Kehilangan.
Fase yang selalu akan berulang kali terjadi. Karena aku masih "hidup" aku pasti akan menemuinya entah dihari apa, tahun berapa, dan siapa yang kali ini akan "pergi". Aku tahu betul, betapa pengecutnya hatiku untuk bisa menghadapi "kehilangan" untuk yang entah keberapa kalinya. Namun aku sadar, betapa kehilangan itu pasti terjadi, mau tidak mau, suka tidak suka. Dan aku takut.
Takut sendirian.
Takut ditinggalkan.
Takut kesepian.
Berbagai macam rasa tersebut bergumul dalam ruang hatiku. Dan aku hanya menyimpan rasa-rasa itu sendirian. Aku tak pernah berani bertanya KENAPA hal tersebut harus terjadi? kepada Nya. Aku tidak pernah bercerita kepada teman-temanku bagaimana rasanya "dipisahkan" dari mereka. Dan berpura-pura baik-baik saja ketika hari "Perpisahan" itu terjadi. Padahal didalam hati begitu ingin berkata "Jangan Pergi" tapi aku sadar, siapa aku? dan aku pun tidak bisa memaksa mereka untuk tetap disini, disisiku.
Sejujurnya, ketika aku merasakan takut, cemas, khawatir dalam hatiku, aku merasa seperti ada yang salah didalam diriku. Apakah karena aku tipe orang yang sensitif yang mudah tersentuh hatinya perihal rasa yang paling aku takuti itu? jadi seolah-olah rasanya terlalu berat untuk menerima kenyataan itu, tapi aku harus terima. Dan fase kehilangan yang kembali kualami bulan September 2020 karena teman dekatku akan resign bekerja, tidak aku pendam sendirian, tapi aku mencoba ceritakan kepada seseorang baru yang hadir dalam hidupku. Dia memberikan jawaban yang bisa menenangkan hatiku, dia mengajarkan aku untuk bisa tetap berfikir postif disaat kepalaku terlalu banyak berisikan pikiran yang berlebihan.
Ketika aku bertanya, pernahkah dia merasakan takut, cemas, khawatir akan kehilangan?
"Itu semua kan di luar kontrol kendali kita, jelas susah untuk menolak perpisahan itu. Kita cuma bisa kontrol atas diri kita sendiri. Selamatkan pikiran kamu saja, cari hal-hal yang positif. Mungkin kamu bakalan kehilangan dia.. Tapi ga selamanya kan, masih bisa kontak-kontakan.. Lepas teman kamu, nanti mungkin bisa ada teman baru, tambah lagi pertemanan nya. Memang apa alasan teman kamu ingin resign?"
"Dapat pekerjaan baru. Aku terlalu overthinking.. apa terlalu berlebihan ya sampai merasa takut, cemas, khawatir berlebihan seperti itu? Apakah ada yang salah dalam diri ini tiap kali merasakan fase yg serupa?". sebab aku paling tidak suka mengalami perpisahan.
"Ya nggak juga, yang biasanya setiap hari ketemu, becanda bareng terus tiba-tiba mau pergi, ya pasti ada rasa kehilangan itu manusiawi. Setiap orang punya jalan ceritanya masing-masing. Mungkin temanmu mencari lokasi yang deket, atau mau cari suasana baru, mungkin gajinya kurang sesuai sama kebutuhan dia yg sekarang, mungkin ada juga yang nggak suka sama atasannya. Banyak alasan nya. Saling dukung aja. Kamu merasa kehilangan sekarang, disitu kamu bisa belajar meghargai keberadaan seseorang siapapun nantinya, termasuk aku kan?".
Kalimat terakhir yang buatku terngiang hingga saat ini. "Termasuk Aku". Iya benar, aku baru memasuki fase awal yang entah untuk keberapa kali ini terjadi. Perkenalan. Kenal. Mengenal. Baru kenal. Semuanya berarti sama, ada awal pasti ada akhir. Yang entah kapan sang akhir akan datang, Perpisahan. Lagi-lagi setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup mestilah disertai dengan rasa sabar. Sabar menunggu, sabar menerima, dan sabar untuk hal yang lainnya.
Aku tidak tahu betapa dia kan menjadi sisi positif yang selama ini aku butuhkan. Kalimat yang dia sampaikan dapat mengurangi pikiranku yang selama ini lebih banyak negatif nya. Apa karena dia paham akan psikis orang lain? karena yang kulihat begitu banyak tulisan positif dalam beranda facebook nya. Apakah dia kuliah dalam jurusan psikologi? entah.
Bolehkah aku berkata : "Hei kamu, please jangan datang untuk kemudian pergi ya.."
Kehilangan.. Mencintai Kehilangan dengan rasa "Sabar".. lagi-lagi semua harus dilalui bersamaan dengan Sabar. Puasa belajar sabar. Ingin ini itu, belum bisa meraihnya, ya sabar..
Bekasi, 05 September 2020.
-N.P
Tidak ada komentar:
Posting Komentar