepadaku. Aku mengerti perasaanmu Kak Rijal, aku mengerti sekali. Aku pun mengirimkan Kak Rijal sebuah lagu yang bisa membuatku tenang dikala aku sedang merasa gundah. Kukatakan kepadanya apa maksudku mengirimkan lagu tersebut. Semoga disaat ia merasakan sesuatu yang tak karuan, ia bisa memutarnya da perasaannya menjadi lebih baik.


Malam selanjutnya, aku urungkan niatku untuk mengawali chat dengannya. Namun tangan ini sepertinya tak sejalan dengan niatku. Tetap kutahan hasrat tangan ini. Dan kemudian aku berhasil menahannya. Pikiranku pun berusaha untuk teralihkan dengan memikirkan sesuatu selain Kak Rijal. Ya, aku berhasil lagi. Lalu tepat pukul 00.18 awal Juli 2012 Kak Rijal mengirimkan aku BlackBerry Messenger untuk yang pertama kalinya. Walaupun kata-kata yang tertulis menurutnya itu tidaklah penting, tapi bagiku itu sangatlah penting. Kata-kata pertama yang ia kirimkan adalah “Jago nih english nya,bagus. Good night, met bobo” dan kata-kata itu membuatku bahagia bukan kepalang.

Kak Rijal membaca status BBM ku yang bertuliskan “I saw you.. i wanted you.. i got you..    i liked you.. i loved you..but i don’t want to lost you,because if i lost you i’ll miss you..” sebuah kata-kata yang bermaksud untuk dirinya. Andai saja ia tahu kalau dirinya sudah membuatku begitu merasa bahagia, nyengar-nyengir ditengah malam seperti ini, apa reaksinya Kak Rijal yah ? mungkinkan ia akan merasa ilfeel ataupun sebaliknya. Hanya sampai disitu saja percakapanku dengannya. Aku ingin sekali berkata kepadanya secara langsung. Apapun masalah yang terjadi dalam hidup Kak Rijal, ingatlah bahwa Kak Rijal masih memiliki Tuhan, Teman, Keluarga dan Ana disini. Walaupun Ana tidak dapat menyemangati Kak Rijal secara langsung, tetapi Ana akan selalu menyemangati kakak dimanapun Ana berada.


Entah bagaimana kelanjutan kisahku dengan Kak Rijal, biarkan takdir yang menentukan. Hingga saat ini aku akan terus berjuang berkat dukungan Marsya, Rosda, dan Yanti sahabatku. Aku akan terus mengharapkan yang terbaik dikemudian hari. Kalaupun aku akan bersama dengan Kak Rijal atau tidak, aku tetap bersyukur. Tuhan memberikan anugerah yang indah karena aku bisa mengenalnya. Sosok lelaki yang kini kutahui namanya. Bahkan aku bisa berteman dengannya hingga saat ini. Semoga kisahku akan indah pada waktunya.


Secret Message = Kak Rijal, percayakah bahwa apabila kakak tersenyum, Ana pun ikut tersenyum bersama kakak. Dan apabila Kak Rijal bersedih, percayakah kakak jika Ana lebih sedih karena Ana melihat Kak Rijal sedih. Bahagia Kak Rijal adalah bahagia Ana juga, dan air mata Kak Rijal adalah luka Ana. Ana akan selalu mendoakan Kak Rijal dari sini. Ingatlah kak, Kak Rijal masih memiliki Tuhan, Keluarga, Teman, dan Ana disini. Jadi jangan pernah Kak Rijal merasa sendiri lagi. Ana sayang Kak Rijal.



                                                                                                Bekasi, 02 Juli 2012



                                                                                                With Love, -Ana-


Hingga kini, kau masih belum mengetahui semua ini...
namun kau telah mengathui isi hati ini.. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar