Kamis, 14 Maret 2013

Saranghaeyo Bad Boy



Rabu malam, 13 Maret 2013. Seharusnya aku senang dengan apa yang aku alami saat ini. Karena aku bertemu Korean’s Prince Of Ballad Eru. Namun yang aku pikirkan bukanlah pertemuan aku dengan Eru. Tapi lelaki yang kini entah sedang berada dimana. Aku tak tahu.
Aku merindukannya. Aku sangat menyayanginya. Dan aku tak bisa berbuat apa-apa karena aku bukanlah seseorang yang penting baginya.
Sebelumnya, aku bersama kawan baruku yang masih duduk di bangku sekolah mengikuti acara Meet and Greet with Eru. Aku datang sore hari ke tempat meet and greet itu. Kami berempat sangat senang bisa bertemu Eru. Dan acara itu hanya dihadiri oleh empat fans yang beruntung, aku salah satunya.
Hal yang tak pernah terbayangkan terjadi dalam hidupku, kini terjadi. Aku bertemu Eru. Sungguh aku tak percaya. Ketika Eru duduk tepat berada didepanku. Aku terpesona, aku tak bisa berkata apa-apa. Wajah yang tampan. Senyum yang menawan. Tinggi semampai. Kulit seindah dan sehalus porselen. Ahhhh... sempat tak percaya aku bisa berada sedekat ini dengan Eru, yang sabtu lalu mengisi acara Music Bank di Gelora Bung Karno.
Acara berjalan lancar, hingga tiba waktunya Eru harus meninggalkan kami. Namun sebelum meninggalkan tempat acara itu, kami sempat meminta tanda tangan dan berfoto bersama Eru.
Tiba giliran aku berfoto dengan Eru. Eru merangkul bahuku. Dan rasa dihatiku, tak bisa aku lukiskan dengan kata-kata. Aku hanya bisa bersyukur kepada-Nya atas semua yang terjadi kepadaku hari ini. Ini adalah tahun terdahsyat untukku.
Masih teringat jelas ketika Eru menyanyikan lagu “Kemesraan” dihadapan kami. Agak sedikit lupa lirik, kami ikut bernyanyi bersama dengan Eru. Pengalaman luar biasa bisa bersama dengan Eru selama 1 jam ini. Dan lagi, tak elak nya hatiku selalu mengucap syukur kepada-Nya.
Waktu sudah memasuki pukul 05.00 wib. Kami berempat beranjak pulang. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada penyelenggara Meet and Greet with Eru. Disaat perjalan pulang, aku masih merasa tak percaya kalau tadi aku bertemu Eru.
13 is my lucky number. Iya, itu angka keberuntunganku. Di dalam bis, aku melihat foto-foto bersama Eru tadi. Aku hanya bisa senyum-senyum sendiri. Aku berharap penumpang di sebelahku tidak berfikiran kalau aku “gila” karna senyumku itu.
Ah, tak apalah. Biar orang berkata dan berfikiran apa saja terserah mereka, aku tak peduli. Karna mereka tidaklah tahu apa yang aku alami hari ini.
Senja telah usai. Bulan menggantikannya. Aku masih di dalam bis. Semakin lama, semakin banyak penumpang yang berdatangan. Aku terdiam, melihat pemandangan dari balik kaca mobil. Begitu cepat, aku berfikir begitu cepat semuanya telah berlalu. Lelaki itu datang tanpa permisi dalam otakku. Yang memaksa aku untuk mengingatnya. Saat itulah Eru pergi dari lamunanku. Padahal baru beberapa jam yang lalu aku bertemu Eru.
Rasa senang dalam hati berubah menjadi rasa sesak yang tak tahu bagaimana menyembuhkannya. Aku membayangi lelaki itu yang aku kenal tahun lalu. Dengan perasaan sayang dan kerinduan yang tak kunjung reda, aku lagi-lagi berharap bisa bersama dengannya. Karna aku sadar, rasa kebahagiaanku saat aku bertemu dengan Eru tadi sore, tidaklah sebahagia saat aku melihat lelaki itu. Enggan aku menyebutkan namanya dalam kata demi kata dari bibirku. Namun hatiku selalu meneriakkan namanya.
“Risya... Risya.. aku sangat merindukanmu..” ingin rasanya aku mereiakkan itu kepadanya.
Dan lagi, aku ingin jujur berkata kepadanya langsung “Risya, tahukah kamu kalau hanya kamu yang menjadikan rasa bahagiaku sempurna. Hari ini aku bertemu Eru, yang masih membuatku tak percaya kalau aku bisa bertemu dengannya. Aku sangat bahagia bertemu Eru. Namun hatiku akan lebih merasa bahagia saat aku bisa melihatmu. Bahkan saat aku hanya bisa memandangimu dari balik kaca spion motorku.”
Andai dia lebih memahami bagaimana menjadi “diriku” yang hanya bisa menahan semua perasaan sendirian. Aku memang memiliki sahabat. Namun aku tak ingin menumpahkan semua rasa sakit dihatiku kepada mereka. Mereka telah banyak memiliki masalah, aku tak ingin menambah beban mereka. Aku hanya akan menceritakan semua keluh kesahku, ketika aku sudah tak mampu menahannya sendirian. Dan saat itulah sahabatku kecewa kepadaku. Mereka menyesali dan sangat kecewa dengan sikapku yang seperti itu.
Memendam perasaan sendirian, padahal aku punya mereka. “kenapa sih kamu baru bilang ke kita sekarang? Jujur, kita kecewa banget” celetuk piki, rosda dan yanti.
Aku hanya bisa terdiam, dan raut wajahku mengekspresikan rasa sesal.
“Maaf, aku nggak mau bilang karena aku nggak mau menyakiti siapapun atas perasaanku ke Risya” dengan cepat aku menjawab.
Aku tahu ada yang menyukai Risya secara terang-terangan. Dan orang itu tidak mengetahui perasaanku yang sudah lama menyukai Risya lebih awal.
Sekarang Risya sudah mengenalku. Dan ia mengetahui perasaanku.
Saat aku mengetahui Risya telah memiliki kekasih, aku memutuskan untuk tidak bersikap berlebihan lagi. Lebih memilih menahan diri menunjukkan perhatianku kepadanya. Aku enggan berkomunikasi lagi. Karena aku tak ingin perasaan itu semakin dalam tumbuh di hatiku.
Aku tahu kalau Risya adalah seorang “Bad Boy”. Tapi semua itu tak membuatku merasa jengah ataupun ilfeel. Aku mencintai dan menyayangi apa adanya dia. Bagiku Bad Boy memiliki kharisma tersendiri. Sudah kesekian kalinya aku selalu terjerat oleh kharisma seorang “Bad Boy”. Dan jujur, hanya Risya yang paling berbeda diantara lelaki Bad Boy lainnya. Ia berbeda. Dan perasaan yang aku rasakan pun berbeda dari sebelumnya. Hanya Risya satu-satunya “Bad Boy” paling special untukku.
Saat aku tahu kalau Risya sedang merasa sedih, yang aku rasakan jauh lebih sedih dan sakit yang teramat dalam merasuki relung hatiku. Pertama kalinya aku merasakan rasa sakit melebihi apapun. Sesak. Namun saat aku melihat Risya tersenyum, walau senyum itu bukanlah karena aku. Terasa melayang-layang saat itu, hanya karena aku melihatnya tersenyum.
Mungkin aku adalah wanita paling bodoh yang pernah ada. Aku mau menukar kebahagiaanku dengan kesedihannya. Hanya untuk membuat Risya bahagia. Aku tahu semua tentangnya, bahkan saat aku tahu kalau ia sedang merindukkan almarhumah mantan kesasihnya. Aku berusaha sekuat tenanga untuk menghiburnya. Menemaninya saat ia sedih. Memberikan motivasi, dan semua yang aku lakukan berhasil. Walau saat itu, sahabatku meneriakkan kata “bodoh banget sih kamu Ana, cowo seperti itu aja masih diharapkan.”
Aku marah, marah sekali kepada sahabatku Juni.
Aku tahu bagaimana perasaan Risya, ia tersiksa menahan rindu itu. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menahan rasa sakit yang ia rasakan saat itu. Karena seandainya wanita itu masih hidup, mungkin Risya dengan mudah mengetik nomor handphone dan berkata apapun yang ingin Risya utarakan.
“Hello, kamu nggak tahu rasanya menahan rindu seperti yang dirasakan oleh Risya sekarang! Dia sendirian Juni, dia nggak bisa menumpahkan isi hatinya kepada wanita itu. Karena wanita itu sudah nggak ada di dunia ini. Coba bayangkan bagaimana kalau semua itu terjadi sama kamu? Kamu akan merasakan hal yang sama seperti perasaan Risya saat ini.” Dengan kesal aku membalasnya.
Kini bis sudah memasuki tol Bekasi Timur. Lamunanku di pecahkan oleh teman baruku. Aku tak mendengar apa yang di bicarakan 2 teman baruku itu. Hingga dia berkata dengan suara agak keras kali ini. “Ka, nanti bareng yah naik kendaraan umum setelah turun dari bis ini.”
“oh iya, oke deh. Kita barengan nanti.
Bus berhenti didepan Bekasi Trade Center. Kami bertiga turun dari bus dan berjalan sebentar lalu menyebrangi jalan. Beruntung sedang berwarna merah lampu lalu lintasnya. Dengan cepat kami meyebrang. Lalu menaikki kendaraan umum selanjutnya. Hingga tiba waktunya kedua teman baruku yang masih duduk dibangku SMA itu turun lebih dulu. Kami saling memberikan salam perpisahan. Setelah itu, mobil kembali berjalan. Hanya tinggal beberapa penumpang saja. Aku melihat handphone. Sudah banyak bbm yang masuk. Menanti untuk dibaca.
Satu-persatu aku membaca dan membalas bbm dari teman-temanku. Mereka banyak yang bertanya tentang acara Meet and Greet with Eru tadi sore. Aku ceritakan semuanya.
Mobil masih berjalan. Penumpang semakin sedikit. Aku kembali termenung. Dan Risya masih mengisi otakku. Sesak. Hanya itu yang terasa. Seandainya ia tahu kalau hanya dirinya lah bahagia terbesar dalam hidupku. Perasaan tidak mengenakkan ini datang kembali. “seharusnya kamu bahagia Ana, bukan bersedih. Kamu baru saja bertemu idolamu.” Kataku dalam hati.
Aku merindukkan Risya. Walau aku tahu kata-kata Risya tentang dirinya sendiri kalau ia adalah Bad Boy dan ia tidaklah pantas untuk wanita sebaik diriku. Aku berusaha untuk mengikuti apa yang ia katakan. Namun hatiku lagi dan lagi menepis keinginanku untuk melupakan dia.
Kuceritakan semua kerisauanku kepada sahabatku Rosda. Di dalam mobil ingin sekali rasanya aku menangis. Tapi air mataku sepertinya sudah tak ingin mengeluarkan tetesannya. Karena ia sudah letih mengeluarkan nya untuk kesekian kalinya kepada orang yang sama. Aku sudah tak ingat, untuk yang keberapa kalinya aku menangis. Menangisi Risya.
Komentar Rosda tentang kerisauanku tidak seenak seperti yang aku bayangkan.
Eru memang tampan, rupawan, menarik dan selalu membuat fans nya histeris. Tapi rasa bahagia yang aku rasakan saat bertemu dengan Risya jauh lebih membuatku histeris.
Jantung ini bedegup kencang hanya ketika bertemu Risya.
Saranghaeyo Eru, tapi aku lebih merasa bahagia ketika aku mampu berteriak “Saranghaeyo Bad Boy Risya”.
Terima kasih banyak Eru untuk hari yang tak terlupakan untukku. Rabu, 13 Maret 2013 pukul 15.30 wib. Engkau membuat aku merasa bahwa seorang penyanyi tampan sepertimu tidaklah mampu menandingi Bad Boy yang ada didalam hatiku sejak April 2011 lalu.
Tapi sungguh, aku kagum denganmu Eru. Engkau ramah, baik, dan luar biasa. Aku sebagai fans dirimu, mendoakan yang terbaik untuk Eru sang superstar penyanyi lagu ballad yang setiap malam temani kegalauanku.
Dan untuk Bad Boy yang ada didalam hatiku, semoga kamu bisa tahu apa yang aku rasakan saat ini. Dimanapun kamu berada kini, Ana selalu mendoakanmu dan merindukanmu. Semoga kamu bahagia dengan seseorang yang ada dalam hatimu, siapapun itu jaga dia dan jangan pernah sia-siakan dia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar