Minggu, 24 September 2017

Perempuan yang bertahan dengan puisi

Senja yang retak
Kapal-kapal berlayar membawa kenangan
Air matamu menjelma puisi paling duri, paling angin
Suara-suara dikepala;

                "Haruskah aku mencintaimu?"
                "Haruskah aku berhenti mencintaimu?"
                "Haruskah ada kita?"
                 "Haruskah bila..."

Lalu malam menggeliat, membungkus semua tanya dan nyeri itu dalam sekantong besar puisi.. Yang lumer dimataku.
Katamu barangkali cinta 
memang akan selalu mempertaruhkan nama, rasa, cuaca dan masa
Tertatih menua, tergugu di gerbang janji yang terkunci.
Senja yang retak
Suara-suara dikepala
Dalam diam kadang ingin kutikam cintaku padamu berkali-kali..
Dengan pedang itu; Lara yang lancip terasah hari demi hari.
Dan puisi-puisi pasi yang perlahan menjelma gergaji.


Helvy Tiana Rosa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar