Senin, 03 November 2014

Ajari aku.

Ajari aku.
Melupakanmu disaat cinta ini masih menginginkan hatimu..

Ajari aku.
Menghapuskan jejakmu dalam ruang hati tanpa harus tersakiti..

Ajari aku.
Meredam sorak soraian relung hati yang selalu meneriakkan namamu..

Ajari aku.
Menepis rindu yang kedatangannya tanpa pernah kutahu..

Ajari aku.
Berpura-pura mengecoh hati ini agar getar-getar denyut jantungku tidak berdebar tak berirama saat melihatmu..

Ajari aku.
Berani. Berani menghadapi semua kisah pilu yang sering kali datang tanpa kutahui..

Ajari aku.
Mencintai orang lain yang kan membuatku bisa menganggapmu seperti temanku yang lainnya tanpa harus bedebar jantungku karenamu..

Ajari aku.
Menjadi perempuan yang bisa menjaga jiwa dan naluri hatinya untuk memberitahukan semua perasaannya terhadapmu tanpa kenal rasa malu..

Ajari aku.
Menjadi seseorang yang kuat tanpa harus mengeluh tentangmu..

Ajari aku.
Kumohon ajari aku untuk berhenti mencintaimu. Untuk berhenti menyayangimu. Untuk berhenti menangis karena rindu padamu.

Jika aku bisa, melakukan semual hal yang aku pinta darimu untuk mengajarkan semua itu. Aku tak perlu meminta darimu.
Aku tak memintamu mengerti diriku, aku hanya meminta bantuanmu.
Aku tak ingin lagi terjebak dalam rasaku.
Aku tak ingin menambah luka hatiku.
Aku tak ingin menjadi perempuan bodoh yang tak tahu malu.
Aku tak ingin kembali menghancurkan hidupku.

Dahulu.
Sama seperti dahulu ketika aku membiarkan "hatiku" dilukai oleh pengkhianatan orang terdekatku.
Lalu, aku biarkan kembali hatiku terluka karena mengalah terhadap sepupuku..
Saat cinta ku bersemai indah bersama dengan dia, namun tuhan tidaklah mengijinkan aku tuk bersamanya.
Aku tak memintamu membayangkan menjadi diriku kala itu.
Aku hanya ingin menuliskan betapa hatiku meringis karna kubiarkan terluka.
Sulit rasanya merelakan dia yang baru saja mengobati luka hatiku.
Namun aku bukanlah seseorang yang egois, tanpa memikirkan perasaan orang lain.
Aku mengalah.
Aku pergi.
Entahlah, luka ini semakin menjadi ketika orang lain berusaha memanaskan hati ini dengan menyiramkan air garam. Perih.
Aku tak berdaya.
Menangis sepanjang malampun tak ada gunanya.
Masih menganga..
Hingga akhirnya aku bertemu denganmu.
Yang secara perlahan menyusun satu demi satu kepingan hatiku yang patah karna terluka.
Dalam diam.
Aku merasakan cinta itu dalam diamku.
Aku tak berani memberi tahu.
Hingga kau pun akhirnya tahu semua rasaku.
Tak terasa, dua tahun tujuh bulan kubiarkan hatiku mengikuti inginnya.
Walau lelah, dia tetap berdiri disana.
Mencintaimu walau perih yang terasa.
Merindumu meski tak pernah ku adu.
Hingga ia memintamu mengajarinya melupakanmu.
Kesulitan terbesar dalam menjalani proses "ingin melupakan" dan "berhenti" ialah karena ia masih sangat menyayangimu.
Percayakah kau akan apa yang dirasakan "hati" ini?
Sekali lagi, aku tidak memintamu mengerti.
Aku hanya ingin menuliskan isi dalam hati ini.
Kau tahu, aku adalah perempuan pengecut yang selalu bersembunyi dibalik tulisan..
Aku berharap, aku bisa membantu hati ini mengikuti langkah kakiku.
Pergi menjauh tanpa mengganggu hidupmu.
Atau bahkan menyakitimu.
Akupun berharap waktu kan berpihak padaku, membantuku melewati hari tanpa berpikir tentangmu..

Maafkan hati ini, yang mengatakan bahwa dia masih sangat menyayangimu....


Menjelang tengah malam.
03 November 2014.

♡ Rull..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar