Hai Juli, 2021.
Bulan terberat yang gw lewati ditahun 2021 ini.
Bulan dimana hati gw di uji dengan ujian perasaan hingga membuat kondisi gw sejak awal bulan ini benar benar tidak dalam kondisi baik-baik saja.
Gw sadar, setiap kali gw sudah mulai memikirkan seseorang, merindukan orang tersebut hingga buat gw tidak fokus dengan segala kegiatan yang harus di lalui hari itu, begitu menyiksa batin dan raga gw.
Gw nggak tahu, mengapa perasaan gw terasa begitu meletup-letup setiap kali bayangan tentang dia muncul dikepala gw dan sangat menyiksa gw sebab untuk berucap kalau saat itu gw kangen dengan dia itu adalah hal yang tidak mampu gw lakukan.
Padahal rasanya kedua tangan ini ingin mengetik, "lagi apa?" "Gimana hari ini?" "Baik-baik sajakah lo?" Di whatsapp dan menekan tombol kirim saat itu juga, namun gw tahan. Beberapa hari pun tlah berlalu, hingga satu minggu kemudian kondisi gw memang benar-benar drop sekali saat itu orang rumah ada yang sakit, dan saat itu pun gw sudah merasa nggak enak badan. Sakit yang dilalui orang rumah menunjukkan gejala ke covid dan gw curiga dengan sangat bahwa orang rumah gw itu positif.
Demam pun datang menghampiri gw sejak jumat malam 9 Juli 2021, hanya dengan minum obat seadanya gw lewati masa-masa demam itu selama 3 hari namun kondisi masih tetap sama. Dihari ke empat tepat tanggal 12 Juli, dengan melihat kondisi orang rumah yang walaupun sudah tidak sakit namun mengabarkan kalau inda penciuman hilang dan demam yang ada dibadan gw belum hilang juga, gw teringat tentang pengalaman "Dia" yang pernah terpapar covid 19 ditahun 2020 lalu maka gw memberanikan diri untuk bertanya tentang pengalaman dia dulu.
Dan akhirnya, gw yang selama ini menahan diri untuk nggak whatsapp dia sejak awal bulan, memberanikan diri untuk bertanya sekaligus memang sangat ingin tahu kabarnya apakah dia baik-baik saja selama ini. Rindu sedikit terobati. Rasa cemas, gelisah, luruh seketika. Dan gw yang masih dalam kondisi belum pulih pun merasa deg-degan dengan berbagai macam perasaan yang bergemuruh di dalam dada. Rindu. Gelisah. Cemas. Khawatir. Setiap kali gw merasakan itu semua, gw hanya mampu menahannya sendirian. Namun kali ini, benar-benar buat kondisi gw menjadi "sakit", dan benarlah kali ini gw sakit.
Setiap malam tidur gw tidak pernah nyenyak. Pun ketika setelah memberanikan diri whatsapp Dia duluan dan bertanya perihal tentang sakitnya dulu, sore hari Senin 12 Juli itu, gw berobat ke klinik untuk memastikan apakah gw terpapar covid dengan swab antigen. Tak lama menunggu, hasil swab pun keluar. Kecurigaan gw benar adanya, gw positif terpapar covid 19. Seketika otak dan badan berjalan tidak seharusnya. Lupa jalan pulang kerumah sebab berangkat ke klinik pun gw sendirian. Malamnya, dia menjadi orang pertama yang gw kabari. Masih tidak nyenyak tidur gw malam itu, seperti mimpi, semua terasa seperti mimpi buat gw.
Gw nggak tahu bagaimana 14 hari yang harus gw lalui saat itu jika tanpa komunikasi dengan dia dan teman dekat gw yang lain nya. Dia sangat gw butuhkan dalam hidup gw. Iya gw sangat butuh dia bahkan saat ini, saat gw menulis ini satu bulan kemudian setelah gw dinyatakan negatif pada swab kedua tanggal 26 Juli lalu.
Malam ini, tanggal 28 Agustus 2021 begitu sangat ingin menuliskan tentang semua pengalaman saat di nyatakan positif covid 19 dan ingin memberitahukan bahwa diri ini sangat berterima kasih atas perhatian yang Dia berikan saat gw melewati masa terberat itu. Sungguh gw nggak tahu apa jadinya jika tanpa Dia. Tak tahu.
Di... makasih ya.
Makasih banyak...
Makasih Di...
Andai aja lo bisa baca tulisan gw ini. Hihi..
28.08.21
-N.P
Tidak ada komentar:
Posting Komentar