"Menatap Cermin."
Kutatap sosok di depanku.
Matanya, terlihat tajam.
Bukan karena amarah yang mendalam,
Tetapi rasa yang terdalam.
Hari ini, dia berkata :
Dulu aku bisa melakukan apapun sendirian.
Kemamapun aku pergi, tak ada rasa yang membabani.
Tak ada kecemasan disetiap malam.
Sebelum ada lelaki itu, aku bahagia.
Dan seharusnya setelah mengenal lelaki itu, aku lebih bahagia.
Seorang temannya berkata :
"Jika kamu penting untuknya, tak peduli sejauh apapun dia kan datang menemuimu.
Jika kamu berarti untuknya, tak peduli sesibuk apapun; dia akan meluangkan waktunya."
Sejenak aku berfikir.
Tak ada kata "jika", sebab semua adalah harapku semata.
Aku yang berharap.
Mulai dari setitik harap, berakhir menjadi banyak harapan yang kini sulit untuk dikendalikan.
Tidak ada yang salah pada dirinya.
Karena akulah yang seharusny disalahkan, sebab untuk kesekian kalinya aku kembali berharap pada makhluk, dan bukan pada-Nya.
Ketika mulai debar debar tak menentu itu kurasa.
Ketika mulai ada rindu.
Ketika rasa khawatir berkecamuk.
Itulah awal mula setitik harapan ini tercipta.
Lalu, apa yang harus kulakukan?
Sejak harapan itu muncul, rasanya aku tak lagi mampu menahan cemburu.
Hanya dalam waktu satu setengaj bulan, duniaku berubah.
Dengan mudahnya aku terjerat, dan ada keinginan untuk memasuki dunianya.
Lalu menginginkan di memasuki duniaku.
Apakah aku kembali jatuh cinta?
Lagi, lagi aku berfikir terlalu jauh.
Adakah kau rasa?
"Sosok dalam cermin itu menyunggingkan senyum, agar dia terlihat lega."
Jakarta, 17 September 2018.
-N.P
Tidak ada komentar:
Posting Komentar