Rabu malam, 13 Maret 2013. Seharusnya aku senang
dengan apa yang aku alami saat ini. Karena aku bertemu Korean’s Prince Of
Ballad Eru. Namun yang aku pikirkan bukanlah pertemuan aku dengan Eru. Tapi
lelaki yang kini entah sedang berada dimana. Aku tak tahu.
Aku merindukannya. Aku sangat menyayanginya. Dan aku
tak bisa berbuat apa-apa karena aku bukanlah seseorang yang penting baginya.
Sebelumnya, aku bersama kawan baruku yang masih duduk
di bangku sekolah mengikuti acara Meet and Greet with Eru. Aku datang sore hari
ke tempat meet and greet itu. Kami berempat sangat senang bisa bertemu Eru. Dan
acara itu hanya dihadiri oleh empat fans yang beruntung, aku salah satunya.
Hal yang tak pernah terbayangkan terjadi dalam
hidupku, kini terjadi. Aku bertemu Eru. Sungguh aku tak percaya. Ketika Eru
duduk tepat berada didepanku. Aku terpesona, aku tak bisa berkata apa-apa.
Wajah yang tampan. Senyum yang menawan. Tinggi semampai. Kulit seindah dan
sehalus porselen. Ahhhh... sempat tak percaya aku bisa berada sedekat ini
dengan Eru, yang sabtu lalu mengisi acara Music Bank di Gelora Bung Karno.
Acara berjalan lancar, hingga tiba waktunya Eru harus
meninggalkan kami. Namun sebelum meninggalkan tempat acara itu, kami sempat
meminta tanda tangan dan berfoto bersama Eru.
Tiba giliran aku berfoto dengan Eru. Eru merangkul
bahuku. Dan rasa dihatiku, tak bisa aku lukiskan dengan kata-kata. Aku hanya
bisa bersyukur kepada-Nya atas semua yang terjadi kepadaku hari ini. Ini adalah
tahun terdahsyat untukku.
Masih teringat jelas ketika Eru menyanyikan lagu
“Kemesraan” dihadapan kami. Agak sedikit lupa lirik, kami ikut bernyanyi
bersama dengan Eru. Pengalaman luar biasa bisa bersama dengan Eru selama 1 jam
ini. Dan lagi, tak elak nya hatiku selalu mengucap syukur kepada-Nya.
Waktu sudah memasuki pukul 05.00 wib. Kami berempat
beranjak pulang. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada penyelenggara Meet
and Greet with Eru. Disaat perjalan pulang, aku masih merasa tak percaya kalau
tadi aku bertemu Eru.
13 is my lucky number. Iya, itu angka keberuntunganku.
Di dalam bis, aku melihat foto-foto bersama Eru tadi. Aku hanya bisa
senyum-senyum sendiri. Aku berharap penumpang di sebelahku tidak berfikiran
kalau aku “gila” karna senyumku itu.
Ah, tak apalah. Biar orang berkata dan berfikiran apa
saja terserah mereka, aku tak peduli. Karna mereka tidaklah tahu apa yang aku
alami hari ini.
Senja telah usai. Bulan menggantikannya. Aku masih di
dalam bis. Semakin lama, semakin banyak penumpang yang berdatangan. Aku
terdiam, melihat pemandangan dari balik kaca mobil. Begitu cepat, aku berfikir
begitu cepat semuanya telah berlalu. Lelaki itu datang tanpa permisi dalam
otakku. Yang memaksa aku untuk mengingatnya. Saat itulah Eru pergi dari
lamunanku. Padahal baru beberapa jam yang lalu aku bertemu Eru.
Rasa senang dalam hati berubah menjadi rasa sesak yang
tak tahu bagaimana menyembuhkannya. Aku membayangi lelaki itu yang aku kenal
tahun lalu. Dengan perasaan sayang dan kerinduan yang tak kunjung reda, aku
lagi-lagi berharap bisa bersama dengannya. Karna aku sadar, rasa kebahagiaanku
saat aku bertemu dengan Eru tadi sore, tidaklah sebahagia saat aku melihat
lelaki itu. Enggan aku menyebutkan namanya dalam kata demi kata dari bibirku.
Namun hatiku selalu meneriakkan namanya.
“Risya... Risya.. aku sangat merindukanmu..” ingin
rasanya aku mereiakkan itu kepadanya.
Dan lagi, aku ingin jujur berkata kepadanya langsung
“Risya, tahukah kamu kalau hanya kamu yang menjadikan rasa bahagiaku sempurna.
Hari ini aku bertemu Eru, yang masih membuatku tak percaya kalau aku bisa
bertemu dengannya. Aku sangat bahagia bertemu Eru. Namun hatiku akan lebih
merasa bahagia saat aku bisa melihatmu. Bahkan saat aku hanya bisa memandangimu
dari balik kaca spion motorku.”
Andai dia lebih memahami bagaimana menjadi “diriku”
yang hanya bisa menahan semua perasaan sendirian. Aku memang memiliki sahabat.
Namun aku tak ingin menumpahkan semua rasa sakit dihatiku kepada mereka. Mereka
telah banyak memiliki masalah, aku tak ingin menambah beban mereka. Aku hanya
akan menceritakan semua keluh kesahku, ketika aku sudah tak mampu menahannya
sendirian. Dan saat itulah sahabatku kecewa kepadaku. Mereka menyesali dan
sangat kecewa dengan sikapku yang seperti itu.
Memendam perasaan sendirian, padahal aku punya mereka.
“kenapa sih kamu baru bilang ke kita sekarang? Jujur, kita kecewa banget”
celetuk piki, rosda dan yanti.
Aku hanya bisa terdiam, dan raut wajahku
mengekspresikan rasa sesal.
“Maaf, aku nggak mau bilang karena aku nggak mau
menyakiti siapapun atas perasaanku ke Risya” dengan cepat aku menjawab.
Aku tahu ada yang menyukai Risya secara
terang-terangan. Dan orang itu tidak mengetahui perasaanku yang sudah lama
menyukai Risya lebih awal.
Sekarang Risya sudah mengenalku. Dan ia mengetahui
perasaanku.
Saat aku mengetahui Risya telah memiliki kekasih, aku
memutuskan untuk tidak bersikap berlebihan lagi. Lebih memilih menahan diri
menunjukkan perhatianku kepadanya. Aku enggan berkomunikasi lagi. Karena aku
tak ingin perasaan itu semakin dalam tumbuh di hatiku.
Aku tahu kalau Risya adalah seorang “Bad Boy”. Tapi
semua itu tak membuatku merasa jengah ataupun ilfeel. Aku mencintai dan
menyayangi apa adanya dia. Bagiku Bad Boy memiliki kharisma tersendiri. Sudah
kesekian kalinya aku selalu terjerat oleh kharisma seorang “Bad Boy”. Dan
jujur, hanya Risya yang paling berbeda diantara lelaki Bad Boy lainnya. Ia
berbeda. Dan perasaan yang aku rasakan pun berbeda dari sebelumnya. Hanya Risya
satu-satunya “Bad Boy” paling special untukku.
Saat aku tahu kalau Risya sedang merasa sedih, yang
aku rasakan jauh lebih sedih dan sakit yang teramat dalam merasuki relung
hatiku. Pertama kalinya aku merasakan rasa sakit melebihi apapun. Sesak. Namun
saat aku melihat Risya tersenyum, walau senyum itu bukanlah karena aku. Terasa
melayang-layang saat itu, hanya karena aku melihatnya tersenyum.
Mungkin aku adalah wanita paling bodoh yang pernah
ada. Aku mau menukar kebahagiaanku dengan kesedihannya. Hanya untuk membuat
Risya bahagia. Aku tahu semua tentangnya, bahkan saat aku tahu kalau ia sedang
merindukkan almarhumah mantan kesasihnya. Aku berusaha sekuat tenanga untuk
menghiburnya. Menemaninya saat ia sedih. Memberikan motivasi, dan semua yang
aku lakukan berhasil. Walau saat itu, sahabatku meneriakkan kata “bodoh banget
sih kamu Ana, cowo seperti itu aja masih diharapkan.”
Aku marah, marah sekali kepada sahabatku Juni.
Aku tahu bagaimana perasaan Risya, ia tersiksa menahan
rindu itu. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menahan rasa sakit yang ia
rasakan saat itu. Karena seandainya wanita itu masih hidup, mungkin Risya
dengan mudah mengetik nomor handphone dan berkata apapun yang ingin Risya
utarakan.
“Hello, kamu nggak tahu rasanya menahan rindu seperti
yang dirasakan oleh Risya sekarang! Dia sendirian Juni, dia nggak bisa
menumpahkan isi hatinya kepada wanita itu. Karena wanita itu sudah nggak ada di
dunia ini. Coba bayangkan bagaimana kalau semua itu terjadi sama kamu? Kamu
akan merasakan hal yang sama seperti perasaan Risya saat ini.” Dengan kesal aku
membalasnya.
Kini bis sudah memasuki tol Bekasi Timur. Lamunanku di
pecahkan oleh teman baruku. Aku tak mendengar apa yang di bicarakan 2 teman
baruku itu. Hingga dia berkata dengan suara agak keras kali ini. “Ka, nanti
bareng yah naik kendaraan umum setelah turun dari bis ini.”
“oh iya, oke deh. Kita barengan nanti.
Bus berhenti didepan Bekasi Trade Center. Kami bertiga
turun dari bus dan berjalan sebentar lalu menyebrangi jalan. Beruntung sedang
berwarna merah lampu lalu lintasnya. Dengan cepat kami meyebrang. Lalu menaikki
kendaraan umum selanjutnya. Hingga tiba waktunya kedua teman baruku yang masih
duduk dibangku SMA itu turun lebih dulu. Kami saling memberikan salam
perpisahan. Setelah itu, mobil kembali berjalan. Hanya tinggal beberapa
penumpang saja. Aku melihat handphone. Sudah banyak bbm yang masuk. Menanti
untuk dibaca.
Satu-persatu aku membaca dan membalas bbm dari
teman-temanku. Mereka banyak yang bertanya tentang acara Meet and Greet with
Eru tadi sore. Aku ceritakan semuanya.
Mobil masih berjalan. Penumpang semakin sedikit. Aku
kembali termenung. Dan Risya masih mengisi otakku. Sesak. Hanya itu yang
terasa. Seandainya ia tahu kalau hanya dirinya lah bahagia terbesar dalam
hidupku. Perasaan tidak mengenakkan ini datang kembali. “seharusnya kamu
bahagia Ana, bukan bersedih. Kamu baru saja bertemu idolamu.” Kataku dalam
hati.
Aku merindukkan Risya. Walau aku tahu kata-kata Risya
tentang dirinya sendiri kalau ia adalah Bad Boy dan ia tidaklah pantas untuk
wanita sebaik diriku. Aku berusaha untuk mengikuti apa yang ia katakan. Namun
hatiku lagi dan lagi menepis keinginanku untuk melupakan dia.
Kuceritakan semua kerisauanku kepada sahabatku Rosda.
Di dalam mobil ingin sekali rasanya aku menangis. Tapi air mataku sepertinya
sudah tak ingin mengeluarkan tetesannya. Karena ia sudah letih mengeluarkan nya
untuk kesekian kalinya kepada orang yang sama. Aku sudah tak ingat, untuk yang
keberapa kalinya aku menangis. Menangisi Risya.
Komentar Rosda tentang kerisauanku tidak seenak
seperti yang aku bayangkan.
Eru memang tampan, rupawan, menarik dan selalu membuat
fans nya histeris. Tapi rasa bahagia yang aku rasakan saat bertemu dengan Risya
jauh lebih membuatku histeris.
Jantung ini bedegup kencang hanya ketika bertemu
Risya.
Saranghaeyo Eru, tapi aku lebih merasa bahagia ketika
aku mampu berteriak “Saranghaeyo Bad Boy Risya”.
Terima kasih banyak Eru untuk hari yang tak terlupakan
untukku. Rabu, 13 Maret 2013 pukul 15.30 wib. Engkau membuat aku merasa bahwa
seorang penyanyi tampan sepertimu tidaklah mampu menandingi Bad Boy yang ada
didalam hatiku sejak April 2011 lalu.
Tapi sungguh, aku kagum denganmu Eru. Engkau ramah,
baik, dan luar biasa. Aku sebagai fans dirimu, mendoakan yang terbaik untuk Eru
sang superstar penyanyi lagu ballad yang setiap malam temani kegalauanku.
Dan untuk Bad Boy yang ada didalam hatiku, semoga kamu
bisa tahu apa yang aku rasakan saat ini. Dimanapun kamu berada kini, Ana selalu
mendoakanmu dan merindukanmu. Semoga kamu bahagia dengan seseorang yang ada
dalam hatimu, siapapun itu jaga dia dan jangan pernah sia-siakan dia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar